Kriminal
Share this on:

Korban Demo DPR Tewas Sesak Napas, Bukan Dianiaya

  • Korban Demo DPR Tewas Sesak Napas, Bukan Dianiaya
  • Korban Demo DPR Tewas Sesak Napas, Bukan Dianiaya

JAKARTA - Seorang juru parkir di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat meninggal dunia saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/DPD/MPR, Rabu (25/9) lalu. Polisi menyebut korban meninggal karena sesak nafas. Sementara keluarga menyebut ada luka lebam di tubuh korban.

Adalah Maulana Suryadi, seorang juru parkir berusia 23 tahun yang meninggal dunia saat demo pelajar dan mahasiswa pada Rabu (25/9). Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menegaskan, korban meninggal bukan karena tindak kekerasan saat ikut unjuk rasa. Korban meninggal setelah sebelumnya mengalami sesak napas.

Argo mengatakan, Maspupah, sang ibunda korban sudah melihat langsung jenazahnya di RS Polri dan tak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. "Jadi begini, untuk almarhum Maulana ibu kandungnya (Maspupah) itu sudah mendatangi RS Polri Kramat Jati. Dia sudah melihat jenazahnya, dan yang bersangkutan melihat tidak ada lebam-lebam maupun benda keras tidak ada. Jadi, ibunya sudah ngecek sendiri," ujar Argo, Jumat (4/10) kemarin.

Untuk memastikan bahwa korban meninggal bukan akibat kekerasan, Dijelaskan Argo, Maspupah kemudian membuat surat pernyataan di atas materai Rp 6.000, yang menyatakan almarhum punya riwayat penyakit sesak nafas. Artinya, bukan karena kekerasan apapun di aksi unjuk rasa.

"Saya kira ini pengakuan orangtuanya, dan dari surat itu keluarga juga tidak mau diautopsi," ucap Argo.

Saat ditanya mengenai uang Rp10 juta yang diberikan kepolisian untuk mengurus jenazah, Argo pun tak menyangkalnya. "Saya kira boleh ya, sebagai bentuk duka," tuturnya.

Meninggalnya Maulana karena sesak nafas dikuatkan Kepala Instalasi Forensik Rumah Sakit Polri Kramat Jati Kombes Edi Purnomo. Dia menyampaikan tak ada ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Maulana. Dan diakuinya, korban meninggal karen sesak napas.

"Kita tidak temukan ada tanda kekerasan pada tubuh korban). Korban meninggal, karena sesak nafas)," ujar Edi saat dikonfirmasi terpisah wartawan.

Namun, beda dengan pengakuan Maspupah saat ditemui wartawan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Maspupah mengatakaan kabar meninggal Maulana diperolehnya pada Kamis (26/9) malam. Dia mengapu mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai polisi dan minta alamat rumah.

Tak lama kemudian, dua unit mobil dengan delapan anggota kepolisian mendatangi rumahnya. "Ngabarin Bu sabar ya Bu Maulana Suryadi sudah enggak ada. Saya langsung merasa nyesak sampai nangis. Terus saya diajak ke Rumah Sakit Polri. Tapi di jalan saya ditawari makan ke restoran, saya pikir sudah sampai, adiknya ini curiga, kok polisi bukan buru-buru anter ke rumah sakit," katanya.

Sampai di rumah sakit, Maspupah melihat anaknya telah terbujur kaku. Dia dan adiknya melihat ada bekas luka lembar dari perut hingga ke kepala. "Saya disuruh buat surat pernyataan kalau Yadi meninggal karena sakit asma dan kena gas air mata. Lalu dibawa pulang. Polisi yang tadi awalnya ikut, tapi tiba-tiba hilang. Saya dikasih duit katanya buat keperluan pemakaman, saya nggak utang, sampai rumah itu ada Rp 10 juta," katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Ari Fahrial Syam menyarankan dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian Maulana. Setelah diautopsi, akan diketahui apakah darah yang keluar dari telinga dan hidung korban itu disebabkan adanya trauma atau tidak.

"Iya (penyebabnya) harus dipastikan. Sebenarnya, kalau mau diautopsi baru tau jawabannya," ujarnya.

Menurut Ari, sesak nafas yang berujung pada keluarnya darah bisa disebabkan banyak hal. Pertama bila korban mengalami trauma dada. Misalnya dada terbentur dan menimbulkan pendarahan di dalam rongga dada, sehingga korban sesak napas.

Hal lainnya, korban menderita radang paru-paru atau pneumonia. Menurutnya, pneumonia bisa menyebabkan gangguan pada pendarahan. "Darah yang mengalir dari tubuh jenazah mungkin saja terjadi. Hal itu, karena masih adanya sisa-sisa trauma yang terjadi pada korban," katanya. (mhf/zul/gw/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Dibombardir Israel, 18 Orang Tewas di Gazza

Dibombardir Israel, 18 Orang Tewas di Gazza

Sedikitnya 18 warga meninggal dunia, akibat serangan udara Israel ke Gaza sejak dilancarkan, Selasa (12/11) dini hari waktu setempat.


Markus Nari Pikir-pikir Ajukan Banding

Markus Nari Pikir-pikir Ajukan Banding

Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta memvonis mantan anggota Komisi II DPR Markus Nari enam tahun penjara.


Tentara Terluka, Warga Sipil Tewas

Tentara Terluka, Warga Sipil Tewas

Satu prajurit TNI terluka dan satu warga tewas dalam insiden di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, Sabtu (9/11) lalu.


Dituntut Tujuh Tahun, Bowo Sidik Terancam Dicabut Hak Politiknya

Dituntut Tujuh Tahun, Bowo Sidik Terancam Dicabut Hak Politiknya

Mantan anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso hukuman tujuh tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider enam bulan kurungan.


Revisi KUHP Akan Disosialisasikan sebelum Dipalu

Revisi KUHP Akan Disosialisasikan sebelum Dipalu

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan segera mensosialisasikan Rancangan KUHP dan Rancangan Undang-Undang tentang Pemasyarakatan yang sempat ditolak masyarakat.


RKUHP Harus Dicabut Bukan Ditunda

RKUHP Harus Dicabut Bukan Ditunda

Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) ditolak banyak kalangan, karena sejumlah pasal dianggap kontradiktif dengan situasi yang terjadi.


Hari Ini Idham Azis Dilantik sebagai Kapolri

Hari Ini Idham Azis Dilantik sebagai Kapolri

Rapat Paripurna DPR RI, Kamis (31/10) kemarin, menyetujui Kabareskrim Polri tersebut menjadi orang nomor satu di korps Bhayangkara.


KPK Klarifikasi Pernyataan Fahri Hamzah

KPK Klarifikasi Pernyataan Fahri Hamzah

KPK mengklarifikasi sejumlah pernyataan mantan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dalam wawancara yang diunggah kanal YouTube Deddy Corbuzier, Sabtu (26/10) lalu.


Markus Nari kaget Dituntut Sembilan Tahun Penjara

Markus Nari kaget Dituntut Sembilan Tahun Penjara

Mantan Anggota Komisi II DPR Markus Nari dituntut sembilan tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan.


Enam Polisi Pembawa Senjata Diputus Bersalah

Enam Polisi Pembawa Senjata Diputus Bersalah

Polri memberi sanksi enam polisi anggota Polres Kendari, Sulawesi Tenggara yang membawa senjata api saat mengawal demo mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) di



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!