Kriminal
Share this on:

Korban Sodomi Guru Honorer jadi 41 Siswa

  • Korban Sodomi Guru Honorer jadi 41 Siswa
  • Korban Sodomi Guru Honorer jadi 41 Siswa

AMORAL - Wawan Sutiono (kenakan topeng) saat konferensi pers tentang kejahatannya di Mapolresta Tangerang. (tumpak m tampubolon/indopos)

TANGERANG - Polresta Tangerang membuka posko pengaduan terhadap kasus sodomi anak di bawah umur yang dilakukan Wawan Sutiono alias Babeh (49), yang kini mendekam ditahanan. Pasalnya, jumlah korban aksi bejat guru honorer SD di Kecamatan Rajeg ini terus. Bahkan kini sudah 41 anak yang melapor.

Akibatnya, KPAI meminta kepolisian memberikan hukuman kebiri kepada pelaku. Kapolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pembukaan posko pengaduan kasus cabul itu guna menampung pengaduan para korban sodomi oleh Wawan Sutiono yang dipastikan jumlahnya terus bertambah.

”Sampai hari ini (Jumat, Red) yang melapor 16 orang, kalau kemarin (Kamis) ada 25 orang, jadi totalnya 41 orang. Kami yakin masih banyak lagi korban yang akan melaporkan aksi bejat Wawan ini. Makanya kami buka posko pengaduan. Kasus ini sangat memprihatinkan,” tegasnya kepada indopos (Jawa Pos Group) saat konferensi pers di Mapolresta Tangerang, kemarin.

Dari total 41 anak yang jadi korban sodomi Wawan Sutiono, baru 29 anak yang telah menjalani visum di RSUD Balaraja. Mereka adalah JM, 12; RH, 12; RT, 6; RA, 12; HB, 11; MMF, 10; IR, 13; RMS, 11; AA, 7; NES, 15; dan MS, 11.

Lalu, TAR, 10; MR, 8; DF, 12; MF, 10; MW, 12; ARH, 13; WWN, 10; MA, 12; IKL, 13; MRI, 8; JHN, 15; FMS, 11; MFA, 10; NSH, 12; RR, 12; KOM, 10; AM, 13; dan MKH, 8. Sedangkan 12 anak lagi sedang menjalani proses visum dan pengumpulan keterangan.

”Rata-rata korbannya usia 6 sampai 15 tahun. Kebanyakan bocah lelaki dan tinggal di Kecamatan Rajeg. Ada juga tiga orang kakak beradik yang menjadi korban sodomi pelaku. Semua masih melakukan visum dan memberikan keterangan kepada penyidik di Unit PPA,” paparnya.

Selain menjalani visum, Listyo juga mengungkapkan, para korban sodomi guru honorer SD ini pun mendapatkan perlakukan khusus. Salah satunya, menggunakan pemeriksaan psikolog. Hal itu kata dia, untuk menjaga kerahasiaan para korban aksi bejat pelaku.

”Kami tidak mau, pemeriksaan ini psikis mereka terganggu. Jadi kami mintai keterangan mereka seperti diajak curhat saja. Jangan sampai korban merasa resah dan terintimidasi karena takut sama polisi,” ungkapnya.

Dari hasil tes kejiwaan, kata Listyo juga, Wawan Sutiono tidak mengalami gangguan jiwa alias normal. Sang guru ini pun tidak mengalami gangguan seksualitas alias penyuka sesama jenis. Hal itu dibuktikan dari beberapa rangkaian pertanyaan yang dilakukan tim penyidik bersama dua psikolog yang di datangkan.

”Jadi memang pelaku ini sangat mencari sensasi seks saat istrinya menjadi TKW ke Malaysia,” cetusnya juga.

Atas perbuatannya, tersangka Pasal 82 UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi menyatakan, kasus sodomi yang dilakukan Wawan bukanlah kasus baru di Tanah Air. Munculnya kasus tersebut karena tidak adanya perhatian orang tua serta pemerintah daerah terhadap perlindungan anak.

”Dalam melindungi anak memang diperlukan keterlibatan orang satu kampung. Karena dari kebanyakan kasus kekerasan seksual, pelakunya adalah orang dekat atau yang dikenal oleh korbannya. Inilah yang tidak dilakukan serhingga kasus serupa terus bermunculan,” katanya.

Untuk itu, Seto berharap agar semua pihak memberikan perhatian dan perlindungan pada korban pelecehan seksual dan sodomi. Menurutnya, para korban butuh pertolongan untuk melupakan trauma. Bila tidak, para korban akan melakukan hal serupa dikemudian hari untuk membalaskan sakit hati masa lampau.

”Penyembuhan secara psikologis sangat diperlukan oleh korban. Juga kepada pelaku agar bisa ditindak tegas dengan ancaman hukuman yang membuat pelaku tidak mengulanginya lagi,” paparnya.

Terpisah, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra menambahkan hukuman kebiri pantas diberikan kepada Wawan. Mengingat sodomi yang dilakukan guru honorer ini membuat psikis para korbannya terguncang hebat.

Bahkan, trauma yang dirasakan para korban ini akan menurunkan rasa percaya diri untuk bersosialisasi kepada masyarakat. ”Ini membuat para korban cemas, dan bahayanya para korban ini tidak mau ketemu dengan orang lain,” ujarnya.

Apalagi, korban aksi bejat ini mencapai 41 anak-anak yang berstatus pelajar. Menurut Jasra, hukuman suntik kebiri kepada pelaku sodomi patut diberikan karena para korban kasus seperti ini di duga akan terus bertambah.

Apalagi hukuman itu telah disahkan dalam UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Suntik Kebiri. Ditambahkan Jasra, KPAI berharap Pemkab Tangerang perlu melakukan edukasi kepada masyarakat dan anak-anak terkait kejahatan sodomi tersebut. (cok/jpg)

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Pergoki Pencuri, Korban Minta Tidak Dibunuh

Pergoki Pencuri, Korban Minta Tidak Dibunuh

Kawanan pencuri mulai bergerilya. Mencari di rumah kosong yang ditinggal mudik penghuninya, termasuk ditinggal salah tarawih.


Butuh Uang Sekolah, Siswa SMK Njambret

Butuh Uang Sekolah, Siswa SMK Njambret

Tak punya uang untuk bayar uang Sekolah, siswa SMK Hofiuddin nekat menjambret handphone (HP) milik Siti (14), siswi SMP.


Gadaikan Mobil Orang Lain, Oknum Guru Diringkus

Gadaikan Mobil Orang Lain, Oknum Guru Diringkus

Polres Blora meringkus oknum guru PNS di SDN Ngaringan, Grobogan kemarin.


Cemburu, Siswa SMK Otaki Pengeroyokan

Cemburu, Siswa SMK Otaki Pengeroyokan

Gara-gara ceweknya naksir orang lain, oknum pelajar SMK di Kabupaten Rembang berbuat nekat. Dia mengeroyok Wahyu Mustofa (27).


Kebingungan Terlilit Utang, Kenalan pun Dirampok

Kebingungan Terlilit Utang, Kenalan pun Dirampok

Pelaku dan korban saling kenal. Namun, Agus Talim (30), warga Desa Panjang Kecamatan Bae Kabupaten Kudus tetap nekat.


Korban Dukun Cabul Bertambah

Korban Dukun Cabul Bertambah

Korban dukun cabul berinisial HB (46), warga Mandumpang, Kecamatan Suro, yang mengelabui warga Aceh Singkil mampu meramal jodoh.


Ikut Konvoi, Anak Putus Sekolah Bacok Korban Pakai Pedang

Ikut Konvoi, Anak Putus Sekolah Bacok Korban Pakai Pedang

RO (17), pelaku pembacokan Ahmad Fatoni, siswa XII MA Miftahul Ulum Kayen dikenai dua pasal pidana.


Hendak Kabur ke Jakarta, Pelaku Pembacokan Siswa SMA Dibekuk

Hendak Kabur ke Jakarta, Pelaku Pembacokan Siswa SMA Dibekuk

Pelaku pembacokan saat konvoi perayaan kelulusan SMA sederajat di Pati ternyata bukan pelajar. Rohman alias Maman ini telah bekerja.


Pelaku Pembacokan Siswa SMA Masih Dicari

Pelaku Pembacokan Siswa SMA Masih Dicari

Ahmad Fatoni, korban pembacokan saat konvoi kelulusan SMA sederajat, Jumat (4/5) lalu, semakin membaik.


Hanya Dituntut Delapan Tahun, Kelurga Korban Tak Terima

Hanya Dituntut Delapan Tahun, Kelurga Korban Tak Terima

Keluarga korban pengeroyokan berujung pembunuhan Anang Tri Hidayat tidak terima.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!