Kriminal
Share this on:

Menteri PPA Menangis di Depan Pelaku Bullying Audrey

  • Menteri PPA Menangis di Depan Pelaku Bullying Audrey
  • Menteri PPA Menangis di Depan Pelaku Bullying Audrey

PONTIANAK - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise tak kuasa menahan air matanya saat bertemu dengan tiga tersangka kasus bullying Audrey di Ruang Kerja Pemkot, kemarin. Ketiganya ia rangkul erat.

Ia juga menyampaikan kesedihannya atas kejadian tersebut. Ia prihatin akan kondisi para pelaku yang masih dibawah umur harus berhadapan dengan hukum. Kepada ketiganya, Yohana berjanji akan tetap menjamin hak-hak mereka sebagai anak terpenuhi.

"Kalian ini masih punya masa depan. Jadikan pelajaran kejadian ini dan jangan sampai diulangi. Mama Yo ini ibu dari seluruh anak di Indonesia, kalian juga anak-anak Mama Yo," kata Menteri Yohana sambil menitikan air mata.

Menurut Yohana, hak anak harus diutamakan, baik anak sebagai korban maupun anak sebagai pelaku. Mulai dari pemulihan psikis, hingga hak untuk tetap mendapatkan pendidikan. Di sisi lain, Menteri Yohana juga menilai perilaku ABH merupakan akibat dari penggunaan gawai berlebihan.

"Negara menjamin dan melindungi hak-hak kalian. Kalian tetap harus bersekolah. Kalau ada kampus yang menolak kalian bersekolah, laporkan ke saya. Mama Yo pesan, hindari penggunaan gadget berlebihan, ini akibat dari penggunaan gadget dan media sosial yang berlebihan. Tugas utama kalian itu belajar," tambah Menteri Yohana sesaat sebelum menutup pertemuan sembarimemeluk kembali ketiga pelaku dibawah umur tersebut.

Dalam pertemuan bersama Walikota Pontianak Edi Rusdi, Yohana menegaskan bahwa kasus kekerasan anak di Pontianak harus diupayakan diversi. Menurutnya, kika ancaman hukuman dibawah 7 tahun, maka penyelesaian kasus harus diupayakan diversi.

"Pengalihan penyelesaian perkara anak diluar peradilan pidana. Menggunakan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Para pelakunya kan masih usia anak. Tidak akan sama hukumannya dengan kasus pidana orang dewasa," terang Yohana.

"Kedatangan saya di sini disebabkan oleh dua hal. Pertama untuk memastikan hak anak terpenuhi berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak. Kedua, untuk memastikan kasus ditangani secara khusus menggunakan UU SPPA dalam penyelesaiannya," tambahnya.

Terkait perkembangan kasus, hasil visum menunjukkan tidak terjadi kekerasan berat yang dialami pada fisik korban. Rencannya, pihak Polres Pontianak akan melakukan mediasi dan upaya diversi ke 3, setelah 2 kali sebelumnya sempat menemui jalan buntu. Jika upaya kembali gagal, Yohana mengharapkan pihak kejaksaan yang menangani kasus di peradilan nantinya tetap mengedepankan UU SPPA.

Di Rumah Sakit Promedica Pontianak, Yohana bertemu dengan korban Audrey (14). Mereka juga sempat bernyanyi bersama. Ia berharap korban bisa segera pulih dan kembali bersekolah. Saat berbincang dengan keluarga dan kuasa hukumnya, Kemen PPPA akan mengawal kasus ini hingga tuntas dan menjamin hak-hak A dapat terpenuhi, terutama upaya pemulihan.

"Kita telah mengirimkan Tim Pendamping koordinasi penanganan kasus sejak 10 April 2019," jelasnya.

Sementara, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengajak semua pihak untuk menahan diri. Baik korban maupun pelaku dimintanya untuk sama-sama memahami ini sebagai suatu ujian untuk semuanya sehingga semua masalah ini bisa diselesaikan. "Kita lakukan upaya-upaya hukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, yakni diversi," tuturnya.

Menurut Edi, kasus ini menjadi pembelajaran semua pihak, Ia meminta peran aktif orang tua, pihak sekolah dan masyarakat untuk mengawasi perkembangan anak. "Anak-anak juga perlu diberikan pemahaman tentang literasi digital dan dampak yang ditimbulkan dari dunia digital," pungkasnya. (rls/fin/zul/tgr)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Satgas Diinstruksikan Tembak di Tempat Pelaku Pembakaran Hutan

Satgas Diinstruksikan Tembak di Tempat Pelaku Pembakaran Hutan

Polri diminta untuk lebiih tegas dan berani dalam menindak para pelaku pembakar hutan, baik itu perorangan maupun korporasi.


Satgas Antimafia Bola Polri Dihiidupkan Lagi

Satgas Antimafia Bola Polri Dihiidupkan Lagi

Satgas Antimafia Bola kembali dibentuk untuk mengungkap kasus-kasus sepakbola Tanah Air dalam enam bulan ke depan.


MK Gelar Sidang Putusan Sengketa Pileg Pekan Depan

MK Gelar Sidang Putusan Sengketa Pileg Pekan Depan

Gugatan sengketa hasil pemilihan legislatif (Pileg) 2019 memasuki babak akhir. Pekan depan, Mahkamah Konstitusi (MK) akan menggelar sidang pembacaan putusan.


Lagi, WNI Terlibat Peredaran Narkoba di Malaysia

Lagi, WNI Terlibat Peredaran Narkoba di Malaysia

Kepolisian Malaysia berhasil membongkar kasus peredaran narkoba senilai total 1,75 juta Ringgit atau setara Rp5,9 miliar, dari tangan sembilan pelaku.


Menlu Panggil Dubes Cina JAKARTA -

Menlu Panggil Dubes Cina JAKARTA -

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memanggil Duta Besar Cina di Jakarta, Xiao Qian.


Suap Dana Hibah KONI Seret Sesmenpora

Suap Dana Hibah KONI Seret Sesmenpora

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto, Jumat (27/7).


KPK Tunggu Pertimbangan Hakim untuk Jerat Lukman

KPK Tunggu Pertimbangan Hakim untuk Jerat Lukman

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak menutup kemungkinan jerat Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.


Cek DNA Bomber Gereja, Polri Koordinasi Polisi Filipina

Cek DNA Bomber Gereja, Polri Koordinasi Polisi Filipina

Identitas pasangan suami-istri (pasutri) pelaku bom bunuh diri di gereja Kathedral di Pulau Jolo, Filipina berhasil diungkap Polri.


 Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Filipina, ternyata Pasutri WNI

Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Filipina, ternyata Pasutri WNI

Polri menyatakan dua pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina, 27 Januari lalu, adalah warga negara Indonesia (WNI).


Pejabat Boleh Keluar Negeri, tapi Dibatasi

Pejabat Boleh Keluar Negeri, tapi Dibatasi

Pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menegasakan tidak akan menghambat izin kepala daerah ke luar negeri.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!