Kriminal
Share this on:

Penangkapan Eggi Sah, Tapi Terkesan Politis

  • Penangkapan Eggi Sah, Tapi Terkesan Politis
  • Penangkapan Eggi Sah, Tapi Terkesan Politis

JAKARTA - Aparat kepolisian Ditreskrimum Polda metro Jaya akhirnya menangkap aktivis pembela Ulama, Eggi Sudjana usai diperiksa, pada Senin (13/4), terkait dugaan kasus makar. Polisi mengklaim penangkapan Eggi sesuai aturan perundang-undangan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, penangkapan Eggi dilakukan pasca diperiksa bukan saat proses pemeriksaan sebagai tersangka kasus makar. Dan surat itu pun sudah ditandatangani olehnya.

"Kita lakukan sesuai aturan, dan berita acara penangkapan itu juga sudah ditandatangani oleh yang bersangkutan, pada Selasa tanggal 14 Mei 2019 pukul 06.25 WIB," jelas Argo kepada media di Polda Metro Jaya, Selasa (14/5) kemarin.

Menurut Argo, penangkapan Eggi ini dilakukan guna memudahkan pemeriksaan terhadapnya atas dugaan kasus yang menjeratnya. Adapun dari penangkapan ini, penyidik akan memutuskan apakah Eggi ditahan atau tidak setelah proses pemeriksaan intensif selama 1 x 24 jam.

"Sejak semalam sudah diperiksa, dan kita juga cek kesehatannya juga. Dan sejak pagi tadi lagi, dia pun kembali diperiksa intensif. Dan penyidik mempunyai waktu 24 jam untuk menentukan apakah tersangka ditahan atau tidak," ujar Argo.

Lebih jauh, dari informasi yang diterima, Eggi ditangkap berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor: SP.Kap/1012/V/2019/Ditreskrimum tertanggal 14 Mei 2019. Argo menyebut, kalau surat pemberitahuan penangkapan itu memang sempat dibacakan saat Eggi diperiksa.

"Jadi, bukan saat diperiksa melainkan setelah diperiksa baru dilakukan penangkapan," tegas Argo.

Argo mengungkapkan, alasan dari penangkapan Eggi tersebut karena penyidikSubdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya menemui kendala saat hendak memeriksa Eggi Sudjana sebagai tersangka makar, yakni lantaran Eggi semoat menolak diperiksa sebagai tersangka.

"Saudara Eggi Sudjana kan sudah dipanggil ya sebagai tersangka untuk dimintai keterangan oleh penyidik dan kemarin Senin yang bersangkutan datang jam 16.30 WIB. Kemudian menyampaikan kepada penyidik bahwa yang bersangkutan menolak untuk diperiksa," ungkap Argo.

Penolakan Eggi itu, kata Argo, disampaikan dengan beberapa alasan kepada penyidik. Diantaramya, karena dia tengah mengajukan praperadilan atas status tersangkanya, kemudian menyampaikan profesinya sebagai advokat, sehingga ada kode etik yang mengikatnya.

Namun penolakan Eggi ini tidak berlanjut lama. Eggi akhirnya bersedia diperiksa sebagai tersangka selepas magrib."Setelah buka puasa atau magrib, yang bersangkutan datang kembali guna dapat diperiksa. Dan penyidik senang hati menerima beliau dan memeriksa sebagai tersangka," jelasnya.

Argo menambahkan, dalam proses pemeriksaan ini dia memastikan Eggi tetap mendapatkan hak-haknya sebagai tersangka."Kita memberikan hak-hak mereka sebagai tersangka, baik memberikan waktu untuk sembahyang, makan, kita berikan semua. Dan pengacara mendampingi," tambahnya.

Adapun penangkapan Eggi pun diprotes keras tim kuasa hukum Eggi. Pitra Romadoni mengakui, ada kejanggalan atas penangkapan kliennya. Dia menyebut, hal ini aneh mestinya tidak perlu ditangkap karena kliennya pun tak akan melarikan diri.

"Penangkapan ini aneh, hingga beliau belum diperbolehkan pulang sejak dibacakan (diberi) surat penangkapannya oleh petugas kepolisian," kata Pitra kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (14/5) kemarin.

"Sangat janggal dan aneh sekali, masa penangkapan di ruangan penyidik. Kalau yang namanya penangkapan kan biasanya di luar daripada ruang penyidik. Ini nggak ada yang mau lari, dia kooperatif, dia tidak pernah menghindar dari pernyataan-pernyataan penyidik," sambung Pitra.

Terpisah pakar hukum pidana, Shalih Mangara Sitompul saat dikonfirmasi menyebut, penangkapan Eggi dinilai sah-sah saja kalaupun memang polisi sudah memiliki dua alat bukti yang cukup. Tapi, tentu harus dilakukan secara objektif bukan karena ada pengaruh apapun.

"Silakan saja, jika memang ada dua alat bukti yang cukup menangkapnya. Jangan sampai terkesan malah ada istilah untuk membungkam tokoh-tokoh oposisi. Polri harus profesional dan objektif dalam menerapkan aturan hukum. Karena, saya menilai kasus ini terkesan bermuatan politik," ucap Shalih kepada Fajar Indonesia Network. (mhf/gw/zul/fin)

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Pasal Makar Lebih Beruansa Politis

Pasal Makar Lebih Beruansa Politis

Pasal makar menjadi senjata ampuh untuk membungkam siapapun yang berseberangan dengan pemerintah yang sah.


Penahanan Eggi Sudjana Terlalu Dipaksakan

Penahanan Eggi Sudjana Terlalu Dipaksakan

Tersangka dugaan makar Eggi Sudjana akhirnya dijebloskan ke jeruji besi terhitung, sejak Selasa (14/5) sekitar pukul 23.00 wib, hingga 20 hari ke depan.


Penangkapan Sah, Gugatan Praperadilan Rommy Kandas

Penangkapan Sah, Gugatan Praperadilan Rommy Kandas

Hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan Agus Widodo memutuskan penangkapan Romahurmuziy alias Rommy oleh KPK adalah sah secara hukum.


Dianggap Politis, Polisi Garap Bachtiar Nasir lewat Dua Alat Bukti

Dianggap Politis, Polisi Garap Bachtiar Nasir lewat Dua Alat Bukti

Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menetapkan mantan Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir sebagai tersangka.


Manfaatkan Jalur Laut,137 Kg Sabu Asal Malaysia Terendus

Manfaatkan Jalur Laut,137 Kg Sabu Asal Malaysia Terendus

Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipid Narkoba) Bareskrim mengungkapkan penangkapan 14 orang tersangka kasus narkotika yang memiliki 137 kg sabu.


Koruptor Harus Dipenjara Super Maximum

Koruptor Harus Dipenjara Super Maximum

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai gerah. Ini terkait dengan kebijakan pelaku korupsi yang dipernjara tapi bisa seenaknya keluar masuk bui.


Dicecar 116 Pertanyaan, Pemeriksaan Egy Belum Rampung

Dicecar 116 Pertanyaan, Pemeriksaan Egy Belum Rampung

Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya kembali mengagendakan pemeriksaan Eggi Sudjana sebagai saksi terlapor kasus dugaan makar (people power).


Kabar Penangkapan Pelaku Penusukan Ternyata Hoax

Kabar Penangkapan Pelaku Penusukan Ternyata Hoax

Berita penangkapan pelaku penusukan warga Desa Jojo, Mejobo, yang beredar di media sosial (medsos) ternyata bohong.


Kenalan di FB, Ponsel dan Uang Dibawa Kabur

Kenalan di FB, Ponsel dan Uang Dibawa Kabur

Meski kasus penipuan di media sosial (medsos) kerap terjadi, tapi masih banyak terjadi.


Duh... Masih ABG tapi Jago ‘Bongkar’ Rumah Kos

Duh... Masih ABG tapi Jago ‘Bongkar’ Rumah Kos

Seorang anak baru gede (ABG) putus sekolah dibekuk polisi usai merayakan tahun baru.



Berita Hari Ini

Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!