Kriminal
Share this on:

Penyusup Aksi Demo Ibukota Dibayar Rp20-40 Ribu

  • Penyusup Aksi Demo Ibukota Dibayar Rp20-40 Ribu
  • Penyusup Aksi Demo Ibukota Dibayar Rp20-40 Ribu

JAKARTA - Sebagian kelompok penyusup pada aksi demo mahasiswa dan pelajar berujung rusuh di depan Gedung DPR/DPD/MPR, Senin (30/9), berhasil diungkap polisi. Meski demikian Polri tetap memburu siapa otak dibalik para penyusup tersebut.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, pihaknya sampai saat ini terus mendalami dan menyelidiki pihak-pihak atau kelompok penyusup yang masuk ke massa aksi mahasiswa maupun pelajar. Polri akan mendalami untuk mengetahui tujuan dan target menciptakan kerusuhan di ibukota.

"Ya sudah kita lakukan pengamanan baru di Jakarta Utara. Dan sudah dirilis juga 36 pelakunya. Dan mereka diketahui, menyusup dengan menggunakan seragam sekolah dan itu kita ketahui ketika dibuka bajunya, ternyata tatoan semua," kata Dedi di Mabes Polri, Selasa (1/10).

"Mereka akui, dibayar bervariasi, antara 20-40 ribu untuk melakukan aksinya. Selain itu, mereka pun telah disiapkan sejumlah bom molotov dalam rangka menciptakan unjuk rasa massa mahasiswa dan pelajar itu menjadi rusuh," ungkap Dedi.

Dedi menegaskan, dari kasus tersebut pihaknya hingga kini terus berupaya mencari dan dalami lagi kelompok serupa yang dipastikan terlibat di setiap unjuk rasa beberapa hari kemarin. Pihaknya kini tengah memintai keterangan 649 orang yang diamankan jajaran Polda Metro Jaya, Senin (30/9) lalu.

"Tentunya dari 649 orang ini akan didalami lagi, untuk proses penyelidikan dan penyidikan terhadap keterlibatan kelompok perusuh tersebut, sehingga nanti dengan berbagai alat bukti yang ditemukan penyidik pun bisa tetapkan status hukumnya jadi tersangka," jelasnya.

"Dan untuk status mereka ini, penyidik pun akan melakukan klasifikasi hukumnya sesuai dengan perbuatan masing-masing, seperti siapa yang melakukan penyerangan kepada petugas, siapa yang melakukan 170, melakukan pembakaran dan lain sebagainya," sambung Dedi.

Dedi mengatakan proses hukum terhadap orang-orang dari kelompok penyusup ini bukan berhenti sampai di situ. Tapi nanti akan dicari second line di atasnya. Termasuk perannya sebagai koordinator, atau sebagai pendana.

"Selain itu bisa saja, sebagai yang berperan menyiapkan mungkin bahan untuk digunakan alat buat melakukan kerusuhan. Itu semua akan di dalami," ucap Jenderal bintang satu ini kepada para awak media.

Sejauh ini, diakui Dedi, hasil proses pemeriksaan dan informasi sementara yang diterima indikasi kuat dari motif dan tujuan kelompok tersebut akan gagalkan pelantikan DPR/MPR. Jika pelantikan tersebut berhasil digagalkan, impact turunannya menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

"Jadi itu yang tidak dikehendaki oleh rakyat Indonesia, karena semuanya sudah berjalan secara konstitusional. Jangan dilakukan tindakan inkonstitusional yang akan rugikan bangsa dan negara. Intinya, proses berlanjut dan apabila sudah clear penanganan baru akan kita sampaikan," ujarnya.

"Dan perlu disampaikan juga, yang jelas kami tetap menggunakan azas praduga tidak bersalah dalam setiap penanganan kasus, karena menjadi pedoman seluruh penyidik kepolisian. Kita akan profesional dan transparan menyampaikan kepada msyarakat," tambahnya.

Terkait analisa kepolisian terhadap cara dan pola dari kelompok perusuh, Dedi menyebut sangat mudah dibaca petugas. Awalnya damai dipastikan berakhirnya pun damai, sebaliknya demikian.

"Jadi, mitigasi kita itu pendekatan ketika demo. Kalau asalnya damai, Insya Allah berakhir damai. Dan dipastikan tidak ada korban, tidak ada kerusakan, dan tidak akan membuat masyarakat resah dengan kondisi seperti ini. Tapi, kalau mengarah kepada tindakan kerusuhan bisa dipastikan timbul korban, dan timbul kerusakan yang cukup masif dan merugikan semua pihak," terangnya.

Dedi menambahkan, saat ini masyarakat Jakarta tak menginginkan demo berujung rusuh. Sebab kerusuhan akan membawa banyak dampak, mulai dari kemacetan dan aktifitas lainnya terganggu. "Apalagi gara-gara unjuk rasa rusuh juga ganggu central perekonomian. Ini perlu dievaluasi dan kita pun akan semaksimal mungkin untuk melibatkan seluruh komponen, bersama-sama masyarakat agar tidak terprovokasi," urainya.

Dedi juga menyebut pihaknya akan melakukan evaluasi pengamanan unjuk rasa. Dia berharap banyak mendapat masukan dari berbagai pihak untuk melakukan pengamanan unjuk rasa yang berujung kerusuhan. Termasuk evaluasi terkait langkah penegakan hukum secara tegas kepada perusuh yang tidak menutup kemungkinan terjadi.

"Kami sebagai aparat kepolisian itu sudah berusaha semaksimal mungkin, dan kita tahu tidak boleh menghadapi pendemo ini dengan menggunakan senjata, apalagi peluru tajam. Kita hanya berusaha menggunakan tongkat, tameng, kemudian water canon dan gas air mata. Itu saja guna menghadapi perusuh," pungkasnya. (mhf/zul/gw/fin)

Berita Sebelumnya

Masih Bandel, Cabut Izinnya!
Masih Bandel, Cabut Izinnya!

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Wiranto Ditusuk, Sudah 22 Terduga Teroris JAD Ditangkap

Wiranto Ditusuk, Sudah 22 Terduga Teroris JAD Ditangkap

Sebanyak 22 terduga teroris dari kelompok Jamaah Ansorut Daulah (JAD) ditangkap terkait aksi penikaman Menko Polhukam Wiranto.


Jelang Pelantikan, Komplek Parlemen Dijaga 30 Ribu TNI-Polri

Jelang Pelantikan, Komplek Parlemen Dijaga 30 Ribu TNI-Polri

Kurang lebih 30 ribu personel gabungan TNI dan Polri untuk mengamankan prosesi pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.


Indikasi Daya Rusak Tewroris Menurun

Indikasi Daya Rusak Tewroris Menurun

Aksi penikaman terhadap Menko Polhukam Wiranto mengindikasikan daya rusak kelompok teroris di Indonesia semakin menurun.


Ada Indikasi Penyiksaan, Usut Tuntas Kematian Demonstran

Ada Indikasi Penyiksaan, Usut Tuntas Kematian Demonstran

Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi mendesak Polri untuk mengusut kematian sejumlah peserta aksi demonstrasi menolak rancangan undang-undang (RUU) bermasalah d


Jalan Desa Diblokade, Bupati Tenangkan Warga

Jalan Desa Diblokade, Bupati Tenangkan Warga

Warga Desa Nolokerto Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal menggelar aksi demo dengan memblokade jalan masuk ke desanya, Kamis (10/10) kemarin.


Ancaman Pembunuhan Pejabat Itu Terbukti

Ancaman Pembunuhan Pejabat Itu Terbukti

Publik dikejutkan oleh aksi penusukan Menkopolhukam Wiranto oleh orang tak dikenal di Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (10/10) kemarin.


Enam Polisi Pembawa Senpi Demo Kendari Segera Disidang

Enam Polisi Pembawa Senpi Demo Kendari Segera Disidang

Tim Investigasi Polri masih mendalami tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Sultra, Randi dan M Yusuf saat demo menolak RUU KPK dan RUU KUHP di


Korban Demo DPR Tewas Sesak Napas, Bukan Dianiaya

Korban Demo DPR Tewas Sesak Napas, Bukan Dianiaya

Seorang juru parkir di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat meninggal dunia saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/DPD/MPR, Rabu (25/9) lalu.


Penembak Mahasiswa Demo di Kendari Mulai Terungkap

Penembak Mahasiswa Demo di Kendari Mulai Terungkap

Hasil investigasi Polri dalam mengungkap tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), saat demo di depan Gedung DPRD


380 Peserta Demo DPR Jadi Tersangka, 179 Ditahan

380 Peserta Demo DPR Jadi Tersangka, 179 Ditahan

Total sebanyak 1.489 orang, yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, dan warga sipil diamankan karena diduga sebagai perusuh dalam aksi demo di depan Gedung DPR/DP



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!