Kriminal
Share this on:

Said Iqbal Akui Diminta Ratna Sarumpaet Bertemu Prabowo

  • Said Iqbal Akui Diminta Ratna Sarumpaet Bertemu Prabowo
  • Said Iqbal Akui Diminta Ratna Sarumpaet Bertemu Prabowo

JAKARTA - Sidang atas drama hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (9/4) kemarin. Ada empat saksi yang dihadirkan oleh JPU, namun hanya ada dua saksi yang hadir dalam sidang itu, yakni Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, dan satu saksi atas nama Ruben, sedangkan dua saksi yang tidak hadir yakni Chairulah dan Harjono.

Sebelum masuk ke ruang sidang, Said Iqbal mengaku, ia adalah salah satu korban korban dari hoaks Ratna Sarumpaet. Ia pun menyatakan kekecewaanya yang mendalam terhadap Ratna atas dampak yang ditimbulkanya saat ini. "Intinya saya ingin katakan, baik Pak Amien (Amien Rais), Mba Nanik (Naniek S Deyang), Mas Dahnil (Dahnil Simanjuntak) maupun saya, yang selama ini (keterangan) sudah tertuang di berita acara sebagai saksi di Polda Metro, adalah korban kebohongan dari Ratna Sarumpaet yang tidak kami tahu dari awal," jelasnya.

Masuk pada agenda sidang, aktivis buruh ini mulai memberi keterangan lebih detail. Said mengaku, orang pertama kali yang mendatangi Ratna mengenai peganianayaan yang menimpanya. Karena, tak tahun dibohong, Said langsung bergegas menemui usai jadi pembicara di program tv swasta.

Ratna menelpon sambil terisak menangis, kamu harus datang karena kakak dianiaya. Saya pun minta taksi belok ke kiri ke arah Tebet. Saya terima telpon itu tanggal 28 September 2018 melalui telpon dari stafnya bernama Saharudin, ungkap Said saat bersaksi di persidangan.

Setibanya di Rumah Ratna, Said mendengarkan cerita bohong yang dibuat Ratna dengan seksama. Dalam ceritanya, Ratna mengaku dianiaya oleh orang tak dikenal di Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Masih kata Said, dalam pertemuan itu Ratna minta tolong untuk dapat dipertemukan dengan Prabowo Subianto, untuk menceritakan, apa yang diceritakan kepadanya soal kebohongan penganiayaan tersebut. Ini mengingat Said memang punya hubungan baik dengan Prabowo.

Kak Ratna meminta untuk ada pertemuan dengan Pak Prabowo. Karena itu sudah malam jadi besok paginya baru saya menelpon ajudan pak Prabowo. Bahkan katanya Pak Fadli juga sudah mengatur pertemuan antara Ratna dengan Prabowo, terang Said lagi.

Dalam pertemuan iut, Ratna memberinya tiga foto Namun kebetulan, handphone dia mati dan cuma melihat dari Handphone Ratna. "Saat itu, Kak Ratna menunjukan gambar. Dia bilang itu saya akan kirimkan ke kamu, Hp saya mati, lalu Sabtu pagi baru di buka," ucapnya.

Majelis Hakim pun melontarkan pertanyaan kepada Said Iqbal mengenai kondisi wajah Ratna saat pertemuan itu. Said mengatakan bahwa kondisi wajah Ratna telah membaik. "Kalau foto itu lebam ya, siapa pun yang lihat pasti shok. Sepanjang yang lihat tidak ngerti ya tapi kondisi realnya ketika bertemu sudah relatif lebih baik," jawab Said.

Majelis Hakim kembali mempertanyakan foto yang didapatkan dari Ratna itu diteruskan ke orang lain. Said pun menjawab, kalau tiga foto itu hanya diteruskan ke ajudan Prabowo Subianto bernama Dhani. Itu pun karena diminta Ratna, bukan inisiatif Said sendiri. "Tidak, kecuali Ka Ratna meminta untuk disampaikan ke ajudan," kata Said lagi.

Selanjutnya, Said juga memberikan kesaksian terkait soal calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang sempat memberikan tiga pesan ke terdakwa. Tiga pesan itu disampaikan Prabowo dalam pertemuan di Lapangan Polo, 2 Oktober 2018 lalu.

"Pak Prabowo belum tahu soal kebohongan yang dibuat Ratna saat mengirim pesannya, satu dari pesannya, sebaiknya lapor polisi dan laporakan visum. Kedua, tidak boleh ada kekerasan dalam demokrasi, Demokrasi harus sama dan adil. Ketiga, Kalau memang ada kekhawatiran laporan tidak ada tanggapan dari Polisi, pak Prabowo bersedia bertemu dengan Kapolri," ungkap Said.

Menurut Said, saat tiga pesan Prabowo itu dia pun berada bersama Ratna. Dan reaksi Ratna kala itu hanya diam ketika dapat tiga pesan tersebut. Said mengaku tak tahu soal pembicaraan antara Ratna dan Prabowo. "Saya melihat ka Ratna hanya banyak diam terima pesan, dan soal pembicaraan dengan pak Prabowo saya nggak tahu. Karena saya telat sedikit, tapi itu begitu mengalir aja. Saya gak tau," tuturnya.

Sementara, satu saksi lain atas nama Ruben mengakui, ikut menerima foto-foto lebam mantan anggota Badan pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi tersebut. Dan lantaran itu, dia dan rekannya atasnama Deden datang ke rumah Ratna sambil memperlihatkan poto tersebut.

"Saya beritahukan ke Deden (soal foto muka lebam). Saya bilang ini apa ini? Gitu aja. Saya lupa itu jawabannya (Deden) seperti apa. Makanya dia suruh kita datang ke tempat Bu Ratna untuk lihat," kata Ruben saat bersaksi di persidangan

Saat mendengar keterangan itu, Ratna Sarumpaet membantah tegas jika ia tak pernah mengirimkan foto ke Ruben. Dan menyebut, saksi hanya seorang penipu dan mungkin punya kebiasaan menipu uang-uang kecil. "Saya nggak pernah kirim foto itu," sambungnya.

Ruben kemudian menanggapi sanggahan Ratna, terkait tuduhan Ratna tak pernah mengirim foto keapdanya. Dia mengatakan siap membuktikan karena foto diklaim tersimpan dalam handphone yang disita polisi. Ruben saat ini ditahan terkait kasus dugaan penipuan. "Kalau kita bisa lihat HP dari Polda bisa kita lihat itu," jawa Ruben.

Selepas sidang berakhir, Ratna pun menanggapi hasil sidang lanjutan tersebut. Dan dia kembali menegaskan, satu saksi atas nama Ruben itu merupakan narapidana karena kasus penipuan. "Yang namanya Ruben itu dia sudah tahanan sekarang. Dan kesaksiannya tidak benar," tegas Ratna.

Berkaitan soal keterangan saksi said Iqbal. Ratna mengaku merasa puas dengan keterangannya. Dan apa yang disampaikan di pengadilan itu sudah berdasarkan fakta."Kesaksian Said Iqbal benar. (Sudah sesuai fakta) iya," kata Ratna.

Sebagai informasi, Ratna dijerat Pasal 14 ayat (1) UU No. 1 Thn 1946 ttg Peraturan Hukum Pidana atau dakwaan kedua pasal 28 ayat (2) jo 45A ayat (2) UU No 19 Thn 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Thn 2008 ITE. Ratna didakwa telah membuat keonaran melalui berita bohong yang dibuatnya. (mhf/fin/zul/tgr)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Satgas Diinstruksikan Tembak di Tempat Pelaku Pembakaran Hutan

Satgas Diinstruksikan Tembak di Tempat Pelaku Pembakaran Hutan

Polri diminta untuk lebiih tegas dan berani dalam menindak para pelaku pembakar hutan, baik itu perorangan maupun korporasi.


WNI di Hongkong Diminta Jauhi Lokasi Demonastrasi

WNI di Hongkong Diminta Jauhi Lokasi Demonastrasi

Konsulat Jenderal RI di Hong Kong mengimbau, seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang terjebak di Bandara Internasional Hong Kong agar tetap tenang.


Kasus Menu Makanan Youtuber Rius Vernandes Diminta Damai

Kasus Menu Makanan Youtuber Rius Vernandes Diminta Damai

Kasus menu makanan yang ditulis pihak maskapai Garuda Indonesia berujung masalah hukum diminta diselesaikan secara kekeluargaan.


Diragukan Keamanannya, Amerika Selidiki Viralnya Aplikasi FaceApp

Diragukan Keamanannya, Amerika Selidiki Viralnya Aplikasi FaceApp

FBI dan Komisi Perdagangan Federal (FTC) diminta melakukan penyelidikan keamanan dan privasi nasional pada FaceApp,


Terkait Suap Idrus Marham ke Pengawal Tahanan, KPK Harus Evaluasi Diri

Terkait Suap Idrus Marham ke Pengawal Tahanan, KPK Harus Evaluasi Diri

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta berbenah. Menjadi lembaga antirasuah bukan berarti tak ada pengawasan dari instansi lain.


MA Kembali Tolak Permohonan Prabowo-Sandi

MA Kembali Tolak Permohonan Prabowo-Sandi

Permohonan kasasi terkait pelanggaran administrasi Pemilu (PAP) yang diajukan capres dan cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kembali ditolak Mahkamah Agung (


Nasib Rizieq Syihab Tak Disinggung

Nasib Rizieq Syihab Tak Disinggung

Lebih dari 1 jam Joko Widodo dan Prabowo Subianto bertemu. Keduanya terlibat banyak perbincangan.


Vonis Ratna Sepertiga Tuntutan JPU

Vonis Ratna Sepertiga Tuntutan JPU

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhi vonis 2 tahun penjara terhadap Ratna Sarumpaet, Kamis (11/7) lalu.


Permohonan Tim Hukum Prabowo-Sandi ke MA Bukan Kasasi

Permohonan Tim Hukum Prabowo-Sandi ke MA Bukan Kasasi

Tim Hukum Prabowo-Sandi menyangkal membuat permohonan kasasi ke Mahkamah Agung (MK).


Tak Ada UU Larang Polri dan Jaksa Ikut Seleksi KPK

Tak Ada UU Larang Polri dan Jaksa Ikut Seleksi KPK

Pansel capim KPK diminta kerja keras untuk melahirkan sosok pimpinan lembaga anti rasuah yang berkualitas.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!