Kriminal
Share this on:

Seorang Terduga Teroris Adalah Pengusaha Sawit yang Ahli Intelijen

  • Seorang Terduga Teroris Adalah Pengusaha Sawit yang Ahli Intelijen
  • Seorang Terduga Teroris Adalah Pengusaha Sawit yang Ahli Intelijen

JAKARTA - Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menerangkan kelompok terlarang ini bisa tetap eksis, setelah membaiat Para Wijayanto yang merupakan ahli bidang intelijen pada tahun 2002. Para ditunjuk sebagai amir untuk menggantikan Zarkasih, pemimpin sebelumnya yang tertangkap Densus 88.

"Pembaitan PW ini setelah kelompok ini resmi dibubarkan tahun 2007. Adapun setelah dibaiat sebagai Amir itu pula dia berjuang membuat JI di Indonesia tetap eksis dan besar lewat upaya-upaya perekrutan sejumlah anggota," ujar Dedi.

Di antara upayanya itu, kata Dedi, sosok yang pernah menjadi koordinator Al-Qaidah Asia Tenggara ini mengunakan cara berdakwah untuk menularkan doktrin mendirikan negara Islam. Dakwah ini sudah didalami sejak duduk di bangku kuliah pada 1982 sampai 1989.

"Jadi, sosok PW ini memang dikenal dengan kecerdasannya, bahkan memiliki pendidikan tinggi dengan mengambil kuliah jurusan teknik sipil di salah satu Universitas negeri di Indonesia, dan dia juga dikenal karismatik lantaran kecerdasannya itu," kata Dedi.

Menurut Dedi, nama Para Wijayanto mencuat bersamaan dengan tragedi bom Bali tahun 2002. Dan disebut-sebut dekat dengan gembong teroris asal Malaysia, Noor Din M. Top. Dia juga pernah akan ditangkap tahun 2003, dimana rumahnya sempat digeledah di Kompleks Perumahan Muria Indah RT 03/07 Desa Gondangmanis Kecamatan Bae Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Namun gagal.

Tak heran bila kemudian Polri menetapkan dan memasukannya ke dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buronan kasus terorisme. Pelariannya pun terhenti pada Minggu (30/6). Dedi menerangkan, Dia tercatat mulai terjun ke kelompok radikal itu, sekitar 19 dari tahun 2000.

Diawali dengan mengikuti kursus militer tiga bulan di Moro, Filipina tahun 2000, hingga setahun kemudian mencarikan persembunyian bagi anggota JI asal Singapura. Sementara itu, dia juga pernah terlibat serangkaian kasus teror, seperti bom Natal di Poso, bom Kedubes Australia, dan bom Bali I.

"Dan tercatat pula, dia pernahmenjadi informan untuk kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah. Lalu, yang bersangkutan juga aktif ketika terjadi kerusuhan di Poso 2005 sampai 2007. Hal ini karena dia memiliki kemampuan intelijen, dan memberikan masukan-masukan kepada kelompok MIT untuk mensuplai senjata pada 2007," jelasnya.

Tidak sampai di situ, diakui Dedi, Para Wijayanto juga diduga mengetahui adanya penyimpanan 1 ton bahan peledak di Sukoharjo, Jawa Tengah yang dimiliki kelompok teroris pimpinan Badri Solo. Kasus itu berhasil diungkap Densus 88 pada 2012.

Terakhir, Dedi menambahkan, selama menjadi pimpinan tertinggi kelompok JI di Indonesia, Para sukses merekrut banyak anggota untuk dikirim mengikuti perang di Suriah. "Dia mengirim para anggotanya itu ke Suriah dari 2013 lalu, hingga 2018. Dan tercatat sudah sampai 6 gelombang yang dikirimnya dengan membiayai seluruh administrasi maupun akomodasi para rekrutannya tersebut," ungkapnya.

Saat ditanya bagaimana pelaku mampu membiayai semua itu, Dedi menyebut, Para Wijayanto itu punya kehidupan ekonomi mumpuni. Bahkan, punya dua perkebunan kelapa sawit di daerah Sumatera dan Kalimantan.

Dan sebelumnya, dia juga pernah bekerja di zejumlah perusahaan dengan jabatan mentereng, yakni mwnjadi General Manager Human Resource Development, kemudian pernah jadi Manager Divisi Repro/Freepers, Manager Divisi Engineering, dan Manager Teknik Development Centre.

"Seperti yang tadi saya katakan, dengan sisi intelektual dia memiliki kecerdasan dan kompetensi. Dengan kemampuan yang bersangkutan juga dia memiliki kompetensi merakit bom, kemampuan intelijen, hingga kemampuan militer lainnya. Karena cukup komprehensif itu pula dibaiat sebagai Pimpinan JI," pungkasnya. (mhf/gw/zul/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Kirim Red Notice, Polisi Terbitkan DPO Veronica Koman

Kirim Red Notice, Polisi Terbitkan DPO Veronica Koman

Mabes Polri telah melakukan gelar perkara terkait kasus yang menjerat tersangka penyebaran hoaks Asrama Mahasiswa Papua, Veronica Koman.


Uang Suap Nahrawi Mengalir ke Pihak Lain

Uang Suap Nahrawi Mengalir ke Pihak Lain

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami aliran uang suap yang diterima oleh mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi yang diduga ke


KPK Sudah Selamatkan Uang Negara Rp28,7 Triliun di 2019

KPK Sudah Selamatkan Uang Negara Rp28,7 Triliun di 2019

Berapa uang negara yang sudah diselamatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sepanjang tahun 2019 ini? Ternyata cukup fantastis.


Buronan Korupsi Disparbudpora Pidie Ditangkap

Buronan Korupsi Disparbudpora Pidie Ditangkap

Tim Intelijen dan Tim Pidsus Kejaksaan Negeri Pidie, Aceh menangkap buronan H. Arifin bin Rahmad, Rabu (18/9) lalu.


Terlibat Kasus Curanmor, Otak Kerusuhan Papua Ditangkap

Terlibat Kasus Curanmor, Otak Kerusuhan Papua Ditangkap

Tim gabungan Polda Papua kembali meringkus diduga dalang atau aktor intelektual kasus kerusuhan yang terjadi di Tanah Papua, beberapa waktu lalu.


ICW Siapkan Judicial Review ke MK

ICW Siapkan Judicial Review ke MK

Pemerintah dan DPR RI mempersilakan masyarakat yang tidak puas atas revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, dapat menggugatnya ke Mahkamah Konstitusi (MK).


Potensi Sumber Daya Laut Indonesia Banyak yang Dicuri

Potensi Sumber Daya Laut Indonesia Banyak yang Dicuri

Potensi sumber daya laut Indonesia saat ini banyak yang dirampok oleh oknum dari dalam dan luar negeri.


228 Orang dan 5 Korporasi Tersangka Karhutla

228 Orang dan 5 Korporasi Tersangka Karhutla

Ancaman Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mencopot Kapolda hingga Kapolsek yang tidak mampu menangani kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta menang


Kejagung Belum Terima SPDP Dugaan Korupsi Rp250 Miliar di BTN

Kejagung Belum Terima SPDP Dugaan Korupsi Rp250 Miliar di BTN

Perkara dugaan tindak pidana korupsi pembobolan Bank BTN yang diduga bernilai Rp250 miliar masih terus dikembangkan penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi da


Indonesia Diminta Cabut Status Tersangka Veronica Koman

Indonesia Diminta Cabut Status Tersangka Veronica Koman

Sekelompok ahli independen di bawah naungan Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR) mendesak pemerintah Indonesia mencabut, status te



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!