Kriminal
Share this on:

Tak Puas Dilayani, ABG Nekad Habisi Nyawa Pemandu Karaoke

  • Tak Puas Dilayani, ABG Nekad Habisi Nyawa Pemandu Karaoke
  • Tak Puas Dilayani, ABG Nekad Habisi Nyawa Pemandu Karaoke

DIKELER - DCP, bocah di bawah umur, diringkus aparat Polrestabes Semarang tanpa perlawanan, Sabtu (15/9) dinihari. (adityo dwi/jawa pos radar semarang)

SEMARANG - DCP (16), bocah di bawah umur dari Babankerep Kecamatan Ngaliyan ini nekad membunuh Ayu Sinar Agustin alias Ninin, lantaran merasa tak mendapatkan pelayanan seks yang memuaskan. Ninin merupakan Pemandu Karaoke (PK) di Argorejo gang 3 Resos Argorejo alias Sunan Kuning Kelurahan Kalibanteng Kulon Semarang Barat.

Atas perbuatannya, DCP diringkus aparat Polrestabes Semarang tanpa perlawanan, Sabtu (15/9) sekitar pukul 02.00 dinihari tadi. Saat ini, tersangka masih mendekam di ruang tahanan Mapolsek Semarang Barat guna menjalani pemeriksaan dan proses hukum selanjutnya.

Kapolsek Semarang Barat, Kompol Donny Eko Listianto menjelaskan penangkapan tersangka atas dasar ditemukanya perempuan tidak bernyawa di kompleks Argorejo, Kamis (13/9) sekitar pukul 14.30. Dari hasil penyelidikan dan pengembangan, pelakunya merupakan pria yang menjadi tamu korban.

"Modusnya, pelaku melakukan kencan atau berhubungan intim. Namun sudah dilatarbelakangi rasa jengkel sejak sebulan sebelumnya, yakni saat pelaku melakukan kencan namun kecewa dengan pelayanan korban," ungkapnya, saat gelar perkara di Mapolsek Semarang Barat.

Sedangkan kronologis kejadian ini, tersangka semula datang dari rumah tinggalnya mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter warna merah maron bernopol H 5164 TY menuju kompleks Sunan Kuning, Rabu (12/9) sekitar pukul 23.30. Setelah itu, tersangka langsung parkir di halaman Wisma Classic, kemudian masuk ke dalam dan menyambangi kamar korban.

"Setelah bertemu dengan korban, terjadi tawar menawar hingga akhirnya sepakat membayar Rp100 ribu sekali kencan. Lalu tersangka dan korban melakukan hubungan (intim, red)," bebernya.

Namun sebelum berhubungan intim, korban hanya melayani oral. Namun tersangka tidak kunjung ejakulasi, kemudian mengajak berhubungan intim. Ajakan inipun dituruti korban hingga akhirnya ejakulasi. "Setelah melakukan hubungan, korban menagih pembayaran kepada tersangka. Namun, tersangka mengajak lagi berhubungan, tapi ditolak karena korban hanya membawa uang Rp100 ribu. Sedangkan korban mintanya Rp200 ribu," katanya.

Tersangka yang terus didesak untuk memberikan tambahan dan uangnya hanya Rp100 ribu, akhirnya merasa jengkel. Persoalan yang tadinya hanya adu mulut, berujung keributan.

Kemudian tersangka mencekik korban dengan tangan kanan, namun korban melakukan perlawanan. Korban mencakar mata dan leher serta mendapat gigitan di tangan bagian telunjuk dan jari manis.

"Korban yang berteriak, tersangka langsung mencekik serta membungkam muka korban menggunakan bantal kurang lebih 5 sampai 10 menit. Sehingga korban tidak berdaya dan kehabisan oksigen hingga akhirnya meninggal," bebernya.

Setelah tersangka memastikan korban meninggal dunia, ia langsung mengambil oli di dalam botol yang sudah ia bawa. Kemudian ia siramkan ke tubuh korban dari mulai kaki sampai ke wajah. Kemudian tersangka meninggalkan tempat tersebut untuk kabur.

"Pelaku sudah mempersiapkan oli bekas yang dibawa dengan botol kemasan air minum, lebih dari 1 liter dengan maksud untuk menghilangkan jejak sidik jari yang pelaku tinggalkan disitu. Harapannya supaya tidak bisa dilacak oleh polisi," bebernya.

Setelah itu, tersangka keluar dari kamar dan kabur menggunakan kendaraannya. Namun, tersangka juga mengambil barang milik korban berupa handphone merek Vivo. "Barang bukti sudah kami amankan. Ada kendaraan milik tersangka, helm, kaos warna hitam yang dipakai tersangka dan handphone milik korban," jelasnya.

Dari perbuatanya ini, tersangka dijerat pasal 365 ayat 2, dan atau 338 pasal 340 KUHP, terkait pencurian, kekerasan dan pembunuhan. Ancaman hukuman sampai dengan 15 tahun penjara. "Kami akan proses hukum dengan cepat, karena tersangka masih di bawah umur," imbuhnya. (mha/ida/jpg)

Berita Sebelumnya

Pencuri Sekolahan Diamankan Polisi
Pencuri Sekolahan Diamankan Polisi

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Menag ke Luar Negeri, Gubernur Jatim Ada Rapat

Menag ke Luar Negeri, Gubernur Jatim Ada Rapat

Menag dan Gubernur Jatim Tak Penuhi Panggilan Sidang Tipikor sebagai saksi, Rabu (19/6) kemarin.


Ombudsmen Soroti Temuan Sel Tahanan Kejagung Tak Terkunci

Ombudsmen Soroti Temuan Sel Tahanan Kejagung Tak Terkunci

Ombudsmen Republik Indonesia menemukan 52 pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam pelayanan publik selama libur Lebaran 2019.


Patroli Siber Tak Sasar Seluruh WAG

Patroli Siber Tak Sasar Seluruh WAG

Polri memastikan tidak melakukan patroli siber ke seluruh Whatsapp Group (WAG) terkait berita hoaks.


Modus Anyar, Sabu Disimpan di Pulau Tak Berpenghuni

Modus Anyar, Sabu Disimpan di Pulau Tak Berpenghuni

Bandar narkotika terus mencoba berbagai cara menyelundupkan barang haram.


Romy Akui Keterlibatan Lukman

Romy Akui Keterlibatan Lukman

Mantan Ketua Umum PPP Romahurmuzy alias Romy tak menyangkal kemungkinan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terlibat kasus dugaan suap di Kemenag.


Buronan Pajak Fiktif Disergap di Hotel

Buronan Pajak Fiktif Disergap di Hotel

Lukmanul Hakim (54) tak bisa berbuat banyak ketika tim Intelijen Kejaksaan Agung (Kejagung) membekuknya.


Usai Diperiksa KPK, Periksa Dirut Pertamina Tak Banyak Bicara

Usai Diperiksa KPK, Periksa Dirut Pertamina Tak Banyak Bicara

Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati diperiksa tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Prabowo Tak Bisa Dipidana

Prabowo Tak Bisa Dipidana

Polda Metro Jaya menerbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) terhadap Prabowo Subianto yang kemudian ditarik kembali.


Penuntasan Kasus BLBI Tak Tentu Arahnya

Penuntasan Kasus BLBI Tak Tentu Arahnya

Indonesia Corruption Watch (ICW) menyoroti kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI).


Komnas HAM Kumpulkan Data Kematian Ratusan Petugas TPS

Komnas HAM Kumpulkan Data Kematian Ratusan Petugas TPS

Ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) bertumbangan. Tidak hanya sakit, banyak di antara mereka sampai kehilangan nyawa.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!