Lokal
Share this on:

Bunta Benti Cara Unik Warga di Pamulihan, Brebes Panggil Hujan

  • Bunta Benti Cara Unik Warga di Pamulihan, Brebes Panggil Hujan
  • Bunta Benti Cara Unik Warga di Pamulihan, Brebes Panggil Hujan

KESENIAN – Warga Desa Pamulihan Kecamatan Larangan Kabupaten tegal menggelar kesenian bunta benti untuk memanggil hujan, akhir pekan lalu. (eko fidiyanto/radar brebes)

BREBES - ”BUNTA... benti... aja lalilali laki..., si gondrong si loron loron..., si loron si paman santri..., nurunaken udan..., pa riek riek kewes pa lenggok lenggok pantes...”. Begitulan syair alunan lagu yang mulai dilantunkan dengan iringan musik tradisional berupa kendi dan sepotong bambu.

Sementara aroma khas kemenyan dan setanggi dari dupa yang begitu kuat menambah kesan magis dan sakral. Syair yang dilantunkan bak mantra mengiringi gerak lincah boneka yang terbuat dari sendok sayur atau irus.

Bunta Benti atau sebagian orang menyebut Benta Benti adalah kesenian yang berkembang di beberapa desa yang ada di Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Di Desa Pamulihan dan Sitanggal Kecamatan Larangan, kesenian tersebut dipercaya masyarakat memanggil hujan kala musim kemarau.

Pada Minggu malam lalu (12/11), lenggak-lenggok bunta bunti yang berbentuk sebuah jaelangkung dipertunjukkan seorang pawang. Penonton berjejal mengitari tempat pertunjukan di halaman rumah Runtah (55), warga Desa Pamulihan yang menjadi pawang bunta benti.

Kesenian tersebut merupakan tradisi warisan budaya leluhur yang tidak bisa dijumpai sewaktu-waktu. Kesenian itu akan muncul bila musim kemarau terlalu panjang dan warga sudah mulai kesulitan mendapatkan air.

”Bunta benti sudah ada semenjak saya kecil, dan waktu kakek saya muda pun sudah ada. Jadi saya tidak tahu sejak kapan kesenian ini ada, karena tidak ada catatan sejarah,” kata Runtah.

Di tengah pertunjukan, bunta benti akan berjalan berkeliling menghampiri penonton, yang merupakan warga setempat. Jika ada yang berkata tidak baik atau memperolok bunta benti, maka bunta benti akan memukul penonton yang memperoloknya.

”Saya tidak tahu yang saya rasakan, tiba-tiba tangan dan kaki terasa berat seperti ditarik-tarik. Kita seperti disuruh untuk mengikuti gerakan bunta benti, setelah itu badan terasa capek dan lemas,” tambahnya.

Pertunjukan yang biasanya dilaksanakan malam hari menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Ada yang butuh hiburan atau sekadar nonton untuk bercanda dengan bunta benti.

”Terus terang kalau saya menonton Bunta Benti untuk iseng. Kesenian ini merupakan kearifan local, karena masih dipercaya masyarakat untuk memanggil hujan,” kata Kasiwen (48), warga setempat.

Sementara itu, Taswan (30), sebagai warga setempat yang juga tokoh pemuda tak mempersoalkan kesenian tersebut. Ada yang menganggap kesenian itu kurang baik, karena mengandung unsur magis.

”Kami sebagai generasi muda tak mempersoalkan kesenian ini, terlepas dari hal magis atau lainnya. Kita harus menghargai dan mengapresiasi kesenian sebagai kekayaan dan kearifan lokal. Toh tujuannya baik sama-sama memohon pada sang pencipta agar segera diturunkannya hujan,” ungkapnya.

Di akhir acara, Bunta Benti akan dimasukan ke dalam bak air. Kemudian mandi. Terakhir akan menyemburkan air kesegala penjuru, sambil diiringi teriakan penonton hujan gede, hujan gede.

”Bunta benti merupakan warisan budaya leluhur kita dan harus menjaga serta melestarikan agar tidak punah sebagai kekayaan akan budaya Indonesia,” pungkasnya. (eko/fat/zul)


Berita Sejenis

Jempol, 211.465 Warga Kota Tegal Sudah Tercover Jaminan Kesehatan

Jempol, 211.465 Warga Kota Tegal Sudah Tercover Jaminan Kesehatan

Angka kepesertaan jaminan kesehatan warga Kota Tegal terbilang cukup tinggi.


Terminal Lama Bumiayu Akan Dijadikan Jalur Penyelamat

Terminal Lama Bumiayu Akan Dijadikan Jalur Penyelamat

Pemerintah Kabupaten Brebes akan segera membangun jalur penyelamat sebagai upaya antisipasi terjadinya kecelakaan yang diakibatkan rem blong.


Trauma Kecelakaan Maut, Warga Halau Truk Bertonase Berat

Trauma Kecelakaan Maut, Warga Halau Truk Bertonase Berat

Insiden kecelakaan truk maut di jalur utama Tegal-Purwokerto ruas Bumiayu-Paguyangan menyulut kekecewaan masyarakat.


Tol Brebes-Pemalang Diuji, Penerangan dan Rambu-rambu Masih Kurang

Tol Brebes-Pemalang Diuji, Penerangan dan Rambu-rambu Masih Kurang

Tol Brebes-Pemalang rencananya akan dioperasionalisasikan saat mudik tahun ini.


Sopir Truk Maut Dirawat di RSUD Brebes dengan Tangan Diborgol

Sopir Truk Maut Dirawat di RSUD Brebes dengan Tangan Diborgol

Pratomodiyanto (48), sopir truk maut, yang merenggut 12 korban jiwa dalam kecelakaan di Jalan P Diponegoro Desa Jatisawit Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes.


Korban Tewas 12 Orang, Sopir Truk Maut Selamat

Korban Tewas 12 Orang, Sopir Truk Maut Selamat

Jumlah korban tewas kecelakaan maut di Jalan Raya Purwokerto-Tegal Desa Jatisawit Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes, Minggu (20/5) sore menjadi 12 orang.


Begini Kesaksian Warga saat Truk Tabrak 18 Motor dan 7 Rumah di Bumiayu

Begini Kesaksian Warga saat Truk Tabrak 18 Motor dan 7 Rumah di Bumiayu

Kecelakaan yang terjadi di Jalan Raya Tegal-Purwokerto, Desa Jatisawit Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes, Minggu (20/5) sore.


Kontainer Blong, Tujuh Tewas

Kontainer Blong, Tujuh Tewas

Kecelakaan terjadi di Jalan Raya Tegal-Purwokerto, Bumiayu, Kabupaten Brebes, Minggu (20/5) sore.


Ada Dua Titik Rest Area di Tol Brebes-Pemalang yang Dilengkapi ATM

Ada Dua Titik Rest Area di Tol Brebes-Pemalang yang Dilengkapi ATM

Jalur tol antara Brebes-Semarang rencananya akan mulai digunakan saat mudik tahun ini.


Sandiaga Uno Minta Pasokan Bawang Merah Brebes 120 Ton Per Hari

Sandiaga Uno Minta Pasokan Bawang Merah Brebes 120 Ton Per Hari

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meminta pasokan bawang merah dari petani di Kabupaten Brebes sebanyak 120 ton per hari



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!