oleh

Diduga Kasar ke Konsumen, WOM Finance Dipolisikan

SLAWI – WOM Finance dilaporkan ke Polres Tegal, Rabu (12/2). Laporan dilakukan oleh Organisasi Masyarakat (Ormas) Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Tegal. Laporan itu mendasari aduan dari anggotanya, Wicaksono,35, warga Desa Kajen Kecamatan Lebaksiu mengenai adanya konsumen WOM Finance yang telah mendapatkan perlakuan kasar dari kolektor leasing tersebut.

Akibatnya, istri konsumen mengalami keguguran kandungannya.

Semula, sejumlah anggota PP akan menggeruduk kantor WOM Finance yang berlokasi di Jalan Raya Karanganyar, Dukuhturi Kabupaten Tegal pada Rabu (12/2).

Kabar itu disikapi anggota Polres Tegal dengan melakukan penjagaan ketat di depan kantor tersebut. Namun, hingga siang, massa ormas tidak ada yang datang.

Informasi yang diperoleh, ormas PP langsung menuju ke Polres Tegal untuk melaporkan masalah tersebut.

“Kami sudah melaporkan kasus ini ke Polres Tegal,” kata Ketua Badan Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (BPPH) Majelis Pimpinan Cabang (MPC) PP Kabupaten Tegal Putra Fajar Sunjaya.

Dia mengungkapkan, informasi yang diperoleh anggotanya yakni dugaan kekerasan dari kolektor saat menagih tunggakan angsuran motor beberapa bulan lalu. Kolektor WOM Finance berinisial Al datang ke rumah konsumen dengan membawa orang berpenampilan kekar. Kemudian kolektor kedua berinisial Dv. Mereka diduga memberikan tekanan yang mengakibatkan istri konsumen yang sedang mengandung keguguran.

“Pertama yang nagih Al. Kemudian yang kedua Dv. Mereka mengaku kolektor dari WOM Finance,” ujarnya.

Selain memberikan tekanan, lanjut Fajar, kolektor Dv diduga telah menyebarkan berita ihwal pemukulan yang dilakukan konsumen terhadap ibunya. Berita itu disebarkan di grup Whatsapp (WA). Padahal, pemukulan itu tidak pernah dilakukan oleh konsumen. Pihak konsumen juga sempat mengklarifikasi Dv tentang penyebaran berita itu. Namun, Dv tidak mengakuinya.

“Saya dapat foto informasi itu dari Al. Kemudian saya konfirmasi langsung ke Dv, maksud dari penyebaran informasi itu melalui WA, tapi Dv tidak mengakuinya. Akibat tekanan dari kolektor itu, istri konsumen mengalami keguguran,” kata Fajar yang menirukan perkataan dari Wicaksono.

Kepala WOM Finance Cabang Tegal Arif Sucahyono didampingi Kepala Bagian Penagihan Taufik membantah petugasnya melakukan tindakan kasar dalam penagihan. Petugas di lapangan dibekali dengan etika, dan tidak mungkin melakukan tindakan kasar terhadap konsumen. Dia menjelaskan, penagihan pertama dilakukan bulan Januari 2020 di rumah konsumen di Kajen, Lebaksiu, tapi tidak ketemu dengan konsumen. Penagihan kedua dilakukan pada Sabtu (8/2) di rumah Kajen, dan bertemu dengan ibunya. Ibunya mengarahkan untuk melakukan penagihan di rumah istrinya di Grobog Wetan, Pangkah.

“Pada Minggu (9/2) ke rumah istrinya dan tidak ketemu dengan konsumen. Hanya ketemu kakak iparnya, Lukman,” katanya.

Dia menambahkan, pada Selasa (11/2), konsumen dan kolektor sudah ketemu di RPH Pendawa. Dalam pertemuan itu, konsumen akan melakukan pembayaran tunggakan pada pekan depan, dan akan melakukan pelunasan khusus. Terkait dengan keguguran, histori dua kolektor yang menagih tidak pernah ketemu dengan istri konsumen. Sementara itu, motor masih berada di konsumen, belum ditarik.

“Jika memang sudah dilaporkan ke kepolisian, kami akan mematuhi aturan hukum yang berlaku,” pungkasnya. (yer/ima)

Komentar

Berita Terbaru