• Home
  • Berita Lokal
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar

Lokal
Share this on:

Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar

  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar
  • Eksotika Mangrove Pandansari Juga Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar

BREBES - Eni (33) masih ingat ketika abrasi yang melanda Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes perlahan menyapu rumahnya pada tahun 2000-an. Dia bersama keluarganya pun harus meninggalkan tempat tinggalnya itu.

"Rumah saya hilang kena rob. Jadi harus pindah ke tempat yang lebih aman. Karena seringnya terjadi rob, daerah sini dikenal sebagai daerah Pengasinan karena asin kena rob," katanya kepada radartegal.com, di rumah barunya, Sabtu (6/10).

Abrasi yang menggerus daratan Dukuh Pandansari hingga menghilangkan rumah Eni dan sejumlah rumah tetangganya sudah terjadi sejak 1985 akibat perubahan iklim dan diperparah dengan penjarahan mangrove. Selain rumah warga, abrasi juga menenggelamkan lebih dari 1.000 hektare tambak ikan dan udang yang saat itu menjadi salah satu mata pencaharian warga setempat namun pengelolaannya tak memperhatikan pelestarian lingkungan sekitarnya.

Dukuh Pandansari, kawasan pantai utara Kabupaten Brebes yang dihuni 1.600 jiwa, pada medio itu juga seperti wilayah yang terisolir. Sepi dari aktivitas ekonomi serta pendidikan, akses jalan untuk menuju wilayah itu jauh dari memadai, dan tidak ada aliran listrik ke rumah-rumah warga.

Lantaran kondisi itu, tak sedikit warga, termasuk Eni yang memiliki keinginan untuk pindah meninggalkan Dukuh Pandansari. "Jalannya dulu rusak, masih pakai batu-batu. Listrik tidak ada. Kalau malam penerangan pakai lampu minyak tanah," kenang Eni.

Kondisi tersebut mulai berubah setelah muncul kesadaran dan kepedulian warga untuk merehabilitasi hutan mangrove yang rusak serta habis dijarah dan berakibat pada kerusakan ekosistem. Secara swadaya, sejak 2005 warga gencar menanam pohon-pohon mangrove baru untuk mencegah gelombang pasang laut sampai ke permukiman.

Mereka tak sekedar menanam, tetapi juga merawat dan menjaganya dari tangan-tangan tak bertanggungjawab melalui Satgas Penjaga Segara (Satgara) agar kerusakan tak lagi terjadi. Keseimbangan ekosistem di pesisir Dukuh Pandansari pun perlahan kembali terjaga.

"Sejak tahun 2005 sampai tahun 2010 sudah satu juta batang mangrove yang ditanam. Jumlah itu terus bertambah sampai tahun 2015 dengan bantuan bibit dari berbagai lembaga, LSM dan yayasan," kata Mashadi, pegiat lingkungan di Dukuh Pandansari yang berinisiatif mengajak warga untuk menyelamatkan hutan mangrove di kampungnya dan kemudian aktif melakukan pengelolaan kawasan pesisir, dan pemberdayaan masyarakat setempat.

Keberadaan hutan mangrove yang terselamatkan dan terus dijaga kelestariannya kemudian memunculkan ide untuk mengelolanya menjadi tempat wisata. Pada April 2015, Desa Wisata Mangrove Dukuh Pandansari atau Dewi Mangrove Sari resmi dikukuhkan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Rimbun dan sejuknya hutan mangrove seluas 680 hektare yang memanjang 1,6 kilometer mampu menjadi daya tarik wisatawan dari berbagai daerah yang ingin menepi sejenak dari rutinitas sehari-hari, pegiat lingkungan dan peneliti dari dalam dan luar negeri untuk melaukan konservasi, dan pelajar dari berbagai sekolah untuk belajar tentang pelestarian lingkungan pesisir.

Menurut Mashadi, pada hari biasa rata-rata wisatawan yang datang berkisar 300-500 orang per hari. Pada akhir pekan jumlahnya lebih banyak. Mencapai 1.000 rang per hari.

"‎Tahun pertama yang datang wisatawan lokal. Tahun kedua regional dan mancanegara. Ada juga yang datang untuk melakukan kegiatan konservasi dan penanaman mangrove," ujar Mahsadi.

Pengelolaan Desa Wisata Mangrove dilakukan oleh masyarakat dan melibatkan pemerintah desa melalui Peraturan Desa‎. Pemerintah desa ikut mendapat pemasukan dari retribusi tiket masuk yang dipatok Rp 15.000 pada hari biasa dan Rp 20.000 pada akhir pekan dan hari libur nasional.

“Hasil tiket masuk sistemnya bagi hasil. Antara lain untuk warga yang dilibatkan mengelola, desa, dan untuk pengembangan desa wisata. Dukungan pemerintah juga ada sejak 2017, baik melalui kebijakan, program, dan anggaran," lanjut Mashadi.

Hastuti (40) adalah satu dari ratusan wisatawan yang datang ke Dukuh Pandansari, Sabtu (6/10). Dia bersama suami, anak, dan sejumlah temannya rela menempuh jarak 20 kilometer dari tempat tinggalnya di Desa Watujaya, Kecamatan Tonjong, Brebes bagian selatan demi bisa menikmati panorama dan kesejukan hutan mangrove.

Hastuti bersama wisatawan lainnya terlebih dahulu menyusuri tepi laut yang tenang menumpang perahu lalu bersantai di tengah-tengah rimbun pohon mangrove.

"Saya penasaran jadi jauh-jauh sengaja ke sini. Setelah ke sini memang bagus. Bersih. Selain sejuk, hutan mangrovenya juga dibuat cantik dengan jembatan, tempat duduk tanpa merusak pohon mangrovenya," kesan Hastuti saat bersiap untuk pulang.

Selain mampu melindungi tambak-tambak dan permukiman warga dari ancaman abrasi, keberadaan hutan mangrove yang menarik banyak wisatawan untuk datang juga menggerakan roda perekonomian warga. Eni termasuk salah satu yang merasakan dampak positif dari geliat wisata di desanya itu.

Ibu dua anak itu memiliki warung makan di kawasan wisata mangrove yang berawal dari warung kecil yang menjual makanan ringan dan minuman kemasan. Warung makan itu menyajikan menu makanan laut, seperti ikan, udang, dan kepiting.

Hasil laut itu dipasok warga Dukuh Pandansari yang bekerja sebagai petambak dan nelayan yang hasil tangkapannya kembali melimpah tanpa perlu melaut jauh ke tengah laut seiring ekosistem yang pulih.

"Ikannya dari warga sini yang njaring atau mancing. Kalau hari libur (pasokan) sampai kehabisan. Kalau sudah habis, baru terpaksa beli dari luar sini," ujar dia.

Radartegal.com yang datang mencicipi kelezatan ikan kakap bakar pada Sabtu (6/10) siang melihat ramainya wisatawan yang mampir ke warung makan Eni untuk mengisi perut setelah berjalan-jalan mengelilingi hutan mangrove. "Kalau akhir pekan dan hari libur ya sehari rata-rata Rp1 juta sampai Rp2 juta dapat," ungkap Eni saat ditanya pendapatannya dari membuka warung.

Pendapatan yang diperoleh dari usaha itu membuat Eni kini tak lagi bergantung pada penghasilan suaminya yang merantau ke Papua untuk bekerja.

"Biasanya suami tiap bulan kirim untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar sekolah anak. Sekarang dari warung makan ini sudah tercukupi. Dari hasil suami kerja saya minta tidak dikirim tapi ditabung," ujarnya.

Saat ditanya apakah masih memiliki keinginan untuk pindah dari Dukuh Pandansari, Eni mantap menggeleng dan menjawab, “Dulu sering ingin pindah karena sering rob. Sekarang harga tanah-tanah di sekitar tempat wisata hutan mangrove malah jadi mahal. Padahal dulu nggak laku, nggak ada yang mau tinggal di sini."

Warung makan Eni dan milik warga lainnya berderet di sepanjang jalan selepas pintu masuk dan juga di kawasan hutan mangrove. Ada juga warga yang menjadikan rumahnya sebagai home stay. Berdasarkan catatan pengelola, ada 75 warung makan dan 22 home stay yang mengais rezeki dari wisatawan yang datang dengan 75 persen pemiliknya adalah warga setempat.

Di sekitar warung makan dan home stay itu, terdapat sejumlah tempat yang menjual berbagai macam pakaian, souvenir kerajinan laut dan oleh-oleh khas untuk dibawa pulang wisatawan. Salah satu oleh-oleh khas adalah batik yang menggunakan pewarna alam.

"Pewarna alamnya diambil dari pohon mangrove. Bisa dari batang atau daun,” kata Ranipem (46), salah satu pembuat batik saat ditemui di Sanggar Perak, Dukuh Pandansari. Sanggar ini dibangun dari hasil pengelolaan Desa Wisata Mangrove.

Aktivitas pembuatan batik dengan pewarna alam mulai dilakukan Ranipem satu tahun setelah Desa Wisata Mangrove dibuka untuk wisatawan. Sebelum bergelut dengan proses pembuatan batik, Ranipem sehari-hari hanya mengurus rumah tangga dan sesekali menjadi buruh tani.

"Pertama belajar difasilitasi pemerintah. Belajar dari pembatik dari Salem (Kecamatan Salem) yang didatangkan ke sini. Mereka belajar pewarna alamnya, kami belajar tekniknya. Jadi tukar ilmu," ungkap Ranipem sembari mencelupkan ujung canting yang dipegangnya ke malam yang tengah mendidih di atas kompor kecil.

Saat ini jumlah pembuat kain batik seperti Ranipem mencapai 20 orang. Seluruhnya adalah ibu rumah tangga. Selain dijual sebagai oleh-oleh khas dengan harga Rp200.000-Rp400.000, kain batik dengan motif pohon mangrove, ikan, dan bunga itu juga dipasarkan melalui pameran-pameran di berbagai kota.

"Satu bulan bisa terjual 10 sampai 20 kain batik. Banyak yang suka walaupun dari warnanya tak secerah batik lain," ungkap Ranipem.

Dari aktivitasnya itu, Ranipem dan para pembatik lainnya bisa mendapatkan penghasilan sendiri sehingga bisa menambah pemasukan keluarga. “Alhamdulillah hasilnya bisa membantu menambah penghasilan suami," ujarnya.

Wakil Bupati Brebes Narjo saat membuka acara Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona yang digelar di Desa Wisata Mangrove Dukuh Pandansari belum lama ini menyebut bahwa Desa Wisata Mangrove menjadi salah satu daya tarik wisata unggulan baru di Kabupaten Brebes.

"Wisata mangrove, Pulau Pasir, dan Wisata Edukasi di Pandansari ini semakin menarik karena ada pengelolaan yang melibatkan masyarakat setempat. Dampaknya juga dirasakan masyarakat setempat," katanya.

Keberadaan hutan mangrove yang dijaga, dikelola dan dikembangkan dengan baik menjadi desa wisata seperti mengangkat warga Dukuh Pandansari yang wilayahnya terpencil bangkit dari kerusakan lingkungan dan kerugian ekonomi karena abrasi selama puluhan tahun.

"Setelah 2,5 tahun sejak dikukuhkan jadi Desa Wisata, aktivitas ekonomi masyarakat mulai menggeliat. Bangkit. Memang masih ada kekurangan dan kendala seperti SDM, tapi ini bukti masyarakat mau bersama-sama untuk meningkatkan perekonomian," ujar Mashadi. (farid firdaus)

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Belum Cap Tiga Jari, Ijazah Lusiana Tidak Ditahan

Belum Cap Tiga Jari, Ijazah Lusiana Tidak Ditahan

Lusiana (16), warga Jalan Tanjung Kelurahan Kejambon Kota Tegal yang sempat terganjal masuk SMA, kini sudah sekolah.


Ditabrak Avanza, Ibu Hamil Meninggal Setelah Sempat Dirawat

Ditabrak Avanza, Ibu Hamil Meninggal Setelah Sempat Dirawat

Malang tak dapat ditolak. Untung tak dapat diraih. Nasib naas menimpa Indah Fauziah, 35, warga Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari.


Setubuhi ABG Dua Kali, Nelayan Muda Diringkus Polisi

Setubuhi ABG Dua Kali, Nelayan Muda Diringkus Polisi

Nelayan muda berinsial KJ (17) warga Desa Sidaharja, diringkus petugas Reskrim Polres Tegal karena diduga menyetubuhi WR (13) sebanyak dua kali.


Bencana Kekeringan Melanda Empat Desa di Brebes

Bencana Kekeringan Melanda Empat Desa di Brebes

Bencana kekeringan mulai melanda pemukiman warga di beberapa desa di Kabupaten Brebes.


Jalan Rusak Desa Legok Kian Meresahkan

Jalan Rusak Desa Legok Kian Meresahkan

Warga Desa Legok, Kecamatan Bantarkawung masih menunggu perbaikan terhadap sebagian ruas jalan kabupaten Legok-Mayana yang kian rusak parah.


Waduk Penjalin Susut, Petani Berkebun di Lahan Kajog

Waduk Penjalin Susut, Petani Berkebun di Lahan Kajog

Seiring dengan menyusutnya volume air di Waduk Penjalin Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, warga masyarakat sekitar waduk memanfaatkan munculnya tanah


Warga Tolak Perubahan Status Slawi Kulon

Warga Tolak Perubahan Status Slawi Kulon

Sejumlah warga yang tergabung dalam Pemuda Karang Taruna Tuna Jaya Desa Slawi Kulon, Kecamatan Slawi menolak adanya perubahan status


Pantai Larangan Disorot, Diduga Jadi Ajang Mesum

Pantai Larangan Disorot, Diduga Jadi Ajang Mesum

Sejumlah warga di Pantura Kabupaten Tegal mulai resah.


Diantar Wakil Wali Kota, Siswa SMP yang Ijazahnya Ditahan Akhirnya Bisa Sekolah

Diantar Wakil Wali Kota, Siswa SMP yang Ijazahnya Ditahan Akhirnya Bisa Sekolah

Lusiana Irawan (16), putri Diah Repelita (43), warga Jalan Tanjung RT 2 RW 4 Kelurahan Kejambon Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal, akhirnya bisa sekolah, Rabu (1


Turun Tangan, Jumadi Upayakan Persoalan Ijazah Lusiana Selesai Hari Ini

Turun Tangan, Jumadi Upayakan Persoalan Ijazah Lusiana Selesai Hari Ini

Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Jumadi langsung mendatangi rumah Diah Repelita (43) warga Jalan Tanjung RT02 RW04 Kelurahan Kejambon.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!