Lokal
Share this on:

Mahasiswa Rintis Bank Sampah Pertama di Desa Lebakgowah

  • Mahasiswa Rintis Bank Sampah Pertama di Desa Lebakgowah
  • Mahasiswa Rintis Bank Sampah Pertama di Desa Lebakgowah
  • Mahasiswa Rintis Bank Sampah Pertama di Desa Lebakgowah
  • Mahasiswa Rintis Bank Sampah Pertama di Desa Lebakgowah
  • Mahasiswa Rintis Bank Sampah Pertama di Desa Lebakgowah
  • Mahasiswa Rintis Bank Sampah Pertama di Desa Lebakgowah

SLAWI - Mahasiswa KKN Tim II Undip mengadakan pelaksanaan program multidisiplin di Desa Lebakgowah, Kabupaten Tegal dengan mengajak masyarakat desa untuk menyukseskan pelaksanaan program pengadaan Bank Sampah untuk desa yang diprakarsai oleh mahasiswa.

Kemudian akan dilanjutkan oleh masyarakat Desa Lebakgowah.

Pendirian ini dimaksudkan sebagai Bank Sampah percontohan di wilayah Desa Lebakgowah secara umum. Pelaksanaan program dilakukan di salah satu rumah warga bertempat di RT 03, RW 05 Desa Lebakgowah.

Saat pelaksanaan program multidisiplin tersebut dihadiri segenap pengurus Bank Sampah Desa Lebakgowah. Serta nasabah (anggota) dan mahasiswa KKN yang ikut serta dalam pelaksanaan program tersebut.

Pelaksanaan dimulai pada pukul 10.00 WIB sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.

Bank Sampah Kenanga Mandiri adalah nama dari Bank Sampah yang didirikan di Desa Lebakgowah.

Pada awal kegiatan dilaksanakan, mahasiswa serta pengurus menyiapkan timbangan elektrik, tempat untuk menyimpan sampah yang kemudian akan ditimbang. Beberapa nasabah berdatangan untuk menimbang hasil sampah yang telah dikumpulkan kemudian mahasiswa menghitung jumlah sampah yang didapat dari masing-masing nasabah.

Setelah itu dilakukan pencatatatan ke dalam buku registrasi sebagai data nasabah kemudian hasil penimbangan sampah dituliskan ke dalam buku besar administrasi, lalu sampah yang terkumpul dikelompokkan ke dalam beberapa jenis sampah. Sampah disortir oleh mahasiswa dan pengurus.

Sampah yang telah didapat kemudian disortir menjadi beberapa macam, yaitu sampah kertas, sampah plastik, sampah kaleng, dan botol kaca. Dalam pemilihan sampah dilakukan dengan teliti karena nantinya akan dihitung dan dirupiahkan sesuai dengan variasi sampah. Harga dari sampah tersebut pun berbeda-beda mulai dari Rp1000 per kilogram hingga harga yang paling mahal adalah Rp2000.

Sedangkan khusus untuk botol kaca dihitung per satuan dari botol, tidak diukur per kilogram dari botol kaca tersebut.

Kegiatan selanjutnya setelah penimbangan serta pencatatatan hasil sampah, mahasiswa membagikan buku tabungan kepada nasabah yang sudah selesai penimbangan sampah.

Buku tabungan tersebut nantinya akan dibawa oleh masing-masing nasabah dan dibawa setiap kali melakukan penimbangan dan penabungan sampah.

Nasabah akan mengetahui berapa jumlah sampah yang sudah dikumpulkan dari buku tabungan tersebut, lalu hasil penjualan sampah mulai dapat ditarik setelah tiga bulan penabungan sampah.

Nominal rupiah yang dapat ditarik oleh masyarakat tergantung dari seberapa banyak sampah yang nasabah telah setorkan pada pengurus.

Setelah dilakukan pembagian buku tabungan kepada nasabah, mahasiswa melakukan pembagian trash bag kepada nasabah untuk pemilahan sampah rumah tangga di rumah masing-masing nasabah. Trash bag ini dimaksudkan untuk memudahkan nasabah memisahkan sampah mana yang nantinya akan disetorkan. Sampah yang dipisah yaitu berdasar sampah organik dan sampah nonorganik.

Agar ke depannya pengurus dapat langsung menimbang sampah tanpa harus memisahkan ulang sampah yang sudah terkumpul.

Usai pelaksanaan program, acara diakhiri dengan sesi foto mahasiswa perintis Bank Sampah bersama hasil sampah yang didapatkan. Hasil sampah yang terkumpul cukup banyak, artinya cukup banyak masyarakat Desa Lebakgowah dari RW 05 yang antusias terhadap program multidisiplin yang dilaksanakan.

Diharapkan ke depannya dapat berjalan dengan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan motivasi kepada wilayah RW lain untuk ikut serta mendirikan. Hingga pada akhirnya Bank Sampah tersebut dapat terus berjalan dan menjadi salah satu pemasukan untuk Desa Lebakgowah. (ist/ima)

Berita Sebelumnya


Berita Sejenis

Kawasan Hutan Sengon Terbakar

Kawasan Hutan Sengon Terbakar

Kawasan hutan albasia atau sengon milik PTP Semugih di Blok Semakir, Desa Semaya, Randudongkal terbakar.


Kakak Ipar Kades Incumbent Jadi Ketua Panitia Pilkades, Kok Bisa?

Kakak Ipar Kades Incumbent Jadi Ketua Panitia Pilkades, Kok Bisa?

Di Desa Kertayasa, Kecamatan Kramat, kakak ipar kades incumbent yang akan maju kembali di pilkades serentak terpilih menjadi ketua panitia.


Proyek Gardu Pandang Dinilai Lamban

Proyek Gardu Pandang Dinilai Lamban

Proyek pembangunan Gardu Pandang Gunung Slamet senilai Rp15,8 miliar di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari dinilai lamban.


Furnitur dari Botol Plastik Ramaikan Lomba Ecobrick

Furnitur dari Botol Plastik Ramaikan Lomba Ecobrick

Ecobrick atau batu bata ramah lingkungan dipandang menjadi solusi efektif mengurangi pencemaran sampah plastik.


Kenal Singkat, Kakek 83 Tahun di Tegal Nikahi Gadis 27 Tahun

Kenal Singkat, Kakek 83 Tahun di Tegal Nikahi Gadis 27 Tahun

Sudirgo (83), warga warga RT 3 RW 5 Desa Pagerbarang, Pagerbarang Kabupaten Tegal menyunting Nuraeni (22) asal Desa Jatilaba, Margasari Kabupaten Tegal, Minggu


Momen Hari Merdeka, Warga Dukuh Kalisusu Didrop Air Bersih

Momen Hari Merdeka, Warga Dukuh Kalisusu Didrop Air Bersih

Warga Dukuh Kalisusu RT 32 RW 14 Desa Karanganyar, Kecamatan Kedungbanteng, Sabtu (17/8) didroping air bersih oleh BPBD Kabupaten Tegal.


Desa Kendaldoyong Makin Hijau dengan Gerakan Tanam 100 Pohon

Desa Kendaldoyong Makin Hijau dengan Gerakan Tanam 100 Pohon

Jumat (16/8) tepat satu hari sebelum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) ke-74 tahun, mahasiswa dari Tim 2 KKN (Kuliah Kerja Nyata)


Mahasiswa KKN Sulap Sampah Jadi Minyak

Mahasiswa KKN Sulap Sampah Jadi Minyak

Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di Kelurahan Pelutan, Kecamatan Pemalang mengubah sampah anorganik menjadi minyak


Aquaponic Jadi Solusi untuk Pesarean

Aquaponic Jadi Solusi untuk Pesarean

Sampah merupakan masalah terbesar yang masih menjadi tugas utama bagi semua unsur masyarakat yang ada di Desa Pesarean.


Warga Desa Lebaksiu Kidul Dilatih Ecoprint Teknik Pounding

Warga Desa Lebaksiu Kidul Dilatih Ecoprint Teknik Pounding

Tim II KKN Universitas Diponegoro (Undip) Lebaksiu Kidul menggelar Pelatihan Ecoprint dengan Teknik Pounding.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!