• Home
  • Berita Lokal
  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet

Lokal
Share this on:

Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet

  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet
  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet
  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet
  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet
  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet
  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet
  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet
  • Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet

ENAM JAM – Pasar Slumpring di Desa Cempaka, Bumijawa, Kabupaten Tegal menjadi destinasi wisata baru di kaki Gunung Slamet. (poncho)

BUMIJAWA - Desa Cempaka di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal, saat ini tidak hanya masyhur di Tanah Air. Keelokan alami suasana pedesaan dan gestur warga masyarakatnya, ternyata sudah terkenal hingga ke manca negara.

Daya tarik Desa Cempaka mulai memikat animo wisatawan, setelah dilaunching sebagai desa wisata oleh Bupati Tegal Enthus Susmono, Minggu (3/2) silam. Launching dilakukan bersamaan dengan gelaran Bumijawa Festival, dengan mempromosikan keunikan Pasar Slumpring, eksotika Bukit Bulak Cempaka (BBC), dan keasrian Tuk Mudal.

Kepala Desa Cempaka Abdul Khayyi, Minggu (7/10), tak menampik pengembangan desanya sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Tegal, saat ini mulai membuahkan hasil. Tidak hanya sumber daya alam (SDA) desanya yang dikenal luas, ekonomi kerakyatan di desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes itu pun mulai menggeliat.

Pasar Slumpring sebagai magnet utama wisata Desa Cempaka, papar Kades, lambat laun sangat dirasakan manfaatnya. Bagaimana tidak, pasar yang menjual beraneka macam jajanan dan kuliner tradisional khas Tegal dan sekitarnya itu, sekarang sudah berkembang besar dengan nilai transaksi rata-rata Rp9-12 juta.

“Pasar Slumpring ini hanya ada setiap hari Minggu antara pukul 07.00 sampai 12.00 WIB. Sekarang yang berjualan sudah mencapai 30 orang, dari awalnya hanya 9 pedagang,” kata Abdul Khayyi.

Keunikan Pasar Slumpring membuatnya semakin diminati wisatawan. Di antaranya selain para penjual menggelar dagangannya di bawah rimbunnya tanaman bambu, selama proses jual beli, pedagang dan pembeli juga disuguhi alunan musik bambu yang dipersembahkan remaja-remaja setempat. Mereka tergabung dalam Grup Musik Amuba, dengan memainkan alat musik dari tanaman beruas seperti angklung, kentongan, seruling, dan lainnya.

Model transaksinya pun, tambah Kades, mengadopsi sistem perdagangan kuno dengan menggunakan koin yang juga terbuat dari bambu. Dijelaskan Kades, setiap koin bernilai Rp2.500,00. Rinciannya Rp2.000,00 untuk keuntungan pedagang, sisanya Rp500,00 diserahkan ke Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cempaka Mas. Slumpring sendiri diambil dari nama kulit bambu yang menutupi rosan bambu, biasanya berwarna coklat muda.

Pokdarwis, papar Kades, adalah kepanjangan tangan Pemdes Cempaka sebagai embrio badan usaha milik desa (bumdes), yang akan dipatenkan akhir tahun ini. Oleh pokdarwis, dana itu dikumpulkan untuk membiayai pembangunan fasilitas maupun pengembangan sarana wisata di Desa Cempaka. Semuanya dilakukan mandiri, karena belum mendapatkan bantuan dari Pemkab Tegal maupun Pemprov Jawa Tengah.

Ketua Pokdarwis Cempaka Mas Ikhsanudin mengakui pemberdayaan masyarakat untuk sadar wisata di daerahnya sangat penting. Dia teringat saat muncul penentangan dari para kiai dan ustaz, saat akan membangun destniasi wisata di sekitar Sumber Mata Air Tuk Mudal. Tokoh-tokoh agama itu kuatir nanti malah akan memunculkan potensi kemaksiatan baru.

Akhirnya dengan difasilitasi Pemdes, ungkap Ikhsanudin, dilakukan kunjungan ke Umbul Ponggok di Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Kabupaten Sleman tiga tahun lalu. Di sana perwakilan RT, tokoh agama, masyarakat, dan pemuda, serta ustaz yang mengikuti studi banding membuktikan sendiri, pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata ternyata bisa meningkatkan taraf kehidupan dan perekonomian masyarakatnya.

“Akhirnya disepakati pariwisatalah salah satu alternatif untuk memberdayakan masayarakat, baik sosial maupun ekonominya,” ujar Ikhsanudin.

Menurut Ikhsanudin, kali pertama yang dilakukan adalah membangun talut senilai Rp100 juta untuk mencegah masuknya lumpur ke Sumber Mata Air Tuk Mudal di 2016. Ini penting, karena Tuk Mudal merupakan kolam penampungan dari tujuh sumber mata air untuk mengairi sawah-sawah warga yang luasnya mecapai 200 hektare. Apalagi Tuk Mudal persis berada di lokasi yang rencananya akan dikembangkan sebagai destinasi wisata utama.

Selesai pembangunan talut, revitalisasi Tuk Mudal dilanjutkan dengan membangun jembatan kayu dan penghijauan. Pemdes Cempaka dan Pokdarwis sepakat membentuk Cempala, yakni organisasi pecinta alam yang mayoritas anggotanya pemuda-pemuda desa, untuk diserahi tanggung jawab konservasi air, dengan tugas utama menjaga pemeliharaan sumber-sumber mata air sebagai menyuplai kebutuhan debit air Tuk Mudal.

Upaya-upaya lainnya pun terus dilakukan seperti mengikutkan pemuda-pemuda desa melalui pelatihan pembuatan suvenir, tour guide, pengelolaan home stay, hingga mengundang guru bahasa inggris dari Pare, Kediri, Jawa Timur. Sedangkan dari sisi politik anggaran, melalui dana desa dan alokasi dana desa tahun 2017, dialokasikan pembangunan embung dan normalisasi Rp200 juta, penguatan kelembagaan dan pelatihan Rp15 juta, serta pelatihan-pelatihan lain bekerjasama dengan instansi-instansi terkait di Pemkab Tegal.

“Hasilnya Tuk Mudal sekarang menjadi salah satu tujuan utama wisata air di Kabupaten Tegal. Selain murah, pengunjung juga bisa menikmati keindahan alami pegunungan sepuasnya,” timpal Ikhsanudin.

Saat ini untuk masuk ke Tuk Mudal yang masih satu kompleks dengan Pasar Slumpring di atas tanah kas desa, wisatawan hanya dikenai tarif Rp10.000,00 per roda empat, sudah termasuk ongkos parkir. Sedangkan roda dua Rp5.000,00. Semua orang yang terlibat pengelolaannya merupakan waga asli Desa Cempaka.

Selain terlibat aktif sebagai penyedia jasa wisata, warga sekitar juga mulai kreatif menjadikan rumah-rumahnya sebagai tempat penginapan sewaktu-waktu atau home stay. Ada pula ibu-ibu yang dikoordinasikan pokdarwis, agar giat memproduksi suvenir maupun jajanan khas untuk para wisatawan. Sedangkan 35 anggota pokdarwis, rata-rata sudah pandai berbahasa inggris, sehingga tak canggung lagi saat melayani kunjungan wisatawan asing.

“Alhamdulillah semua warga bisa terlibat dalam pengelolaan wisata di sini. Sehingga petani, ibu-ibu, pemuda, dan lainnya ikut merasakan keuntungannya, dan bisa memperoleh tambahan pendapatan,” aku Sairoh, salah seorang penjual nasi jagung di Pasar Slumpring.

Klaim Sairoh bukan tanpa bukti, karena nasi jagung yang dia jajakan pun bahan utamanya diambil dari para petani di desanya. Juga penjual serabi, bubur sungsum, candil, jagung bakar, dan lain-lainnya, semua bahan baku utamanya berasal dari warga Desa Cempaka. Apalagi syarat utama berjualan di Pasar Slumpring adalah harus ber-KTP Desa Cempaka.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Suharinto menyambut baik pengembangan desa wisata di wilayahnya. Menurutnya, cara itu terbukti mampu berangsur-angsur meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar daerah wisata. Suharinto mencontohkan penjual nasi jagung di Pasar Slumpring yang bisa menjual habis 45-50 kilogram hanya dalam waktu 6 jam, kemudian bakul serabi yang mengaku mendapatkan penghasilan tetap setiap minggunya.

“Silakan setiap desa mengembangkan potensi wisata sesuai karakteristiknya. Misalnya Desa Cikura Kecamatan Bojong sebagai desa wisata religi atau Desa Sigedong Kecamatan Bumijawa yang menjadi sentra wisata sayur mayur,” terangnya.

Nantinya, tambah Suharinto, Pemkab Tegal melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan membantu mempromosikan keunggulan potensi-potensi wisatanya. Yang sudah dilakukan selama ini antara lain membuat situs www.tegaltourism.id, launching desa wisata, festival-festival wisata, serta pelatihan-pelatihan pengelolaan kepariwisataan.

Ditambahkan Suharinto, instansinya sedang berusaha mewujudkan keinginan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat berkesempatan mengunjungi Tuk Mudal. Gubernur, menurut Suharinto, optimis destinasi wisata di Desa Cempaka bisa berkembang lebih maju dan naik kelas. Apalagi banyak spot yang bisa dinikmati seperti Pasar Slumpring, Bukit Atas Awan, Bukit Bulak Cempaka (BBC), Pohon Kembang Cempaka, dan Pertemuan Tuk Pitu. (zuhlifar arrisandy)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Fasilitas Pasar Lebaksiu Minim, Pedagang Kambing Jualan di Depan Koramil

Fasilitas Pasar Lebaksiu Minim, Pedagang Kambing Jualan di Depan Koramil

Fasilitas yang dimiliki Pasar Lebaksiu dinilai sangat minim. Hal ini membuat sejumlah pedagang kecewa.


Kasihan ABG Ini, Umur 11 Tahun Berat Badannya Hanya 8,7 Kg

Kasihan ABG Ini, Umur 11 Tahun Berat Badannya Hanya 8,7 Kg

Slamet Wahyudi (11), warga Desa Tonggara Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal memiliki berat badan yang tak lazim seperti anak seusianya.


Singkirkan Gawai, Kembali Galakkan Gugur Gunung Bareng TNI

Singkirkan Gawai, Kembali Galakkan Gugur Gunung Bareng TNI

Tradisi Gugur Gunung saat ini terus tersisih dengan hadirnya teknologi komunikasi melalui telepon seluler atau gawai.



Berjualan di Atas Trotoar, Puluhan PKL di Kota Brebes Ditertibkan

Berjualan di Atas Trotoar, Puluhan PKL di Kota Brebes Ditertibkan

Satpol PP Brebes melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) di sejumlah titik, termasuk PKL yang berjualan di atas trotoar depan RSUD Brebes, Selasa (15/10).


Dinas Sebut Spanduk "Jangan Tambah Penderitaan Kami" Bukan Dipasang Pedagang

Dinas Sebut Spanduk "Jangan Tambah Penderitaan Kami" Bukan Dipasang Pedagang

Spanduk "Jangan Tambah Penderitaan Kami" muncul di dekat lokasi pembangunan Pasar Randudongkal.


Spanduk "Jangan Tambah Penderitaan Kami" Muncul di Lokasi Pasar Mangkrak

Spanduk "Jangan Tambah Penderitaan Kami" Muncul di Lokasi Pasar Mangkrak

Spanduk berukuran besar bertuliskan "Jangan Tambah Penderitaan Kami" membentang di atas jalan di dekat lokasi pembangunan Pasar Randudongkal.


Diduga Gelapkan Uang, Eks Ketua Paguyuban Pasar Buah dan Sayur Digiring ke Persidangan

Diduga Gelapkan Uang, Eks Ketua Paguyuban Pasar Buah dan Sayur Digiring ke Persidangan

Eks Ketua Paguyuban Pasar Buah dan Sayur Pemalang Cari Antoni menjalani sidang pertama pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri Pemalang, Selasa (8/10).


Simpati untuk Endri Terus Berdatangan

Simpati untuk Endri Terus Berdatangan

Atas kegigihannya membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kue keliling, Endianto Asep Sunoto mulai mendapatkan banyak simpati dari masyarakat.


Endri, Siswa Kelas 3 SD Berjualan Kue Keliling Desa dengan Berjalan Kaki

Endri, Siswa Kelas 3 SD Berjualan Kue Keliling Desa dengan Berjalan Kaki

Endrianto Asep masih kelas 3 di SD Negeri 02 Loning, Petarukan. Usianya belum genap 10 tahun. Namun semangatnya seperti orang dewasa.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!