Lokal
Share this on:

Potensi Gusur Siswa Berprestasi, Siswa Jalur SKTM Membludak

  • Potensi Gusur Siswa Berprestasi, Siswa Jalur SKTM Membludak
  • Potensi Gusur Siswa Berprestasi, Siswa Jalur SKTM Membludak

foto; k anam s/radar tegal

TEGAL - Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK Tahun 2018 membuka Jalur Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk calon peserta didik yang tidak mampu.

Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Tegal mencatat, dari data lima SMA Negeri yang ada, pendaftar yang melalui jalur ini dapat dikatakan cukup membludak.

Hingga, Jumat (6/7) pukul 10.00, jalur SKTM di Kota Tegal paling banyak digunakan di SMA Negeri 2, yakni sebanyak 112 pendaftar. Kemudian, disusul SMA Negeri 3 sebanyak 73, SMA Negeri 5 sebanyak 62, SMA Negeri 4 sebanyak 46, dan SMA Negeri 1 sebanyak 26.

Dari laporan yang ada, secara keseluruhan, kuota di lima sekolah tersebut telah terpenuhi.

Diketahui, jalur SKTM diatur melalui Peraturan Gubernur Nomor 64 Tahun 2018 tentang PPDB SMA/SMK.

Dalam Pergub ini, SMA/SMK Negeri wajib melaksanakan program ramah sosial, yakni menerima dan membebaskan biaya pendidikan bagi peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu, paling sedikit 20 persen dari jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

Kepala MKKS SMA Masduki mengatakan, untuk mengantisipasi pemalsuan SKTM, pihaknya menerjunkan tim yang berkeliling ke seluruh sekolah dan melakukan verifikasi. Namun demikian, yang menjadi masalah berikutnya adalah terkait rasa keadilan.

Sebab, jalur SKTM ini berpotensi menyingkirkan calon peserta didik lainnya yang sebenarnya berprestasi.

Karena itu, Masduki berpandangan alangkah baiknya kebijakan jalur SKTM diberlakukan seperti tahun lalu. Yakni, ada pembatasan NEM. Tidak jor-joran seperti ini.

Sehingga, rasa keadilan untuk yang memiliki NEM tinggi itu ada, kata Masduki yang juga menjabat Kepala SMA Negeri 1, saat ditemui di sekolahnya, di Jalan Tentara Pelajar. Masduki mengemukakan, apabila ada sekolah yang jumlah pendaftar dari jalur SKTM sedikit, bukan berarti menolak calon peserta didik yang tidak mampu.

Hal tersebut lebih dikarenakan calon peserta didik tersebut merasa lebih cocok di sekolah lain. Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah dampak dari penerapan jalur SKTM ini.

Apabila jumlah pendaftar jalur SKTM melampaui Non-SKTM, dampaknya sekolah akan kesulitan mengelola.

"Sebab, banyak komponen harus dipenuhi dan ditanggung sekolah. Sedangkan, bantuan dari Provinsi dan BOS tidak seimbang," ungkap Masduki.

Maraknya penggunaan SKTM dalam proses PPDB juga menjadi sorotan sejumlah anggota DPRD Kota Tegal. Mereka mendesak panitia sekolah lebih teliti.

Bahkan, verifikasi berkas pendaftaran khususnya SKTM harus dicermati agar panitia PPDB tidak terkecoh dengan pendaftar yang menggunakan SKTM. Anggota Fraksi PDI Perjuangan Sutari meminta verifikasi berkas untuk dilakukan. Baik di lapangan maupun melibatkan instansi terkait.

Termasuk, publikasi (diumumkan-red) kepada masyarakat terkait jumlah pendaftar yang menggunakan SKTM. Sebab, sebagian besar wali murid pendaftar juga mengeluhkan banyaknya orang kaya mendaftar menggunakan SKTM dengan target bisa diterima di sekolah tujuan. "Jangan sampai, warga yang benar-benar tidak mampu justru tersingkir."

Padahal nilainya bagus dan memenuhi persyaratan. Hanya gara-gara, SKTM yang digunakan orang kaya untuk mendaftar sekolah, jelasnya. Terkait penggunaan SKTM, lanjut Sutari, pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menyalahgunakan (mengaku miskin-red) dengan memafaatkan SKTM agar bisa diterima di SMA/SMK negeri.

Menurut dia, penyalahgunaan SKTM justru harus ditindak tegas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal. Sebab, mencederai azas keadilan bagi sesama pendaftar. Bila perlu, jika ditemukan pendaftar yang sebenarnya mampu tapi menggunakan SKTM, konsekuensinya harus dicoret.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Anshori Faqih berharap agar PPDB sistem zonasi ditinjau ulang. Sebab, justru menimbulkan keresahan di masyarakat. Apalagi, jika disandingkan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang mewajibkan setiap daerah mengalokasikan anggaran pendidikan mencapai 20 persen dari APBD, maka sistem tersebut dinilai kurang tepat.

"Percuma ada zonasi, jika peran SKTM dan warga lingkungan sekitar sekolah justru tidak bisa diakomodir sekolah negeri terdekat dari rumah," terangnya.

Anshori Faqih menambahkan, dengan pemberlakuan sistem zonasi yang cenderung merugikan pendaftar di lingkungan sekolah tersebut, justru mengancam invasi pelajar dari wilayah lain dan luar daerah. Sebab, banyak calon siswa yang hanya mengandalkan SKTM untuk masuk sekolah negeri.

Sedangkan kompetensi akademik dan domisilinya justru bukan dari wilayah Kota Tegal. (nam/syf/fat/zul)

Berita Sebelumnya

Pendaftaran Caleg Masih Sepi
Pendaftaran Caleg Masih Sepi

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Mau ke Arah Purwokerto, Awas Macet Panjang Berjam-jam di Bumiayu

Mau ke Arah Purwokerto, Awas Macet Panjang Berjam-jam di Bumiayu

Bagi para pengendara yang ingin bepergian ke Purwokerto, Cilacap, dan sekitarnya melalui jalur tengah perlu berpikir ulang.


Jalan Dibeton, Jalur Purwokerto-Bumiayu Macet Parah Lebih dari 12 Jam

Jalan Dibeton, Jalur Purwokerto-Bumiayu Macet Parah Lebih dari 12 Jam

Arus lalu lintas di ruas jalan nasional Tegal-Purwokerto macet parah sejak, Selasa (18/9) malam, lalu.


Inalillahi... Tabrak Truk Boks Mogok, Sopir Tewas Tergencet

Inalillahi... Tabrak Truk Boks Mogok, Sopir Tewas Tergencet

Kecelekaaan maut terjadi di ruas tengkorak Jalur Pantura, tepatnya di Jalan Raya Purwahamba Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal, Sabtu (15/9) dinihari.


 Kendalikan Sampah Plastik, Siswa Diwajibkan Bawa Alat Makan dari Rumah

Kendalikan Sampah Plastik, Siswa Diwajibkan Bawa Alat Makan dari Rumah

Salah satu sekolah di Kabupaten Brebes mewajibkan siswanya membawa alat makan sendiri untuk keperluan makan dan minum saat jam istirahat.


Pemkot Tegal Jangan Asal Gusur PKL Alun-alun, Harus Ditata

Pemkot Tegal Jangan Asal Gusur PKL Alun-alun, Harus Ditata

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal Rachmat Rahardjo memandang penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Alun-alun Tegal.


Pedagang di Tepi Jalur Tegal-Purwokerto Harus Ditertibkan

Pedagang di Tepi Jalur Tegal-Purwokerto Harus Ditertibkan

Para pedagang yang berjualan di tepi jalan di depan Pasar Pepedan, Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal diminta ditertibkan.


Adu Banteng vs Bus Malam, Begini Parahnya Moncong Xenia

Adu Banteng vs Bus Malam, Begini Parahnya Moncong Xenia

Kecelakaan terjadi di Jalur Pantura Kabupaten Tegal tepatnya di Jalan Raya Padaharja Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal Selasa (4/9) dini hari.


Diiringi Isak Tangis Orang Tua, Siswa dalam Video Pemukulan Berdamai

Diiringi Isak Tangis Orang Tua, Siswa dalam Video Pemukulan Berdamai

Pasca beredarnya video dugaan kekerasan senior kepada juniornya, pihak sekolah mengundang orang tua dan siswa yang terlibat dalam nideo yang menghebohkan itu.


Berniat ke Jakarta, Siswi SMA yang Sempat Menghilang Ditemukan

Berniat ke Jakarta, Siswi SMA yang Sempat Menghilang Ditemukan

Esti Safitri (16), siswa kelas X SMAN 1 Bojong yang sempat dikabarkan menghilang, Rabu (29/8), berhasil ditemukan, Kamis (30/8).


Keren! 50 Pendaki Bersihkan Jalur Pendakian sampai Puncak Gunung Slamet

Keren! 50 Pendaki Bersihkan Jalur Pendakian sampai Puncak Gunung Slamet

Ratusan peserta acara resik gunung di Gunung Slamet, akan mengikuti rangkaian Festival Wong Gunung (FWG) hingga 2 September mendatang.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!