Lokal
Share this on:

Residu Pestisida di Brebes Ancam Bayi Dalam Kandungan

  • Residu Pestisida di Brebes Ancam Bayi Dalam Kandungan
  • Residu Pestisida di Brebes Ancam Bayi Dalam Kandungan

BREBES - Penggunaan pestisida untuk pertanian di Kabupaten Brebes dianggap sudah berlebihan. Masyarakat Kota Bawang ini telah tedampak paparan pestisida. Saat ini muncul beberapa penyakit yang ditimbulkan dari pestisida, yakni hipotiroidisme (saat ibu hamil atau saat masa pertumbuhan), berat bayi lahir cacat, dan autisme.

Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes dr Rudi Pangarsami Utami mengungkapkan, efek bahaya pestisida bagi kesehatan manusia di Kabupaten Brebes jika tidak ditangani dengan cepat akan berdampak pada generasi yang akan datang. Saat ini, dampak dari penggunaan pestisida sudah terasa.

Rudi menyebut, dampak yang paling terlihat itu adalah pada kesehatan ibu dan anak (KIA) yang menyebabkan hipotiroid . Dimana menyebabkan menurunnya sintesis dan sekresi hormon tiroid dari kelenjar tiroid yang berpengaruh pada petumbuhan dan perkembangan anak.

Sebelum ada penelitian, pihaknya mengetahui penyebab hipotiroid adalah kurangnya asupan gizi berupa iodana atau yodium . Dari beberapa penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, ternyata paparan pestisida dapat menyebabkan hipotiroid pada ibu hamil dan anak di Kabupaten Brebes. Ini sangat berdampak pada gangguan pertumbuhan dan perkembanga anak sejak janin dalam kandungan.

"Pertumbuhan otak anak itu dimulai sejak sel sperma bertemu dengan sel telur, sampai dengan anak usia 2 tahun (1000 hari pertama kehidupan) pertumbuhan otak sudah 70 persen otak dewasa. Masa ini perlu mendapatkan perhatian," kata Rudi, Rabu (10/10).

Di Kabupaten Brebes, lanjut Rudi, tidak sedikit ibu hamil yang terlibat langsung dengan kegiatan-kegiatan pertanian. Bahkan, mereka tak menggunakan alat pelindung. Antara lain, sarung tangan dan masker. Dengan demikian, paparan pestisida langsung menyerang tubuhnya melalui mulut, pori-pori kulit, dan kelenjar mata.

"Paparan pestisida bisa melalui mulut dengan makanan yang kita makan. Juga bisa melalui pori-pori kulit yang terpapar langsung dengan pestisida. Juga melalui kelenjar mata. Residu organoklorin di Kabupaten Brebes sangat tinggi. Ada aldrin, endosulfan, diaziron, heptaklor, Dieldrin, BPMC, MIPC, fention, karbofuran, diazinon, klotpirifos yang digunakan untuk obat pertanian," ungkapnya.

Undip melakukan riset tentang dampak pestisida terhadap fungsi tiroid dan tumbuh kembang di Kabupaten Brebes. Tim Peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip Suhartono saat menggelar workshop penyusunan materi sosialisasi pencegahan dampak pestisida terhadap kesehatan masyarakat di Grand Dian Hotel Brebes pada 2017 lalu mengungkap hasil penelitiannya.

Pada saat itu, Suhartono menjelaskan mengenai dampak pestisida terhadap kesehatan masyarakat. Obat kimia tersebut bisa berdampak pada pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan pada keracunan pestisida, dan gangguan fungsi hormon atau gangguan tumbuh kembang anak. Dampak kekurangan di hormon tiroid, yakni pada ibu hamil. Di mana ibu hamil bisa mengalami keguguran (abortus), gangguan tumbuh kembang, lahir sebelum waktunya (prematur), berat badan lahir rendah, bayi lahir cacat.

Sementara, dampak pada anak akan mengalami gangguan tumbuh kembang anak, anak lambat bicara, tinggi badan tidak sesuai umur, dan gangguan kecerdasaan. Hasil penelitian tersebut, masuk dalam kategori tinggi dampak pada bayi, balita, dan usia anak sekolah. Hal itu terbukti faktor risiko pada kejadian stunting (anak pendek).

Dalam penelitiannya, di anak SD Negeri 01 Dukuhlo, prevelensi hipotroidisme pada siswa kelas 3 dan 4 mencapai 36,4 persen atau kadar tiroide stimulating hormone (TSH) lebih dari 4,5 miliunit per liter.

Sementara itu, Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Brebes Ir Tanti Palupi mengungkapkan, di Brebes ada 5 desa yang tanahnya terdapat residu pestisida cukup tinggi, yakni klorpirifos dan profenofos . Kelima desa itu yakni, Desa Kersana, Kecamatan Kersana; Desa Siwuluh dan Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba; Desa Sisalam, Kecamatan Wanasari; dan Desa Jatimakmur, Kecamatan Songgom.

"Uji residu yang pernah kami lakukan di sejumlah desa itu adalah residu klorpirifos dan profenofos atau pupuk anorganik itu masih tinggi. Jadi di situ disimpulkan bahwa penggunaan pukuk kimia itu sangat banyak," katanya.

Residu itu dalam kurun waktu 10 tahun tidak bisa hilang dan tergantung dengan kadar tanah itu sendiri. Masalah pestisida, di Kabupaten Brebes itu sudah diambang batas. Untuk menggiring petani beralih dengan sistem pertanian organik cukup sulit, karena kandungan tanah, saluran air, dan residu pestisida yang dalam kandungan tanah masih ada.

"Bahkan residu itu tidak bisa hilang dalam hitungan 10 tahun. Bila penggunaan pestisida berlebihan atau tertinggalnya residu pestisida di lahan pertanian, maka akan menjadi masalah pada kesehatan penduduk sekitar, termasuk akan menghambat produktivitas generasi yang akan datang," katanya.

Tak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, penggunaan pestisida yang berlebihan juga berdampak pada kesehatan lahan itu sendiri. Lahan pertanian di Kabupaten Brebes sudah mengalami degradasi atau kemunduran. Hal ini karena para petani, terutama petani bawang merah selalu menggunakan obat kimia atau pestisida.

Tanti mengungkapkan, Kabupaten Brebes pernah mengalami hasil produksi 20 ton per hektare. Namun, lantaran dampak kimiawi yang dihasilkan oleh pestisida tersebut, maka hasil produksi terus mengalami penurunan.

"Selama ini, produksi bawang merah di Brebes sekarang hanya 12-15 ton per hektare. Sehingga, sudah menurun drastis. Jika tidak diupayakan untuk penyehatan lahan, maka akan bermasalah di kemudian hari," katanya saat diskusi terbatas upaya penyehatan lahan pertanian untuk kelestarian lingkungan yang bekerjasama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Rabu (10/10).

Tak hanya itu pengaruh pestisida, produksi bawang merah di Kabupaten Brebes mengalami penurunan juga karena biaya produksi pengolahan lahan yang tinggi. Belum lagi harga bawang merah sering mengalami keterpurukan. Saat ini, sentra bawang merah bukan hanya di Kabupaten Brebes, tapi sudah melebar luas.

"Makanya perlu inovasi produk dan upaya menyehatkan lahan. Karena lahan juga punya hak untuk sehat. Karena itu, kami terus berupaya untuk memberi penyadaran kepada para petani agar tidak berlebihan menggunakan pestisida," tandasnya.

Sementara itu, Manajer Unit Pengembangan Ekonomi (UPE) Kantor Bank Indonesia Tegal Bursya menuturkan, pihaknya sudah melakukan intervensi untuk klaster bawang merah di Kabupaten Brebes sejak 2017. BI Tegal menjalin kerja sama untuk penyehatan lingkungan karena prihatin dengan kondisi lahan pertanian di Brebes.

"Pengembangan bawang merah itu se Indonesia dan ini menjadi persaingan yang kompetiti. Karena itu, sebagai pelaku budidaya di sentra bawang merah harus bangkit dari keterpurukan, sudah lahannya kritis, kasus stunting (agak pendek) semakin tinggi, belum lagi upaya penyehatan lingkungan belum holistik," ujarnya. (fid/fat/zul)

Berita Sebelumnya


Berita Sejenis

Sejumlah Kades Incumbent Tumbang

Sejumlah Kades Incumbent Tumbang

Sejumlah calon kepala desa (kades) incumbent atau petahana tumbang dalam pilkades serentak gelombang dua di Kabupaten Tegal yang digelar, Senin (17/12).


Hanya Ada 25 Anggota yang Hadir, Paripurna DPRD Brebes Gagal

Hanya Ada 25 Anggota yang Hadir, Paripurna DPRD Brebes Gagal

Rapat paripurna DPRD Kabupaten Brebes, Senin (17/12), gagal digelar, akibat tak memenuhi kuorum.


Diterjang Angin, Dua Ruang Ponpes Anidhom Nurul Huda Ambruk

Diterjang Angin, Dua Ruang Ponpes Anidhom Nurul Huda Ambruk

Bangunan milik Pondok Pesantren Anidhom Nurul Huda di Brebes ambruk.


Underpass Karangsawah Rampung, Potensi Macet Tinggal di Pasar Linggapura

Underpass Karangsawah Rampung, Potensi Macet Tinggal di Pasar Linggapura

Underpass di ruas jalan Tegal-Purwokerto, Karawangsawah Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes dinilai bisa mengurangi kemacetan.


700 Warga Salah Satu Desa di Brebes Pilih Jadi TKI, Sebagian Besar ART alias Pembantu

700 Warga Salah Satu Desa di Brebes Pilih Jadi TKI, Sebagian Besar ART alias Pembantu

Terbatasnya lapangan pekerjaan di Tanah Air menyebabkan masih banyak warga yang memilih menjadi tenaga kerja indonesia atau TKI ke luar negeri.


Hiii... Dikira Sebatang Kayu, ternyata Mayat yang Mengapung di Sungai

Hiii... Dikira Sebatang Kayu, ternyata Mayat yang Mengapung di Sungai

Warga di sekitar Bantaran Sungai Tengguli Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes heboh, Minggu (16/12) sore, sekitar pukul 16.45 WIB.


Empat Orang Tersambar Petir, Seorang Meninggal Seketika

Empat Orang Tersambar Petir, Seorang Meninggal Seketika

Empat orang tersambar petir saat berteduh dalam gubuk di areal persawahan Desa Cikakak Kecamatan Banjarharo Kabupaten Brebes, Jumat (14/12) sore.


Diduga Pakai Uang Sisa Prona Rp98,5 Juta, Kades di Brebes Digeruduk Warganya

Diduga Pakai Uang Sisa Prona Rp98,5 Juta, Kades di Brebes Digeruduk Warganya

Warga Desa Kedunguter Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes, yang tergabung dalam Forum Masyarakat Kedunguter, Jumat (14/12), menggeruduk kantor Desa Kedunguter.


Banyak Kecelakaan, Jalur Bawah Flyover Kretek Diminta Difungsikan Lagi

Banyak Kecelakaan, Jalur Bawah Flyover Kretek Diminta Difungsikan Lagi

Banyaknya desakan agar jalur di bawah Flyover Kretek difungsikan lagi, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Brebes melakukan inventarisasi.


Tebing Longsor, Jalan Salem-Banjarharjo Tertutup Tanah

Tebing Longsor, Jalan Salem-Banjarharjo Tertutup Tanah

Tebing Lio yang berada di tepi Jalan Raya Salem-Banjarharjo, Kabupaten Brebes di Desa Pasirpanjang Kecamatan Salem mengalami longsor, Kamis (13/12) sore.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!