Lokal
Share this on:

Warga Tolak Perubahan Status Slawi Kulon

  • Warga Tolak Perubahan Status Slawi Kulon
  • Warga Tolak Perubahan Status Slawi Kulon

MoU - Ketua Karang Taruna Tuna Jaya Desa Slawi Kulon, Agus Setiyono (kiri) bersama Sekretaris BPPH PP Kabupaten Tegal Ismet Gunawan. (yeri noveli/radar slawi)

SLAWI - Sejumlah warga yang tergabung dalam Pemuda Karang Taruna Tuna Jaya Desa Slawi Kulon, Kecamatan Slawi menolak adanya perubahan status dari Desa Slawi Kulon menjadi Kelurahan Slawi Kulon. Mereka menduga bahwa proses peralihan status itu cacat hukum. Karena tidak ada musyawarah desa (musdes) yang dilakukan oleh pemerintah desa setempat.

"Musdes belum dilakukan, tapi peraturan daerah (perda) sudah ditetapkan. Ini cacat hukum," kata Ketua Pemuda Karang Taruna Tuna Jaya Desa Slawi Kulon Agus Setiyono, Selasa (16/7).

Dia menyatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal telah menetapkan Perda Kabupaten Tegal Nomor 9 Tahun 2015 tentang Penetapan Perubahan Status Desa Slawi Kulon menjadi Kelurahan Slawi Kulon. Penetapan itu tidak disertai dengan musdes. Sejatinya, musdes dilakukan lebih dulu. Kemudian dilanjutkan dengan konsultasi ke Gubernur Jawa Tengah.

"Kami sudah minta persetujuan dari masyarakat dengan tanda tangan. Mereka secara tegas menolak adanya perubahan status menjadi kelurahan," sambungnya.

Untuk penolakan itu, lanjut Agus, Karang Taruna tidak jalan sendiri. Pihaknya juga meminta bantuan hukum ke Badan Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (BPPH) Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Tegal. Bantuan hukum itu ditandai dengan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).

"Kami sudah MoU dengan BPPH," ucapnya.

Sekretaris BPPH PP Kabupaten Tegal Ismet Gunawan membenarkan hal itu. Dia mengaku bakal mendampingi proses peralihan status tersebut. Pihaknya juga akan melakukan kajian internal guna menentukan upaya hukum selanjutnya.

"Kita akan membentuk tim hukum," tegasnya.

Dirinya tak menampik, dalam proses peralihan itu memang banyak kejanggalan. Selain belum melakukan musdes sebelum penetapan perda, juga ada masalah lainnya yang dipastikan bakal cacat hukum.

"Kami sudah ada datanya. Kalau tetap berubah status, kami akan menggugat," bebernya.

Terpisah, Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Slawi Kulon Hendartono saat dikonfirmasi ihwal perubahan status itu menyatakan jika sebagian warga sudah setuju dengan adanya perubahan status. Namun, ada beberapa warga yang tidak setuju. Meski demikian, pihaknya tetap akan melaksanakan musdes sesuai perintah dari bupati Tegal. Belum lama ini, pihaknya bersama sejumlah tokoh masyarakat telah melakukan audensi dengan bupati Tegal.

"Saat audensi itu, kami diperintahkan untuk melakukan musdes dan melengkapi persyaratan perubahan status. Seperti jumlah penduduk dan peta desa," ungkapnya.

Asisten Administrasi Pemerintahan Kabupaten Tegal Dadang Darusman mengungkapkan, proses perubahan status Desa Slawi Kulon menjadi Kelurahan Slawi Kulon saat ini sedang dievaluasi oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Gubernur Jawa Tengah. Hasil dari evaluasi itu, ada beberapa persyaratan yang harus diperbaiki dan dilengkapi. Yakni, berita acara musdes, peta desa, dan jumlah penduduk desa setempat.

"Musdes ini harus melibatkan masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh pendidikan," ujarnya.

Dia berharap, proses perubahan status itu dapat berjalan lancar. Namun, jika ada masyarakat yang tidak mendukung, maka Kemendagri juga akan menolak adanya perubahan status tersebut.

"Seluruh warga harus setuju. Kalau ada yang tidak setuju, Kemendagri juga tidak akan menyetujui," pungkasnya. (yer/gun/ima)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Momen Hari Merdeka, Warga Dukuh Kalisusu Didrop Air Bersih

Momen Hari Merdeka, Warga Dukuh Kalisusu Didrop Air Bersih

Warga Dukuh Kalisusu RT 32 RW 14 Desa Karanganyar, Kecamatan Kedungbanteng, Sabtu (17/8) didroping air bersih oleh BPBD Kabupaten Tegal.


Saat Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pria Ini Baru Tahu 'Burung'nya Loyo

Saat Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pria Ini Baru Tahu 'Burung'nya Loyo

Kesepian lama ditinggal setahun istrinya, Daryono (47), warga Dukuh Jubang, Kertasari, Suradadi, Kabupaten Tegal nekat menyetubuhi anak dibawah umur.


Warga Desa Lebaksiu Kidul Dilatih Ecoprint Teknik Pounding

Warga Desa Lebaksiu Kidul Dilatih Ecoprint Teknik Pounding

Tim II KKN Universitas Diponegoro (Undip) Lebaksiu Kidul menggelar Pelatihan Ecoprint dengan Teknik Pounding.


Malu Hamil, Oknum Mahasiswi Ini Buang Bayinya

Malu Hamil, Oknum Mahasiswi Ini Buang Bayinya

RS (19), warga Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes harus mempertanggungjawabkan perbuatannya membuang bayi yang baru saja dilahirkannya.


Status Waspada, Tradisi Rayakan HUT RI di Puncak Gunung Slamet Sementara Ditutup

Status Waspada, Tradisi Rayakan HUT RI di Puncak Gunung Slamet Sementara Ditutup

Sudah menjadi tradisi bagi komunitas pecinta alam merayakan hari ulang tahun kemerdekaan RI di puncak Gunung Slamet.


Babi Hutan Turun Gunung, Rusak Lahan Pertanian dan Rumah Warga Kabupaten Tegal

Babi Hutan Turun Gunung, Rusak Lahan Pertanian dan Rumah Warga Kabupaten Tegal

Kemarau tak hanya membuat hutan menjadi rawan kebakaran, akhir-akhir ini banyak babi hutan alias celeng yang turun gunung masuk ke perkampungan penduduk.


Dua Sepupu di Tegal Ini Sehidup Semati Nyolong Motor Bersama

Dua Sepupu di Tegal Ini Sehidup Semati Nyolong Motor Bersama

Uki Aji Aryo (26) dan Irfan (28), warga Kelurahan Margadana Kecamatan Margadana Kota Tegal harus berurusan dengan Polres Tegal Kota.


Dhofar : Sumur Milik Warga di Dukuh Jatisari Sudah Mengering

Dhofar : Sumur Milik Warga di Dukuh Jatisari Sudah Mengering

Sudah beberapa bulan terakhir ini, sumur milik warga di Dukuh Jatisari, Desa Harjosari tidak mengeluarkan air.


10.000 Liter Air Bersih Didistribusikan ke Warga Desa Harjosari

10.000 Liter Air Bersih Didistribusikan ke Warga Desa Harjosari

Dua mobil tangki air bersih isi 10.000 liter telah didistribusikan ke Desa Harjosari, Kecamatan Suradadi, Sabtu (10/8).


Status Gunung Slamet Naik, Warga Dilarang Beraktivitas 2 Kilometer dari Puncak

Status Gunung Slamet Naik, Warga Dilarang Beraktivitas 2 Kilometer dari Puncak

Meski status Gunung Slamet sudah dinaikkan dari normal menjadi waspada, namun warga dan masyarakat diminta tidak panik dan tetap tenang.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!