Nasional
Share this on:

Anak Kartosuwiryo Ucapkan Setia NKRI dan Pancasila

  • Anak Kartosuwiryo Ucapkan Setia NKRI dan Pancasila
  • Anak Kartosuwiryo Ucapkan Setia NKRI dan Pancasila

**JAKARTA ** - Sarjono Kartosuwiryo, anak dari Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo mengucapkan sumpah dan ikrar setia kepada NKRI, UUD 1945 dan Pancasila. Pengucapan ikrar tersebut dilakukan di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (13/8).

Usai bersumpah, Sarjono mencium bendera merah putih. Seperti diketahui, Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo adalah tokoh utama Gerakan DI/TII yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Sarjono memimpin pembacaan ikrar, diikuti sejumlah eks-Harokah Islam Indonesia, eks-DI/TII, dan eks NII.

Di antaranya Aceng Mi'raj Mujahidin Sibaweh, yakni putra imam DI/TII terakhir, H Yudi Muhammad Aulia (cucu pendiri KH Yusuf Taujiri dan Prof Anwar Musaddad, pendiri DI/TII). Kemudian, KH Dadang Fathurrahman, cucu dari Syaikhona Baddruzzaman yang merupakan guru Kartosuwiryo, Imam Sibaweh, Prof Mussadad, dan KH Yusuf Taujiri.

Para eks-simpatisan Harokah Islam Indonesia, DI/TII, dan NII itu juga menandatangani ikrar, serta mencium Sang Saka Merah Putih. Menurut Sarjono Kartosuwiryo, perpecahan dan permusuhan hanya akan mengakibatkan kerugian. Apalagi jika sampai terjadi pertumpahan darah.

"Akan banyak anak yatim karena ditinggal mati orang tuanya. Saya mengajak seluruh eks-Harokah Islam Indonesia, DI/TII, dan NII untuk kembali memperkokoh NKRI. Saya menerima akibat yang buruk dari perpecahan itu. Orang-orang yang mengadakan perlawanan terhadap negara, berakibat kepada anak dan keluarganya," ujar Sarjono.

Dia akan meyakinkan para pengikut gerakan yang masih tersisa untuk kembali ke pangkuan NKRI. Sarjono mengakui para pengikut DI/TII yang masih tersisa memang sudah tidak lagi tinggal di hutan pasca tahun 1962. Mereka sudah menyebar di berbagai daerah. Bahkan, mereka juga membayar pajak yang secara tidak langsung menunjukkan bukti kesetiaan terhadap NKRI, meski tidak mengakuinya.

Sarjono tidak merasa berkhianat atas perjuangan sang ayah. "Setiap saat berubah-ubah perjuangan itu. Dulu berjuang itu pakai senjata, sekarang senjatanya nggak ada. Mau berjuang pakai apa?" imbuhnya.

Di sisi lain, kontak senjata menjadikan pertumpahan darah yang justru menyisakan kesedihan atas nasib anak dan keluarga yang ditinggalkan. Dia memastikan niatnya berikrar setia kepada NKRI tulus. Dia memastikan tidak ada paksaaan, atau janji yang diberikan oleh pemerintah. "Tidak ada embel-embel lain. Saya perlu dengan negara ini," paparnya.

Sarjono Kartosuwiryomemperkirakan jumlah anggota eks gerakan itu mencapai dua juta pengikut. Sebagai keturunan dari pentolan DI/TII dan NII, Sarjono secara kultural disebut-sebut masih dianggap sebagai pimpinan kelompok.

Dari dua jutaan pengikut gerakan tersebut, Sarjono mengakui pembacaan ikrar itu baru pertama kalinya. Nanti dia bersilaturahmi dengan anggota lainnya. "Nanti baru kita kumpulkan. Dari silaturahmi, orang ke orang, baru bisa dievaluasi. Saya mengimbau seluruh rekan-rekan untuk bersatu bersama-sama membangun negara ini. Kalau negara ini rusak, ita sendiri yang tenggelam," ucapnya.

Sementara itu, Menko Polhukam Wiranto menyebutkan ideologi gerakan DI/TII merupakan embrio gerakan radikal di Indonesia. Proklamsi NII dilakukan pada 7 Agustus 1949. Wiranto menceritakan gerakan DI/TII diinisiasi pasukan perjuangan Hisbullah dan Sabilillah yang terus memperjuangkan ideologi baru melalui gerakan bersenjata.

"Sampai 1962. Gerakan bersenjata yang berpusat di Jawa Barat. Tepatnya waktu itu di Tasikmalaya dan dapat dinetralisir," terang Wiranto.

Meski organisasinya sudah habis, ternyata ideologi yang menentang Pancasila tetap berjalan dan berkembang di kalangan pendukungnya. Ideologi ini kemudian menjadi embrio gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Seperti Jihadis, Komando Jihad, Mujahidin Nusantara hingga Jamaah Islamiyah.

"Semua itu turunan ideologi yang menentang Pancasila," tukasnya.

Mantan Panglima ABRI ini bahagia dan bangga karena menjelang peringatan proklamasi kemerdekaan RI, para eks-Harokah Islam Indonesia, DI/TII, NII sadar kembali memperkuat NKRI. "Ini patut kita syukuri. Mereka sudah sadar karena gerakan ini tidak ada gunanya. Lebih baik bersatu dan bersama-sama membangun NKRI. Indonesia adalah rumah kita. Mari kita jaga dan bangun bersama," pungkas Wiranto. (rh/zul/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

Presiden Tetap Dipilih Rakyat
Presiden Tetap Dipilih Rakyat

Berita Sejenis

Indonesia Revisi Perjanjian Perdagangan Lintas Batas dengan Malaysia

Indonesia Revisi Perjanjian Perdagangan Lintas Batas dengan Malaysia

Pemerintah Indonesia dan Malaysia tengah berkomitmen untuk segera menyelesaikan proses peninjauan kembali Perjanjian Perdagangan Lintas Batas (Border Trade Agre


Izin Baru Hutan Primer dan Lahan Gambut Distop

Izin Baru Hutan Primer dan Lahan Gambut Distop

Menyelesaikan berbagai upaya untuk perbaikan dan penyempurnaan tata kelola hutan dan lahan gambut ternyata tak semudah membalikan telapak tangan.


30 Kabupaten Kota Dapat Potongan Tagihan Listrik

30 Kabupaten Kota Dapat Potongan Tagihan Listrik

PT PLN (Persero) menyatakan, akan memberikan kompensasi bagi pelanggan yang terkena pemadaman listrik 'berjamaah' pada Minggu (4/8) dan Senin (5/8) lalu.


Atasi Kerusuhan di Manokwari

Atasi Kerusuhan di Manokwari

Unjuk rasa di Manokwari, Papua Barat berujung rusuh. Sejumlah gedung pemerintahan dan fasilitas umum menjadi sasaran amuk massa.


Di Pilkada 2020, Politik Uang Masih Jadi Ancaman

Di Pilkada 2020, Politik Uang Masih Jadi Ancaman

Penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020 mendatang tak seluruhnya diikuti provinsi dan kabupaten/kota.


Bidik Dalang Kerusuhan, Layanan Publik di Papua Tak Boleh Terhenti

Bidik Dalang Kerusuhan, Layanan Publik di Papua Tak Boleh Terhenti

Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan isu-isu yang beredar terkait polemik di Papua Barat.


Pancasila Idiologi Bukan Warisan Biologis

Pancasila Idiologi Bukan Warisan Biologis

Pancasila bukan filsafat. Pancasila juga bukan warisan biologis. Maka konstruksi Pancasila harus terus dirawat dan diperjuangkan.


Mendagri Ingatkan Kepala Daerah Jaga Ucapan

Mendagri Ingatkan Kepala Daerah Jaga Ucapan

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengingatkan kepala daerah untuk menjaga ucapan agar kericuhan yang terjadi Manokwari dan Jayapura tidak terulang lagi.


Papua Memanas dan Mencekam, Gedung DPRD dan Lapas Dibakar

Papua Memanas dan Mencekam, Gedung DPRD dan Lapas Dibakar

Aksi unjuk rasa Mahasiswa dan tokoh masyarakat di Gedung DPRD Papua Barat, berujung ricuh dan membuat kondisi di wilayah itu memanaskan dan mencekam, Senin (19/


Dua Relawan Akhirnya Rekonsiliasi

Dua Relawan Akhirnya Rekonsiliasi

Peringatan HUT Kemerdekaan ke-74 RI jadi momentum rekonsiliasi relawan 01 (TKN) dan 02 (BPN) di tingkat akar rumput.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!