Nasional
Share this on:

Bagian Kotak Hitam Lion Air Akan Diteliti di Indonesia

  • Bagian Kotak Hitam Lion Air Akan Diteliti di Indonesia
  • Bagian Kotak Hitam Lion Air Akan Diteliti di Indonesia

JAKARTA - Penyebab jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 sebentar lagi akan terungkap. Kotak hitam atau black box pesawat itu sudah ditemukan kemarin pagi (1/11). Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menduga yang ditemukan itu adalah flight data recorder (FDR).

Isinya data-data penerbangan seperti ketinggian, arah, dan kecepatan pesawat. FDR punya kapasitas merekam selama 25 jam dari penerbangan. Dengan begitu, data penerbangan sebelumnya pun bisa terbaca dari FDR.

Selain FDR, ada pula cockpit voice recorder (CVR) yang berisi rekaman percakapan pilot dengan kopilot dan kru kabin, suara di kokpit, serta percakapan dengan petugas menara pemandu lalu lintas udara (air traffic controller/ATC). CVR juga sedang dicari. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menemukan titik FDR dengan sejumlah peralatan di Kapal Baruna Jaya I itu yakin juga bisa mendeteksi lokasi CVR hari ini (2/11).

Seperti diketahui, begitu sinyal kotak hitam terdeteksi, sejumlah anggota TNI-AL menyelam untuk menelusuri sekaligus menemukan lokasi FDR. Anggota Batalyon Intai Amfibi (Taifib) I Marinir Sertu Hendra Syahputra akhirnya menemukan FDR di kedalaman 35 meter perairan Karawang.

Pada pukul 18.20 FDR yang dimasukkan ke kotak khusus yang berisi air itu tiba di dermaga JICT oleh Kapal RIB Taifib. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Ketua KNKT Soerjanto dan Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M. Ilyas lantas menjelaskan perihal penemuan FDR tersebut.

Budi menuturkan, FDR itu bisa menjadi petunjuk untuk mengetahui penyebab celakanya pesawat Lion Air dengan rute penerbangan Jakarta–Pangkalpinang itu. ”Semoga dengan diperolehnya FDR ini, kami harapkan, kita bisa meneliti lebih jauh,” kata Budi.

Soerjanto menjelaskan, FDR yang ditemukan itu sudah lepas dari cangkang. Hanya menyisakan crash protection box yang berisi kartu memori. Nah, di kartu itulah data-data penerbangan tersimpan. Data tersebut bisa dijadikan bahan analisis untuk menemukan penyebab kecelakaan pesawat itu. Dibutuhkan waktu dua hingga tiga pekan untuk menganalisis data. Dia memastikan bahwa penyelidikan yang sepenuhnya dilakukan di Indonesia itu akan independen. Tak perlu meminta bantuan produsen pesawat Boeing.

”Tidak ada kaitannya (Boeing, Red) dengan ini, ya. Kami menyelidikinya, masalah kenapa kecelakaan ini, ya independen,” tegas dia.

Dia juga yakin bahwa benda yang dari kejauhan terlihat seperti tabung itu adalah FDR. Namun, untuk memastikan, diperlukan penelitian lebih lanjut di laboratorium milik KNKT.

Ilyas menambahkan, sejak hari kedua pencarian atau Selasa (30/10) sebenarnya sinyal dari kotak hitam sudah diketahui. Namun, para peneliti belum sepenuhnya yakin. Hingga berkali-kali dipastikan petugas di Kapal Baruna Jaya I yang membawa alat Multibeam Echosounder Hydrosweeps DS, Side Scan Sonar Edgetech 4125, G-882 Marine Magnetometer, dan Remote Operated Vehicle (ROV)-Seaeye 12196 Falcon.

”Sinyal itu dipastikan dengan ping locator milik KNKT Indonesia dan Singapura. Ada sumber frekuensi dari black box. Kami pastikan lagi dengan transponder,” kata Ilyas.

Caranya, menurut Ilyas, mengirimkan sinyal berkekuatan 37,5 kilohertz sesuai dengan sinyal yang dimiliki black box. Dengan alat penerima sinyal itu, bisa dideteksi lokasinya dengan metode triangulasi data. Jadi, pengecekan dilakukan dengan menembakkan sinyal tersebut dari tiga lokasi yang berbeda. Titik lokasi itu lantas diberikan kepada penyelam dari TNI dan Basarnas.

Penyelam yang membawa ping locator milik KNKT mendeteksi ke area yang lebih kecil. Cara kerjanya, semakin dekat dengan lokasi, semakin terdengar suara ping. Hingga akhirnya Sertu Hendra Syahputra menemukan FDR di kedalaman 35 meter. Koordinat temuan itu di S 05 48 48.051 - E 107 07 37.622 dan koordinat S 05 48 46.545 - E 107 07 38. Benda tersebut ditemukan pada pukul 10.10.

Hari ini (2/11) tim dari BPPT masih punya pekerjaan besar untuk mencari CVR. Lokasinya sebenarnya sudah diketahui kemarin. Namun, lokasi perkiraan itu berjarak sekitar 250 meter dari pipa milik Pertamina. Dengan demikian, kapal Baruna Jaya pun harus bergeser hingga 600 meter dari lokasi yang ditandai dengan inisial C 31 tersebut. Sesuai standar, kapal hanya boleh lego jangkar dengan jarak lebih dari 550 meter dari pipa.

Kemarin sore anggota TNI-AL dan Basarnas menyelam dengan membawa ping locator untuk mencari lokasi CVR. ”Mudah-mudahan mengetahui oh sudah ada bunyi. Berarti masih di situ,” kata Ilyas. Penyelaman kemarin hanya dibatasi hingga pukul 17.00 karena terhalang jarak pandang di kedalaman air laut.

Strategi yang akan dilakukan tim di kapal BPPT itu hari ini adalah tetap menurunkan jangkar 600 meter dari pipa Pertamina. Namun, dengan ROV yang punya kabel sepanjang 1.200 meter, tim bisa menjelajah ke lokasi tersebut.

”Bunyi ping tidak terdengar bisa jadi karena (CVR tertutup, Red) lumpur. Informasi dari penyelam, lumpur bisa selutut,” ungkap dia. (jun/wan/c11/agm/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Timnas vs Thailand, Lawan Kutukan Rajamangala

Timnas vs Thailand, Lawan Kutukan Rajamangala

“Angker” sekali Stadion Rajamangala bagi Indonesia.


Dubes Saudi: Rizieq Tak Langgar Hukum

Dubes Saudi: Rizieq Tak Langgar Hukum

Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Al Suhaibi mengungkapkan bahwa pimpinan FPI Muhammad Rizieq Shihab tidak melanggar hukum apapun.


Majukan Desa, ASPEKSINDO Bersama BNI Garap BUMDes dan Smart Village

Majukan Desa, ASPEKSINDO Bersama BNI Garap BUMDes dan Smart Village

Keseriusan Asosiasi Pemerintah Desa dan Kepulauan Indonesia (ASPEKSINDO) membangun daerah pedalaman terus terpacu.


2019, Merpati Diproyeksi Terbang Lagi

2019, Merpati Diproyeksi Terbang Lagi

Selang empat tahun sejak berhenti beroperasi, perusahaan maskapai Merpati Nusantara Airline disebut akan kembali mengudara pada tahun 2019 mendatang.


Ibu-ibu Dominasi Penyebaran Hoax

Ibu-ibu Dominasi Penyebaran Hoax

Penyebaran hoax di Indonesia kian mengkhawatirkan. Yang terbaru, hoax penculikan anak yang membuat Polri bergerak cepat menangkap penyebarnya.


Pemerintah Bikin Buoy dan Tambah Sensor Gempa

Pemerintah Bikin Buoy dan Tambah Sensor Gempa

Pemerintah berencana melakukan penguatan sistem Indonesia Tsunami Early Warning Systems (INA-TEWs) dalam waktu 3 tahun mendatang (2019-2021).


Boeing Umumkan Panduan saat Pesawat Eror

Boeing Umumkan Panduan saat Pesawat Eror

Boeing Co menulis laporan mengenai kecelakaan Pesawat Lion Air PK-LQP.


CVR Lion Air Masih Dicari

CVR Lion Air Masih Dicari

Hingga kemarin Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Lion Air PK-LQP belum juga ditemukan. Sinyal dari ping locator makin lemah.


Pesawat Lion Nyenggol Tiang Lampu, 143 Penumpang Terlambat Berangkat

Pesawat Lion Nyenggol Tiang Lampu, 143 Penumpang Terlambat Berangkat

Pesawat Lion Air kembali mengalami musibah. Pesawat dengan nomor layanan JT-633 dari menabrak tiang lampu Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu, kemarin (7/11).


Banyak Keluarga Minta Ditunjukkan Kondisi Korban

Banyak Keluarga Minta Ditunjukkan Kondisi Korban

Kondisi korban jatuhnya Lion Air JT 610 membuat keluarga ingin mengetahuinya.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!