Nasional
Share this on:

Bos First Travel Divonis Maksimal

  • Bos First Travel Divonis Maksimal
  • Bos First Travel Divonis Maksimal

DEPOK - Seolah air matanya telah mengering, tak ada raut sedih yang berlebihan dari Anniesa Hasibuan dan dua terdakwa kasus penipuan haji dan umroh lainnya, Andika Surachman, dan Kiki Hasibuan, ketika hakim membacakan vonis kepada mereka, kemarin, di Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok.

Padahal, ketika jaksa membacakan tuntutan pada sidang sebelumnya, Anniesa Hasibuan yang juga seorang desainer itu berlinang air mata. Ya, Majelis hakim PN Depok akhirnya memvonis direktur First Travel (FT) Andika dan Anniesa Hasibuan dengan hukuman selama 20 tahun dan 18 tahun penjara dengan denda 10 miliar subsider 1 tahun 4 bulan.

Sedangkan untuk terdakwa Kiki Hasibuan alias Siti Nuraidah Hasibuan yang merupakan adik dari Anniesa divonis hakim 15 tahun penjara. Ketua majelis hakim, Sobandi menyatakan, ketiga pentolan biro perjalanan umrah First Travel, terbukti bersalah melakukan Tindakan Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan penipuan terhadap calon jemaah umrah.

Selain itu mereka diwajibkan membayar denda 10 miliar subsider 1 tahun 4 bulan kurungan. "Menyatakan Andika dan Annisa Hasibuan bersalah melakukan penipuan dan pencucian uang. Majlis hakim menjatuhkan 20 tahun untuk Andika dan 18 tahun untuk Annisa Hasibuan dengan denda 10 miliar subsider 1 tahun 4 bulan," ujar Sobandi.

Sama halnya dengan dua terdakwa lainnya, Kiki kata Sobandi, juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 5 miliar. Bila denda tidak dibayarkan, maka diganti dengan 8 bulan kurungan.

Dalam menjalankan bisnis First Travel, Kiki maupun kakak dan kakak iparnya, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan hanya mengandalkan dana setoran jemaah. Uang setoran jemaah terbukti digunakan untuk kepentingan pribadinya di luar bisnis First Travel.

Sobandi menjelaskan, para terdakwa terbukti mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah bentuk menukarkan uang dan surat berharga serta perbuatan lainya.

"Kami memvonis terdakwa dengan pasal 378 KUHP junto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP junto pasal 64 ayat (1) KUHP dan pasal 3 Undang - Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang,"

Uang jamaah digunakan antara lain untuk wisata keliling Eropa dan untuk membeli rumah.

Sementara itu, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan melalui pengacaranya, Wirananda menyatakan menolak vonis yang diberikan majelis Hakim. Pihaknya akan memikirkan dan mendiskusikan upaya hukum selanjutnya yang akan ditempuh klienya.

"Mengenai vonis yang dibacakan oleh hakim, saya sih berbicara pandangan klien. Dari pandangan kami sebagai pengacara, saya pribadi menolak," ujarnya.

Pihaknya akan mendiskusikan hal tersebut dalam beberapa hari ke depan. "Kami akan diskusikan upaya hukum apa yang akan diambil. Yang jelas, kata kuncinya sudah saya jelaskan bahwa kami menolak putusannya," jelasnya.

Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan jika akan mengajukan banding. Alasan dilakukan banding adalah adanya aset yang bisa digunakan untuk memberangkatkan jamaah.

"Karena kan mengenai aset juga pertimbangan dari kami. Harapan besar dari kami, aset-aset yang dimiliki oleh FT dipergunakan untuk kepentingan jemaah. Artinya untuk memberangkatkan jemaah atau refund untuk jemaah," terangnya.

Dirinya mengatakan, jika kliennya sepakat jika menggunakan aset untuk memberangkatkan jamaah. "Justru klien saya yang pertama kali ngomong itu. Katanya untuk jemaah. Tanggung jawab moril paling berat bagi Bu Anniesa, katanya dia akan berangkatkan gimana pun caranya," tutupnya. (bry/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Dituntut Jaksa Penjara 20 Tahun, Bos Travel Nangis

Dituntut Jaksa Penjara 20 Tahun, Bos Travel Nangis

Anniesa Hasibuan, salah satu terdakwa kasus penipuan berkedok biro haji dan umroh First Travel tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.


Divonis 15 tahun, Setnov Siapkan Banding

Divonis 15 tahun, Setnov Siapkan Banding

Kubu Setya Novanto (Setnov) sepertinya bakal melakukan perlawanan terhadap vonis yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta.


Bos Pabrik Miras Pembunuh 51 Orang Dibekuk

Bos Pabrik Miras Pembunuh 51 Orang Dibekuk

Polda Jawa Barat yang bertekad untuk membongkar habis pabrik miras Cicalengka berhasil membekuk bos pabrik pembunuh 51 orang.


Satu NIK Boleh untuk Tiga Nomor

Satu NIK Boleh untuk Tiga Nomor

Pemerintah akhirnya mengabulkan keinginan para pemilik konter seluler yang memprotes aturan registrasi 1 NIK untuk maksimal 3 kartu atau nomor.


Syahrini Bantah Kecipratan Uang First Travel

Syahrini Bantah Kecipratan Uang First Travel

Syahrini memenuhi panggilan sebagai saksi dalam kasus penipuan biro umroh dan haji First Travel (FT), kemarin.


Kematian Bos Matahari, Keluarga Sebut karena Serangan Jantung

Kematian Bos Matahari, Keluarga Sebut karena Serangan Jantung

Keluarga mengikhlaskan kepergian Hari Darmawan. Pendiri Matahari Department Store itu ditemukan meninggal dunia di aliran Sungai Ciliwung di Bogor.


BOS Mandek, Setengah Juta Siswa Kesetaraan Terancam Putus Sekolah

BOS Mandek, Setengah Juta Siswa Kesetaraan Terancam Putus Sekolah

Pemerintah gencar merekrut anak putus sekolah kembali bersekolah.


Beban Negara Kian Besar Karena Terpidana Mati

Beban Negara Kian Besar Karena Terpidana Mati

Togiman alias Toge terpidana mati yang terancam divonis mati kali ketiga hanya satu dari ratusan terpidana mati kasus narkotika.


Empat Bandar Buruan Mabes Divonis Mati

Empat Bandar Buruan Mabes Divonis Mati

Daftar terpidana mati di Lampung semakin panjang. Jika pada 2017 mencapai 14 orang, saat ini, pekan kedua 2018, jumlah tersebut bertambah menjadi 18 terpidana m


Tertipu, 1.800 Calon Jamaah Umrah Gagal Terbang

Tertipu, 1.800 Calon Jamaah Umrah Gagal Terbang

Kasus penipuan travel umrah Hannien Tour (HT) membuka fakta bahwa kejahatan umrah tidak melulu terjadi di paket umrah murah.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!