Nasional
Share this on:

Bus yang Celaka di tanjakan Emen Laik Jalan

  • Bus yang Celaka di tanjakan Emen Laik Jalan
  • Bus yang Celaka di tanjakan Emen Laik Jalan

Korban bus terguling di Tanjakan Emen, Subang, Jabar saat dievakuasi aparat kepolisian. (dok. Jawapos)

JAKARTA - Informasi yang beredar kecelakaan fatal di tanjakan Emen, Subang, yang menewaskan 27 orang, Sabtu lalu (10/2), dipicu rem blong. Sehingga sejumlah pihak meragukan kelayakan bus berlabel Premium Fassion itu.

Namun Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebutkan kecil kemungkikan kecelakan tersebut disebabkan faktor kelaikan jalan kendaraan. Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiadi mengatakan kecil kemungkinan kecelakaan di tanjakan Emen, Subang tersebut disebabkan oleh faktor kelaikan kendaraan.

Persyaratan dokumen kelaikan Jalan telah dipenuhi oleh pemilik Bus pariwisata nahas bernopol F 7959 AA produksi pabrikan Mercedes tersebut. “Dokumen uji KIR nya baru. Tanggal 4 bulan Oktober 2017 lalu,” ujar Budi pada Jawa Pos, kemarin.

Selain KIR, bus tersebut diketahui masih terhitung baru. “Keluaran tahun 2012, untuk pariwisata memang kami wajibkan usianya maksimal 10 tahun,” ungkap Budi.

Meski demikian, Budi mengatakan KIR bukanlah jaminan sebuah kendaraan bisa terhindar dari kecelakaan. Ada banyak faktor yang mungkin terjadi. Bisa saja beberapa bagian mengalami masalah selepas uji KIR.

Budi mengungkapkan dirinya telah memerintahkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk segera melakukan investigasi bekerjasama dengan pihak kepolisian. Budi mengaku belum tahu persis berapa waktu yang dibutuhkan oleh tim KNKT.

“Tapi biasanya dalam 2 minggu sudah ada rekomendasi, tapi bisa saja ada satu dan lain hal,” ujarnya.

Saat ini, Kemenhub masih menunggu rekomendasi dari KNKT untuk memutuskan kebijakan selanjutnya. Begitu rekomendasi keluar, Budi akan segera memanggil seluruh stakeholder terkait. Mulai dari operator hingga pemilik kendaraan.

“Kami juga akan undang dari produsen, pihak Mercedes untuk dukungan teknis,” pungkasnya.

Kecelakaan di darat telah menjadi perhatian dalam beberapa bulan terakhir. KNKT merilis data sampai 31 Desember 2017, Ada 15 kecelakaan besar yang telah terjadi. 10 diantaranya adalah tabrakan. 3 kendaraan terguling, serta 2 kejadian kendaraan terbakar.

Sementara Dirlantas Polda Jawa Barat Kombespol Prahoro Tri Wahyono menuturkan, saat ini masih proses penyelidikan untuk mengetahui kondisi bus. Terutama kondisi rem bus pariwisata tersebut.

”Masih pendalaman, belum diketahui remnya blong atau ada yang lain,” terangnya.

Yang juga akan dilihat adalah bagaimana dengan kondisi sopir bus. Menurutnya, akan dilakukan pemeriksaan pada sopir bila telah memungkinkan. ”Sopir juga mengalami luka,” ujarnya. (tau/idr/wan/jpg)

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!