Nasional
Share this on:

Dituding Terlibat Pembunuhan Khashoggi, Adik Pangeran Protes CIA

  • Dituding Terlibat Pembunuhan Khashoggi, Adik Pangeran Protes CIA
  • Dituding Terlibat Pembunuhan Khashoggi, Adik Pangeran Protes CIA

Pangeran Khalid bin Salman.

WASHINGTON - Pangeran Khalid bin Salman berang. Dia tak terima dituding terlibat dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu terkait berita yang diunggah oleh The Washington Post Jumat (16/11).

Sumber yang dikutip harian tersebut menyatakan bahwa Badan Intelijen Amerika Serikat (AS), yakni Central Intelligence Agency (CIA) menyimpulkan bahwa Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) adalah dalang di balik pembunuhan Khashoggi.

Lembaga yang berpusat di Virginia itu tak sembarangan menarik kesimpulan. Mereka telah mempelajari beberapa sumber intelijen. ''Termasuk diantaranya sambungan telepon antara Pangeran Khalid dan Khashoggi,'' ujar sumber itu.

Khalid adalah adik dari MBS. Dia juga duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS). Saat itu Khalid disebut menyarankan pada Khashoggi untuk mengambil dokumen di konsulat Saudi yang berada di Istanbul, Turki. Khashoggi membutuhkan dokumen keterangan cerai dari istri pertamanya agar bisa menikahi tunangannya, Hatice Cengiz. Khalid memberi jaminan bahwa pengambilan dokumen itu bakal aman.

Tidak diketahui dengan pasti apakah Khalid tahu bahwa Khashoggi akan dibunuh di Istanbul. Yang jelas, dia melakukan panggilan itu atas arahan saudaranya, MBS. Sambungan telepon tersebut telah disadap oleh intelijen AS.

''Saya tak pernah berbicara dengannya (Khashoggi) lewat telepon dan tentu saja tak pernah menyarankan dia pergi ke Turki untuk alasan apapun,'' tulis Khalid Sabtu (17/11) di akun Twitter-nya seperti dikutip Arab News.

Dia meminta pemerintah AS mengungkapkan bukti-bukti dan informasi terkait klaim yang diunggah media AS tersebut. Khalid menegaskan bahwa dia pernah memaparkan pada The Post (sebutan untuk The Washington Post, Red) bahwa terakhir kali dia berhubungan dengan Khashoggi pada 26 Oktober 2017. Itupun via pesan teks, bukan telepon.

''Ini adalah tudingan serius dan seharusnya tidak boleh hanya ditulis dari sumber anonim,'' tegasnya.

Penyataan senada dilontarkan Juru Bicara Kedutaan Besar Saudi di Washington, AS, Fatimah Baeshen. Dia menegaskan bahwa Khalid dan Khashoggi tidak pernah mendiskusikan apapun terkait perjalanan ke Turki. Dia mengklaim bahwa kesimpulan CIA itu salah. Menurut dia, Saudi telah mendengar berbagai spekulasi terkait pembunuhan Khashoggi, tapi tanpa ada bukti kuat.

CIA tidak menyimpulkan berdasar panggilan telepon itu saja. Tapi juga didasarkan pada penilaian CIA atas sosok MBS yang merupakan pemimpin de fakto di Saudi. MBS mengawasi segala urusan dari yang terbesar hingga terkecil.

Ayahnya, Raja Salman, memang pemimpin tertinggi. Namun, kini sedikit demi sedikit Raja Salman sudah melepas kekuasaannya ke MBS. Karena itu, kecil kemungkinan pembunuhan itu terjadi tanpa keterlibatan atau sepengetahuan MBS.

CIA melihat MBS sebagai seorang teknokrat yang baik. Tapi, dia juga merupakan orang yang arogan dan mudah berubah pendiriannya. ''Seseorang yang berubah dari 0 ke 60 tampaknya tak paham bahwa ada hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan,'' papar sumber itu terkait kesimpulan CIA.

Dulu sosok MBS memang tak seterkenal saat ini. Semua berubah ketika Raja Salman memberikan posisi putra mahkota padanya. Seharusnya yang menjadi putra mahkota adalah Pangeran Muqrin.

Dia hanya tiga bulan menjadi putra mahkota sebelum Raja Salman mencabut gelarnya dan memberikannya ke Pangeran Muhammad bin Nayef. Selama 2 tahun, Nayef mengampu jabatan itu hingga pada 21 Juni 2017 dia harus rela saat posisinya diberikan ke MBS.

Analis CIA meyakini bahwa MBS memiliki kuasa yang kuat dan tak takut kehilangan statusnya sebagai putra mahkota meski terjerat skandal Khashoggi. Semua orang sudah menerima begitu saja bahwa dialah yang akan menjadi Raja Saudi di kemudian hari.

Bukti lainnya adalah rekaman di konsulat Saudi di Istanbul pada detik-detik kematian Khashoggi. Direktur CIA Gina Haspel telah mendengarkan rekaman tersebut. Dari rekaman itu diketahui bahwa Khashoggi dibunuh sesaat setelah masuk ke dalam gedung konsulat.

CIA juga meneliti panggilan telepon di dalam gedung konsulat pasca pembunuhan. Saat itu Maher Mutreb menelepon Saud Al Qahtani. Mutreb adalah petugas keamanan yang kerap tampak di sisi MBS. Sedangkan Qahtani adalah penasihat sekaligus tangan kanan sang putra mahkota. Mutreb meminta Qahtani bilang ke tuannya bahwa perintah telah dijalankan.

Terkait laporan The Post tersebut, CIA menolak berkomentar. Pun demikian dengan Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump selama ini memang menghindari menuduh MBS terlibat. MBS selama ini memiliki hubungan cukup dekat dengan Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat pribadi Trump.

Suami Melania itu sudah diperlihatkan bukti keterlibatan MBS, tapi dia tetap ragu bahwa putra mahkotalah yang memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Trump berulang kali bertanya kepada CIA dan pejabat departemen luar negeri tentang jasad Khashoggi.

Dia menjadi frustasi saat tidak mendapat jawaban. Kecuali si pembunuh, tak ada yang tahu di mana jasad Khashoggi. Turki menduga jasad itu telah lenyap dilarutkan ke cairan asam.

Sementara itu, pemerintah Turki kembali membocorkan rekaman audio baru. Rekaman berdurasi 15 menit itu diambil di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul. Tepatnya sekitar 15 menit sebelum Khashoggi tiba.

''Terdengar pejabat Saudi mendiskusikan bagaimana cara mengeksekusi Khashoggi. Mereka meninjau kembali rencana yang sudah disusun sebelumnya dan mengingatkan tugas masing-masing,'' tulis kolumnis Hurriyet Daily abdulkadir Selvi. (sha/oni/jpg)

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Jelaskan Ekspor Loyo, Sri Mulyani Dituding Sebar Hoaks

Jelaskan Ekspor Loyo, Sri Mulyani Dituding Sebar Hoaks

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dituding telah menyebarkan berita bohong atau hoaks oleh anggota DPR RI.


Komplotan Pelaku Bom Bunuh Diri Kartasura Berafiliasi Langsung ke ISIS

Komplotan Pelaku Bom Bunuh Diri Kartasura Berafiliasi Langsung ke ISIS

Mabes Polri menyampaikan keberhasilan Tim Densus 88 Antiteror menangkap dua pria lain yang terlibat dalam aksi percobaan bom bunuh diri di Kartasura.


Lukman Hakim Dituding Terima Rp10 Juta

Lukman Hakim Dituding Terima Rp10 Juta

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui tim Biro Hukum menyebutkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima Rp10 juta.


Rekapitulasi Manual Dibayangi Protes

Rekapitulasi Manual Dibayangi Protes

Rekapitulasi suara pemilu tingkat nasional sudah dilakukan. KPU mengawalinya dengan merekap hasil pemilu di luar negeri.


Sawit Indonesia Didiskriminasi, JK Layangkan Protes di BRF

Sawit Indonesia Didiskriminasi, JK Layangkan Protes di BRF

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk melawan kebijakan uni Eropa mendiskriminasi produk kelapa sawit (Crude Palm Oil).


Tak Ada WNI Jadi Korban Bom Srilanka JAKARTA-

Tak Ada WNI Jadi Korban Bom Srilanka JAKARTA-

Mabes Polri memastikan tidak ada satupun WNI yang terlibat, baik yang menjadi korban atau pelaku teror bom di Sri Lanka.


Kemenlu Bantah WNI Terlibat Pengeboman di Sri Lanka

Kemenlu Bantah WNI Terlibat Pengeboman di Sri Lanka

Kementerian Luar Negeri RI membantah kabar tentang dugaan WNI yang terlibat serangan bom beruntun di Hotel Shangri-La, Kolombo, Sri Lanka.


Australia Tak Ingin Ba’asyir Bebas Bersyarat

Australia Tak Ingin Ba’asyir Bebas Bersyarat

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengajukan protes atas rencana pembebasan Abu Bakar Ba’asyir dari penjara.


Polisi Miliki Data 145 Model-Artis Terlibat Prostitusi Online

Polisi Miliki Data 145 Model-Artis Terlibat Prostitusi Online

Kasus prostitusi yang melibatkan artis papan atas terus bergulir.


Adik Korban Sebut Pelaku Penembakan Letkol Dono Tak Sendirian

Adik Korban Sebut Pelaku Penembakan Letkol Dono Tak Sendirian

Jenazah Letkol CPM Dono Kuspriyanto dimakamkan di Taman Makam Bahagia Dreded Kecamatan Bogor Selatan, kemarin.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!