Nasional
Share this on:

Gamawan: Karena Perintah, Saya Kerjakan

  • Gamawan: Karena Perintah, Saya Kerjakan
  • Gamawan: Karena Perintah, Saya Kerjakan

JAKARTA - Kubu Setya Novanto (Setnov) terus berupaya mencari celah keterlibatan para saksi dalam konstruksi besar korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Setelah pekan lalu menguliti peran mantan kader Partai Demokrat Mirwan Amir, kemarin (29/1) giliran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) periode 2009-2014 Gamawan Fauzi yang dicecar habis-habisan soal e-KTP.

Gamawan menjadi saksi jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama dengan mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraeni, Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakhrulloh, ketua panitia pengadaan proyek e-KTP tahun anggaran 2011-2012 Drajat Wisnu Setyawan dan mantan Kasubag Tata Usaha Pimpinan Dirjen Dukcapil Suciyati.

Penasehat hukum (PH) Setnov, Firman Wijaya dalam tanya jawab di persidangan mencecar Gamawan terkait dengan terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10/2010 tentang Pembentukan Tim Pengarah Penerbitan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Penerapan KTP Berbasis NIK Secara Nasional. Pembentukan tim itu jarang didalami jaksa penuntut KPK.

”Kaitan dengan tugas memberikan petunjuk dan dukungan, apakah ada bentuk intervensi ataupun saran daripada Pak Novanto?” tanya Firman. ”Saya tidak tahu,” aku Gamawan.

Menurut Gamawan, pihaknya hanya kebagian tugas membentuk tim teknis dari 15 kementerian yang menjadi anggota tim pengarah tersebut. Selain itu, kubu Setnov yang memang getol mencari pelaku utama e-KTP itu juga menanyakan seputar alasan penolakan Gamawan terhadap proyek e-KTP dalam rapat bersama Wakil Presiden (Wapres) Boediono. Padahal, kala itu, proyek e-KTP sedang bergulir.

”Saya ngeri sebenarnya, tapi karena perintah, saya kerjakan,” ungkap Gamawan menjawab pertanyaan itu.

Dalam sidang kemarin, upaya tim PH Setnov bisa dikatakan belum membuahkan hasil. Meski demikian, ada yang menarik dalam sidang yang berlangsung 10 jam lebih itu. Yakni, ketika saksi Diah Anggraeni tiba-tiba ingin mengajukan pembelaan atau eksepsi ke majelis hakim. Padahal, Diah bukan terdakwa.

Sontak, pengunjung sidang yang semula tenang berubah riuh. Mereka tertawa mendengar jawaban hakim atas keinginan Diah itu. ”Apa mau jadi terdakwa?” jawab ketua majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Yanto kepada Diah.

Yanto pun menyarankan Diah memberikan tambahan keterangan itu kepada jaksa atau penuntut umum. ”Kalau bukti meringankan dikasih ke penasehat hukum, kalau memberatkan ke penuntut umum,” imbuh Yanto.

Mendengar jawaban hakim, Diah yang tampak kecele pun kembali ke tempat duduk saksi. ”Maaf Yang Mulia. Sangat tidak (ingin menjadi terdakwa, Red),” ujar perempuan yang kini sudah pensiun dari pegawai negeri sipil (PNS) itu.

Saat di persidangan, Diah kemarin kembali dicecar pertanyaan seputar pertemuan dengan Setnov di Hotel Gran Melia pada Februari 2010 lalu. Mantan pejabat Kemendagri yang terbukti menerima uang USD 500 ribu dari e-KTP tersebut pun mengaku tidak tahu maksud dan tujuan pertemuan itu.

Dia hanya mengatakan dalam pertemuan itu Setnov meminta pihak Kemendagri mengawal proyek e-KTP. (tyo/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Penerima PKH dan BPNT Diharuskan Tidak Merokok

Penerima PKH dan BPNT Diharuskan Tidak Merokok

Tingkat kemiskinan Indonesia turun, karena sebagian pindah ke level hampir miskin. Masyarakat di level ini rentan turun level menjadi miskin kembali.


Ketahuan Bawa Sabu, Wadiresnarkoba Polda Kalbar Langsung Dicopot

Ketahuan Bawa Sabu, Wadiresnarkoba Polda Kalbar Langsung Dicopot

Karopenmas Divisihumas Polri Brigjen Pol M Iqbal membenarkan adanya oknum anggota polisi yang diamankan karena kedapatan membawa narkoba.


Seminggu, Ratusan Jamaah Haji Tersesat

Seminggu, Ratusan Jamaah Haji Tersesat

’’Nak tolong, saya lupa jalan pulang ke penginapan. Sandal saya hilang, saya gak kuat, capek muter-muter dari tadi,’’


Lupa Naruh Sandal, Kaki Jamaah Haji Terbakar

Lupa Naruh Sandal, Kaki Jamaah Haji Terbakar

Suhu panas di Madinah membuat jemaah haji harus dirawat. Beberapa diantaranya mengalami luka bakar pada kaki karena kehilangan alas kaki.


Wakapolri: Videokan Polisi di Jalan, Kalau Benar Langsung Saya Pecat

Wakapolri: Videokan Polisi di Jalan, Kalau Benar Langsung Saya Pecat

Presiden Jokowi memerintahkan langsung Wakapolri Komisaris Jenderal Syafrudin memberantas praktik pemalakan terhadap para sopir truk.


Server UNBK Down, Kemendikbud Berkilah karena Peserta Lebih Banyak

Server UNBK Down, Kemendikbud Berkilah karena Peserta Lebih Banyak

Hari pertama ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tingkat SMP di beberapa daerah molor. Peserta ujian tak bisa mengakses soal.


Kematian Bos Matahari, Keluarga Sebut karena Serangan Jantung

Kematian Bos Matahari, Keluarga Sebut karena Serangan Jantung

Keluarga mengikhlaskan kepergian Hari Darmawan. Pendiri Matahari Department Store itu ditemukan meninggal dunia di aliran Sungai Ciliwung di Bogor.


Beban Negara Kian Besar Karena Terpidana Mati

Beban Negara Kian Besar Karena Terpidana Mati

Togiman alias Toge terpidana mati yang terancam divonis mati kali ketiga hanya satu dari ratusan terpidana mati kasus narkotika.


Diperiksa, Ustad Zulkifli Bingung

Diperiksa, Ustad Zulkifli Bingung

Kemarin (18/1) Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipid Siber) Bareskrim memeriksa Ustad Zulkifli Muhammad Ali karena dugaan pidana ujaran kebencian.


Jadi Tahanan KPK, Presiden Minta Setnov Ikuti Proses Hukum

Jadi Tahanan KPK, Presiden Minta Setnov Ikuti Proses Hukum

Presiden Joko Widodo yang gerah karena terus ditanya mengenai kasus yang membelit Setnov akhirnya bersuara lebih tegas.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!