Nasional
Share this on:

Jokowi-Prabowo Bertemu, Kurs Rupiah Menguat

  • Jokowi-Prabowo Bertemu, Kurs Rupiah Menguat
  • Jokowi-Prabowo Bertemu, Kurs Rupiah Menguat

**JAKARTA ** - Pascapertemuan Jokowi-Prabowo ternyata berdampak positif terhadap nilai tukar (kurs) rupiah. Tercatat pada Senin (15/7) petang, posisinya menguat dan berimpilikasi pada surplusnya neraca perdagangan Juni 2019.

Ya, rupiah menguat 88 poin atau 0,63 persen menjadi Rp13.920 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.008 per dolar AS. "Rekonsiliasi hari Sabtu antara Jokowi dan Prabowo mampu memperbaiki stabilitas politik dalam negeri yang diharapkan juga mendorong stabilitas perekonomian," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, kemarin.

Di sisi lain, pidato Presiden Jokowi yang memaparkan Visi Indonesia yang berisi lima fokus pembangunan yaitu infrastruktur, sumber daya manusia, investasi, reformasi birokrasi, dan optimalisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membuat investor kini sudah mendapat gambaran seperti apa arah kebijakan pemerintahan Jokowi pada periode kedua.

"Tidak terlampau jauh dibandingkan yang pertama, hanya ada penguatan di sana-sini," ujar Ibrahim.

Sentimen positif dari domestik lainnya yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Juni 2019 mencapai 11,78 miliar dolar AS sedangkan nilai impor mencapai 11,58 miliar dolar AS sehingga neraca perdagangan tercatat surplus hampir 200 juta dolar AS, walaupun surplus tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yaitu 516 juta dolar AS.

Dari eksternal, arah kebijakan moneter global semakin jelas terkonfirmasi menuju pelonggaran. Paparan Ketua Federal Reserve (Fed) Jerome Powell dan risalah rapat The Fed telah memberikan kode keras kepada pelaku pasar bahwa besar kemungkinan Negeri Paman Sam juga akan mengikuti jejak Australia, India, Malaysia, dan Filipina yang telah duluan menurunkan suku bunga acuan mereka.

"Sinyal dari Powell diharapkan sudah cukup kuat untuk melunakkan hati Bank Indonesia untuk turut memangkas suku bunga acuan," kata Ibrahim.

Sementara itu Bank Indonesia diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan menjadi 5,75 persen dari enam persen pada Rapat Dewan Gubernur 17-18 Juli 2019 pekan ini. Perkiraan tersebut dipicu semakin kuatnya sinyalemen Bank Sentral AS The Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga acuannya tahun ini, serta meredanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

"Hal itu karena ekspektasi posisi (stance) kebijakan moneter yang longgar dari Bank Sentral negara-negara maju, salah satunya The Fed yang diperkirakan akan mulai menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25-50 basis poin pada tahun ini sejalan dengan perlambatan ekonomi AS yang terindikasi dari proyeksi inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan awal," kata Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede, kemarin.

JIka Bank Sentral benar-benar berani menurunkan suku bunga acuan 7-day reverse repo rate pada pekan ini, maka hal itu akan menjadi kali pertama pelonggaran suku bunga acuan sejak November 2018. Sepanjang 2018. BI memposisikan sebagai otoritas yang cenderung hawkish dengan merealisasikan kenaikan suku bunga acuan secara agresif hingga 1,75 persen menjadi enam persen, untuk membendung keluarnya modal asing.

Josua menilai beberapa faktor yang membuat BI perlu memangkas suku bunga acuannya pada pekan ini adalah tekanan ekonomi eksternal yang mereda seperti melunaknya sengketa perdagangan antara dua negara raksasa ekonomi dunia AS dan Cina. Selain itu, dalam pernyataan publik terakhirnya, Gubernur The Fed Jerome Powell menonjolkan gestur bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) sebesar 25-50 basis poin untuk memompa kegiatan ekonomi AS.

"Ruang pelonggaran kebijakan moneter BI pun juga terbuka mengingat nilai tukar rupiah cenderung stabil terindikasi dari volatilitas rupiah yang menurun dalam sebulan terakhir ini, dan ada ekspektasi menyusutnya defisit transaksi berjalan pada tahun ini," kata dia.

Kurs rupiah dalam beberapa hari terakhir menguat ke level psikologis baru di bawah Rp14.000 per dolar AS. Namun tak dapat dipungkiri, penguatan rupiah itu juga terbantu dengan greenback dolar AS yang terus tertekan karena sentimen pasar terhadap kebijakan perekonomian dan retorika di AS.

Adapun BI memiliki sasaran untuk menjaga defisit transkasi berjalan di rentang 2,5 persen hingga tiga persen Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2019, setelah pada 2018 defisit transaksi berjalan tercatat di 2,98 persen PDB.

Josua menilai penurunan suku bunga acuan akan menjadi stimulus yang efektif dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah risiko perlambatan ekonomi global pada tahun ini. Adapun, Bank Sentral menargetkan pertumbuhan ekonomi akan berada di 5,0 persen hingga 5,4 persen pada tahun ini. (ful/zul/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Sri dan Susi Layak Dipertahankan, Tjahjo Kumolo Tunggu Perintah

Sri dan Susi Layak Dipertahankan, Tjahjo Kumolo Tunggu Perintah

Kinerja para menteri Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla tak pernah lepas dari sorotan. Terutama warganet di media sosial.


Menteri Harus Profesional, Jangan dari Parpol

Menteri Harus Profesional, Jangan dari Parpol

residen Joko Widodo (Jokowi) akhirnya membocorkan komposisi kabinet periode 2019-2024.


PPP dan Gerindra Beber Hanya Pertemuan Biasa

PPP dan Gerindra Beber Hanya Pertemuan Biasa

Plt Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa bertemu dengan Ketum DPP Gerindra Prabowo Subianto, Kamis (15/8).


Jokowi Minta 2020 Kurangi Impor

Jokowi Minta 2020 Kurangi Impor

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap Januari 2020 nanti pelaksanaan mandatori biodiesel sudah bisa berpindah dari B20 (Biodiesel 20) menjadi B30.


PDIP Berpeluang Sepaket dengan Eks Koalisi Prabowo

PDIP Berpeluang Sepaket dengan Eks Koalisi Prabowo

Agenda amandemen terbatas UUD 1945 dalam pemilihan Ketua MPR RI periode 2019-2024 menjadi isu menarik.


Ayo Ungkap Siapa Penumpang Gelapnya

Ayo Ungkap Siapa Penumpang Gelapnya

Siapa penumpang gelap yang disebut Gerindra memanfaatkan Prabowo Subianto hingga kini masih misterius.


Manuver Poros Baru Ganggu Jokowi

Manuver Poros Baru Ganggu Jokowi

Kian mesranya poros Kartangera dan Teuku Umar, tidak menutup kemungkinan muncul gerakan pembentukan poros baru.


Jokowi dan Mahathir Bahas Tiga Isu

Jokowi dan Mahathir Bahas Tiga Isu

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menyampaikan, pertemuan Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad membahas tiga isu.


Gerindra Putuskan Sikap Politik September Nanti

Gerindra Putuskan Sikap Politik September Nanti

Ketua Umum Prabowo Subianto diberi wewenang penuh untuk memutuskan langkah politik ke depan. Mau bergabung atau di luar pemerintahan.


Menteri Jangan Rangkap Jabatan Ketum Parpol

Menteri Jangan Rangkap Jabatan Ketum Parpol

Pada Oktober 2019 mendatang, Jokowi-Ma'ruf Amin bakal dilantik sebagai presiden dan wapres periode 2019-2024.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!