Nasional
Share this on:

Kapolri Sebut Ada Petunjuk ke Pelaku

  • Kapolri Sebut Ada Petunjuk ke Pelaku
  • Kapolri Sebut Ada Petunjuk ke Pelaku

JAKARTA - Penyelidikan teror bom di rumah dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M. Syarif dan Agus Rahardjo, mengalami kemajuan. Polri memastikan sedang menganalisis hasil empat rekaman closed circuit television (CCTV).

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan isyarat adanya petunjuk yang didapatkan penyidik untuk mengetahui pelaku teror, khususnya yang terjadi di rumah Laode. Tito menjelaskan bahwa kepolisian telah menemukan sejumlah petunjuk menarik terkait teror di rumah dua pimpinan KPK. Namun, petunjuk tersebut belum bisa dijabarkan.

”Ya, semoga secepatnya terungkap,” papar Tito di kampus Universitas Indonesia (UI) kemarin (10/1).

Dia mengaku telah menginstruksi Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz untuk membuat tim gabungan dengan KPK guna mengungkap kasus teror tersebut. Harapannya, pengungkapan kasus itu bisa lebih transparan. ”Saya sudah koordinasi dengan Pak Agus dan Pak Laode,” ujarnya.

Saat ini penyelidikan kasus tersebut sedang fokus ke rekaman CCTV di rumah kedua pimpinan. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa empat CCTV itu dianalisis untuk bisa mendapatkan petunjuk. ”Tim sedang bekerja untuk mengetahui apakah pelaku dapat dikenali melalui CCTV. Masih proses, ya,” ujarnya.

Bukankah ada dua pelaku berboncengan yang terekam di CCTV? Dia mengaku hal tersebut masih dianalisis. ”Perlu dilihat, terekam itu apakah bisa dikenali. Kalau ternyata pakai topeng dan sebagainya,” jelasnya.

Yang pasti, empat CCTV itu diupayakan bisa mengurut perjalanan pelaku. Dari mana pelaku masuk area rumah pimpinan KPK hingga menaruh atau melemparkan bom molotov di rumah Laode. ”Ini yang sedang disusun,” paparnya.

Dalam kasus tersebut, ada 12 saksi yang telah diperiksa. Saksi-saksi tersebut dimintai keterangan terkait kronologi kejadian dan kemungkinan melihat pelaku. ”Tapi, kebanyakan hanya melihat bom molotov yang telah pecah dan mengeluarkan api,” paparnya.

Dedi meminta masyarakat tidak mempersepsikan kasus tersebut di luar fakta hukum. Sebab, penegakan hukum itu berdasar fakta hukum yang ditemukan. Kejadian tersebut perlu dibuktikan secara ilmiah, misalnya, bukti siapa pembuat bom, siapa pelempar, dan siapa yang mengorder untuk meneror. ”Pembuktian ilmiah, jangan asumsi,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua KPK Agus Rahardjo mengaku baru tahu saat malam setelah kejadian bahwa bom pipa yang dipasang di pagar rumahnya adalah fake bomb. ’’Bahan bakunya bukan mesiu, jadi semacam semen putih,’’ terangnya saat ditemui di Hotel Bidakara kemarin. Hanya, bentuknya memang dibuat mirip bom betulan. Ada rangkaian kabel, baterai, dan pemicu.

Selain itu, lanjut dia, dirinya sudah dihubungi pihak Mabes Polri. Penyidik meminta Agus menyediakan waktu untuk memberikan keterangan seputar kasus tersebut. ’’Sebetulnya saya malah minta tadi malam sekalian, tapi teman-teman mengatakan agar saya beristirahat dulu,’’ lanjutnya. Yang jelas, pemeriksaan segera dilakukan. Bisa kemarin sore, malam, di KPK atau hari ini (11/1).

Untuk saat ini, dia belum bisa menyimpulkan apa pun terkait teror tersebut. Dia menyerahkan semua penilaian kepada pihak kepolisian dalam rangka pengungkapan kasus. Dia berjanji, pimpinan ataupun staf KPK akan membantu apa pun yang diperlukan Polri terkait penanganan kasus itu.

Disinggung mengenai pengamanan terhadap pimpinan KPK, Agus menyatakan, peningkatan pengamanan diberlakukan sejak kasus sebelumnya. Dalam hal ini, sejak kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. ’’Seperti di tempat saya, ada (unsur pengamanan) yang selalu tinggal di rumah,’’ tutur Agus.

Sementara itu, langkah perbaikan kualitas pengamanan terhadap petugas KPK juga, menurut dia, harus terus dilakukan. Baik untuk petugas di bagian penyelidikan, penyidikan, maupun penuntutan. ’’Kami juga sedang mengevaluasi misalnya nanti ada beberapa petugas KPK yang akan dilengkapi dengan senjata (api) tertentu,’’ ucapnya.

Namun, dia belum bersedia berbicara lebih jauh tentang mekanisme maupun jenis senjata yang akan digunakan. Evaluasi itu diperkirakan bakal tuntas dalam waktu dekat. Pihaknya tidak ingin menduga-duga sebelum kasus teror itu mendapatkan bukti-bukti yang jelas.

Di tempat terpisah, Presiden Joko Widodo mengaku sudah memerintah Tito untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Menurut dia, tindakan itu merupakan intimidasi kepada aparat penegak hukum. ”Saya rasa tidak ada toleransi untuk itu, kejar dan cari pelakunya,” kata Jokowi di sela kunjungannya di gudang Bulog, Jakarta, kemarin (10/1).

Disinggung mengenai perlunya peningkatan standar keamanan bagi pimpinan dan penyidik KPK, Jokowi mengaku sudah memerintahkan sejak lama. Bahwa dari sisi keamanan harus diberikan pendampingan ekstra. ”Tapi, kalau masih ada kejadian, ya cari agar semuanya menjadi jelas dan gamblang siapa pelakunya,” imbuh dia.

Mantan wali kota Solo itu juga meyakini, teror yang kembali menimpa KPK tidak akan menyurutkan upaya kerja KPK. ”Saya yakini, pemberantasan korupsi tidak kendor dengan teror seperti ini,” ucapnya. (idr/tyo/byu/far/c10/agm/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Romy Sebut Nama Seorang Kiai dan Gubernur Jatim

Romy Sebut Nama Seorang Kiai dan Gubernur Jatim

Tersangka kasus dugaan suap korupsi seleksi jabatan di Kementerian Agama (Kemenag) RI, Romahurmuziy alias Romy, akhirnya menjalani pemeriksaan perdana, Jumat (2


Baku Tembak, Tiga Terduga Teroris Tewas

Baku Tembak, Tiga Terduga Teroris Tewas

Tiga pelaku terduga terorisme yang diklaim sebagai anggota Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) tewas dalam baku tembak di Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Kamis (2


Tak Ada Perempuan di Kamar Andi Arief saat Digerebek Polisi

Tak Ada Perempuan di Kamar Andi Arief saat Digerebek Polisi

Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri terus mengembangkan penyelidikan pascamenangkap Andi Arief di Menara Peninsula Hotel, Jakarta Barat.


Sudah 30 Motor dan Mobil Dibakar, Modus Sama, Pelaku Misterius

Sudah 30 Motor dan Mobil Dibakar, Modus Sama, Pelaku Misterius

”Awalnya suara keretek-keretek kayak hujan. Tapi, saat dicek di depan rumah, tidak ada hujan.


Siap-siap, Juni Nanti Ada Seleksi CPNS Lagi

Siap-siap, Juni Nanti Ada Seleksi CPNS Lagi

Tenaga pendidikan dan kesehatan bakal jadi fokus utama perekrutan dalam seleksi CPNS (calon pegawai negeri sipil) tahun ini.


Orang Tua Bripda Puput: Rencana Pernikahan dengan Ahok Belum Ada

Orang Tua Bripda Puput: Rencana Pernikahan dengan Ahok Belum Ada

Mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) dipastikan akan keluar dari tahanan Mako Brimob hari ini.


Besok Ahok Bebas, Tidak Ada Pengamanan Khusus

Besok Ahok Bebas, Tidak Ada Pengamanan Khusus

Mantan Guberur DKI Basuki Tjahaja Purnama akan bebas dari Rumah Tahanan Kelapa Dua, Mako Brimob, Depok, Jawa Barat besok (24/1).


Puan Ajak Prabowo-Mega Foto Bareng

Puan Ajak Prabowo-Mega Foto Bareng

Ada momen-momen unik yang tak tampak di layar televisi tadi malam.


Sudah Ada Bukti, Hidayat Bisa Tersangka

Sudah Ada Bukti, Hidayat Bisa Tersangka

Jumlah tersangka kasus match fixing mungkin bakal bertambah.


Bulog Minta Tidak Ada Impor di 2019

Bulog Minta Tidak Ada Impor di 2019

Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) menginginkan agar pemerintah tidak menerbitkan ijin kuota impor beras di tahun 2019 mendatang.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!