Nasional
Share this on:

Kasus Guru SMK Tampar Murid Harus Dituntaskan

  • Kasus Guru SMK Tampar Murid Harus Dituntaskan
  • Kasus Guru SMK Tampar Murid Harus Dituntaskan

MENJELASKAN – Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti (tengah) menjelaskan tentang kasus kekerasan anak. (jpg)

JAKARTA - Aksi kekerasan di dalam lingkungan sekolah kembali terjadi. Tiga hari terakhir viral video guru salah satu SMK swasata di Purwokerto, Jawa Tengah, menampar muridnya. Terhadap aksi guru ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah dapat mengawal kasus ini.

Dalam pasal 54 Undang Undang No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak, sudah diatur bahwa anak dalam lingkungan sekolah wajib mendapat perlindungan dari tindak kekerasan. Kelakukan pemukulan atau penamparan yang dilakukan oknum guru SMK dalam video yang viral tentu melanggar aturan tersebut.

Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti menjelaskan, pihaknya telah menerima laporan terhadap video penamparan siswa yang dilakukan oleh guru. Aksi guru tersebut dilakukan di dalam kelas dan di hadapan murid lainnya.

Dalam video yang berdurasi sekitar satu menit tersebut, guru terlihat melakukan ancang-ancang dalam menampar. Bahkan sebelumnya guru pun mengusap bagian pipi sebelum ditampar sambil berujar. ”Jangan ditertawakan kalau ada teman yang menangis karena ini sakit sekali.”.

”Saking kerasnya korban pemukulan berpotensi memar dan telinga berdengung beberapa waktu,” kata Retno kemarin (20/4).

Setelah video tersebut muncul, ada rekaman lain yang seolah sebagai klarifikasi. Retno menduga dari unggahan video klarifikasi tersebut, ada indikasi pelaku ingin menyampaikan pesan bahwa tujuannya memukul adalah dalam rangka mendidik. Pelaku juga ingin menunjukkan bahwa para korban menerima dan tidak dendam.

”Namun, bagi KPAI cara klarifikasi oknum guru tersebut malah makin menunjukkan bukti kepada penegak hukum bahwa si guru kerap melakukan kekerasan, bahkan tanpa rasa bersalah dan menganggap itu bagian dari mendidik atau mendisiplinkan,” beber Retno.

Retno menduga jika ucapan dan jawaban anak-anak korban dalam video klarifikasi tersebut adalah jawaban di bawah tekanan atau menjawab sesuai keinginan si oknum guru. Selain itu, ada ketimpangan relasi antara guru-murid, dimana murid tidak akan berani menjawab sesuai apa yang dia rasakan.

”Mengutuk keras pendekatan guru dalam mendisiplinkan siswa di kelas dengan cara-cara kekerasan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam pasal 76C Undang-Undang Perlindungan Anak diatur setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.

Masih dalam undang-undang yang sama juga diatur sanksinya diatur dalam Pasal 80 ayat 1. Guru tersebut dapat dikenai sanksi dengan dipidana penjara paling lama 3,6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp72 juta.

Untuk menindaklanjuti hal tersebut KPAI sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Provinsi Jawa Tengah. Menurut Retno, dalam koordinasi tersebut pihaknya mendapatkan penjelasan jika pihak Disdikbud Provinsi Jawa Tengah sebagai pengelola SMK sedang mendalami kasus ini.

Kepala sekolah pun dimintai keterangan. Pelaku juga dipanggil pada 19 April lalu. ”Penegakan hukum dalam kasus ini penting dilakukan agar ada efek jera dan tidak ada peniruan oleh siapapun dalam upaya mendidik atau mendisiplinkan anak. Sekolah seharusnya menjadi zona aman dan nyaman bagi peserta didik,” tegas Retno.

KPAI mendorong Disdikbud Provisi Jawa Tengah untuk mengusut tuntas kasus ini. Jika terbukti bersalah maka harus diproses sesuai dengan ketentuan kepegawaian maupun peraturan perundangan yang berlaku.

”KPAI menghimbau semua pihak yang memiliki video kekerasan tersebut untuk dihapus dan tidak disebarluaskan lagi, demi kepentingan terbaik bagi anak,” imbuhnya. (lyn/fat/zul)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Rumah Bos Lippo Group Digeledah KPK

Rumah Bos Lippo Group Digeledah KPK

KPK terus mencari bukti-bukti tambahan untuk melengkapi pengungkapan kasus dugaan suap perizinan proyek Meikarta.


Kasus Peluru Nyasar, Dua Orang Resmi Jadi Tersangka

Kasus Peluru Nyasar, Dua Orang Resmi Jadi Tersangka

Polisi telah menetapkan dua orang tersangka atas kasus proyektil nyasar di Gedung DPR RI, Senayan yang terjadi pada Senin (15/10).


Tuntutan Tidak Dituruti, Guru Honorer Mau Mogok Lagi

Tuntutan Tidak Dituruti, Guru Honorer Mau Mogok Lagi

Merasa tuntutannya tidak dituruti pemerintah, mulai hari ini (15/10) guru hunorer kembali menggelar aksi mogok mengajar.


Amien Mengaku Bahagia Diperiksa Penyidik

Amien Mengaku Bahagia Diperiksa Penyidik

Enam jam Amien Rais diperiksa sebagai saksi kasus hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet kemarin.


PP 43/2018 Diteken, Pelapor Korupsi Bakal Dihadiahi Rp200 Juta

PP 43/2018 Diteken, Pelapor Korupsi Bakal Dihadiahi Rp200 Juta

Kabar baik bagi mereka yang getol membongkar skandal korupsi. Pemerintah bakal memberikan hadiah bagi masyarakat yang melaporkan kasus korupsi.


Kubu Prabowo Laporkan Situs yang Bikin Hoax Soal Sandi

Kubu Prabowo Laporkan Situs yang Bikin Hoax Soal Sandi

Drama kasus kebohongan Ratna Sarumpaet seperti tak berujung.


Kebohongan Ratna Bisa Jadi Tutupi Soal Rekening

Kebohongan Ratna Bisa Jadi Tutupi Soal Rekening

Kasus kebohongan Ratna Sarumpaet dinilai tidak berdiri sendiri. Ada kemungkinan, kasus kebohongan itu digunakan untuk menutupi sesuatu.


Kota-kota Harus Siaga Bencana

Kota-kota Harus Siaga Bencana

Kota-kota di Indonesia perlu segera menyusun rencana tata ruang berbasis penanggulangan bencana. Utamanya bencana geologis seperti Gempa Bumi dan Tsunami.


Mogok Guru Honorer Makin Meluas, Pemerintah Harus Turun Tangan

Mogok Guru Honorer Makin Meluas, Pemerintah Harus Turun Tangan

Aksi mogok kerja guru honorer di daerah semakin membesar.


Tukin 120 Ribu Guru PNS Kemenag Macet

Tukin 120 Ribu Guru PNS Kemenag Macet

Penganggaran untuk tunjangan guru PNS di Kementerian Agama (Kemenag) menyisakan masalah.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!