Nasional
Share this on:

Kelompok Penyekap Izinkan Ibu-Ibu Berbelanja, Negosiasi Masih Mampet

  • Kelompok Penyekap Izinkan Ibu-Ibu Berbelanja, Negosiasi Masih Mampet
  • Kelompok Penyekap Izinkan Ibu-Ibu Berbelanja, Negosiasi Masih Mampet

JAKARTA - Memasuki hari keempat penyekapan 1.300 orang warga desa Banti dan Kimbely di Kecamatan Tembagapura, Timika, Papua, satgas gabungan TNI dan Polri belum bisa menjalin komunikasi dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang melakukan penyekapan. Belum ada negosiasi yang dilakukan. Namun secara umum, kondisi warga desa dinyatakan masih baik-baik saja.

“Satgas terpadu sudah mencoba menghubungi pimpinan kelompok, belum ada kontak yang intens, belum ada negosiasi,” kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di kantornya, kemarin.

Secara umum, satgas belum mengetahui apa maksud dan keinginan KKB. Namun Setyo memprediksi, kelompok tersebut ingin mempertahankan keutungan ekonomi yang selama ini mereka dapatkan dari aktivitas memalak, menjarah, dan memajak secara ilegal warga kedua desa tersebut.

“Bisa saja ada motif lain, tapi kita harus dalami dulu,” ungkapnya.

Dua desa tersebut memang dikenal sebagai tempat tinggal para pendulang ilegal sisa Tambang PT Freeport Indonesia (PT. FI). Ada 1000 warga asli dan sekitar 300 warga pendatang.

Secara umum, kata Setyo, kondisi warga di kedua desa dilaporkan masih baik. Belum ada laporan tindak kekerasan yang dilakukan oleh KKB pada warga. Kabar bahwa KKB menjarah harta benda warga juga dibantah Setyo. Yang jelas, kata Setyo, bahwa ada intimidasi psikis terhadap warga.

Sementara untuk akses bahan makanan, Sementara tidak ada masalah karena kalangan Ibu-ibu diperbolehkan keluar kampung untuk berbelanja kebutuhan makanan. “Tapi kalau bapak-bapak dan yang laki-laki semuanya tidak boleh keluar kampung,” katanya.

Polisi juga tengah mendalami darimana senjata yang didapat oleh para anggota KKB. Setyo menyebut tidak sulit jika mereka menggunakan senjata api rakitan. Namun ia juga menduga ada senjata pabrik yang kemudian didistribusikan secara ilegal.

“Kalau senjata-senjata rakitan pasti disuplai dari beberapa wilayah dekat situ. Tapi kalau yang pabrikan pasti hasil selundupan,” tambahnya.

Sementara ini, kepolisian juga tidak mematok target khusus dalam negoisasi. Satgas masih akan melihat perkembangan sambil terus mencoba menjalin komunikasi dan bargaining. Setyo juga menyebut bahwa ada kemungkinan terjadinya stockholm syndrome, di mana para sandera berbalik mendukung para penyekap.

“Karena terlalu lama dan terlalu intens berhubungan dengan penyekap, mereka jadi berbalik,” pungkasnya.

Lebih lanjut Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelejen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto menjelaskan jika pihaknya juga masih mendalami kasus tersebut. Dia menuturkan jika jumlah pelaku penyanderaan berkisar 20 hingga 50 orang.

”Mereka menggunakan senjata lama. Ada laras panjang,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos (induk radartegal.com) kemarin. Namun siapa yang menjadi dalangnya, BIN belum bisa menentukan.

Penggunaan senjata ini, menurut Wawan, bisa jadi pelaku adalah para separatis. Apalagi peredaran senjata di Papua menurutnya masih belum mendapatkan pengawasan yang baik. Masih bebas. ”Kita tidak bisa langsung menuding siapa yang menjadi pelakunya,” tutur Wawan.

Wawan tak ingin gegabah menyebutkan siapa yang menjadi pelaku. Sebab menurutnya tindakan yang tidak hati-hati dapat memicu konflik.

Wawan pun enggan jika disangka BIN kecolongan dalam kasus penyanderaan ini. Menurutnya kegiatan seperti ini bisa terjadi secara tiba-tiba. ”Di Amerika saja kondisi seperti ini bisa terjadi mendadak,” ungkapnya.

Kondisi geografis yang perbukitan dan masih berupa hutan menurutnya menjadi kendala. Baik dalam pengawasan maupun dalam melakukan langkah-langkah saat insiden terjadi. ”Mereka ini memanfaatkan medan yang sulit. Kemudian tindakannya menyebar, tidak berkelompok,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan jika pelaku memanfaatkan aparat yang lengah. ”Mereka ini melakukan strategi hide and run. Begitu ada kesempatan, masuk,” ujarnya. (tau/lyn/jpnn)

Berita Sebelumnya

Setnov Ditetapkan Tersangka Lagi
Setnov Ditetapkan Tersangka Lagi

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Sejumlah Orang Jadi Korban Buntut Penyerangan Polsek Ciracas

Sejumlah Orang Jadi Korban Buntut Penyerangan Polsek Ciracas

Polisi masih terus menyelidiki kasus perusakan dan penyerangan Mapolsek Ciracas pada Rabu dinihari (12/12).


Kontak Senjata, Dua Prajurit Terluka

Kontak Senjata, Dua Prajurit Terluka

Kontak senjata antara Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) dengan petugas gabungan TNI – Polri kembali terjadi Selasa pagi (11/2).


Empat Pekerja Masih Belum Ditemukan

Empat Pekerja Masih Belum Ditemukan

Petugas gabungan TNI–Polri berhasil mengevakuasi satu jenazah korban aksi Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) dari Distrik Yigi ke Wamena.


TNI Ultimatum KKSB Segera Menyerah

TNI Ultimatum KKSB Segera Menyerah

Upaya petugas gabungan TNI dan Polri mencari lima korban aksi Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) berbuah hasil.


Bupati Jepara Bakal Diperiksa di Jakarta

Bupati Jepara Bakal Diperiksa di Jakarta

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi masih bisa menikmati udara bebas.


TNI-Polri Kejar KKSB Hidup atau Mati

TNI-Polri Kejar KKSB Hidup atau Mati

Evakuasi 16 jenazah korban aksi Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) dari Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua selesai.


31 Pekerja Proyek Dieksekusi KKSB, Jalan ke Lokasi Terblokade

31 Pekerja Proyek Dieksekusi KKSB, Jalan ke Lokasi Terblokade

Kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) kembali melakukan aksi.


Kembali Aktif, Tapi Masih Aman

Kembali Aktif, Tapi Masih Aman

Aktivitas anak Gunung Krakatau kembali meningkat setelah beberapa minggu terlihat tenang. Letusan terjadi kemarin (12/2) sekitar pukul 18.34 WIB.


Polisi Tangkap 44 Orang Papua

Polisi Tangkap 44 Orang Papua

Masyarakat Papua tampaknya masih terkecoh dengan upaya untuk memecah belah dengan merayakan 1 Desember sebagai hari kemerdekaan.


Satu Keluarga Tewas Dibunuh, Dipastikan Bukan Perampokan

Satu Keluarga Tewas Dibunuh, Dipastikan Bukan Perampokan

Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak ditemukan tewas di sebuah rumah di Jalan Bojong Nangka, RT 02/07, Kelurahan Jatirahayu, Pondok Melati, Ko



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!