Nasional
Share this on:

Korban Gempa Tiba di Bandara Juanda

  • Korban Gempa Tiba di Bandara Juanda
  • Korban Gempa Tiba di Bandara Juanda

SURABAYA - Ratusan pengungsi gempa dan tsunami di Sulteng berdatangan di Bandara Juanda, Sidoarjo, tadi malam (3/10). Mereka adalah warga Jatim dan Jateng yang sedang merantau di Kota Palu dan kabupaten di sekitarnya.

Dari Bandara Mutiara SIS Al Jufri, Palu, mereka terbang dengan menggunakan pesawat Hercules. Begitu tiba di Juanda sekitar pukul 19.00, mayoritas korban langsung dijemput pihak keluarga.

Dua ambulans dari RSUD Sidoarjo juga disiapkan untuk berjaga-jaga. Di antara sekian pengungsi, ada dua orang yang memiliki masalah kesehatan. Salah satunya Nurwulan. Kaki kiri perempuan 28 tahun itu diperban.

Namun, luka yang diderita bukan karena gempa atau tsunami. Ibu dua anak tersebut sebelumnya mengalami kecelakaan lalu lintas. Nah, kakinya mengalami dislokasi.

Nurwulan tidak sendirian menumpang Hercules. Dia ditemani Siswandi, suaminya. Dua anak mereka ikut. ”Jumlah yang datang 175 orang. Tidak ada pengungsi yang harus menjalani rawat inap,” tutur Kepala Ruang IGD RSUD Sidoarjo Eko Hari Widarto kepada Jawa Pos.

Dia menambahkan, pengungsi yang dibawa adalah warga Jatim. Misalnya, Surabaya, Malang, dan Pasuruan. ”Langsung pulang. Hanya satu yang dibawa ke sini,” jelasnya.

Eko menerangkan, pihaknya mendapat mandat untuk siaga di bandara dari pihak Lanudal Juanda. Dua tim rescue yang dipimpin dr Ivan Setiawan SpEM kemudian ke lokasi. ”Di pesawat sudah ada dokter dari TNI. Kami hanya membantu. Barangkali ada yang perlu rawat inap,” jelasnya.

Mayoritas korban yang datang, kata dia, berasal dari Malang. Nurwulan salah satunya. Dia berasal dari Dampit, Malang. Namun, dia menikah dengan warga setempat. Mereka tinggal di Kabonena, Ulujadi, Palu. ”Dibawa ke sini biar gampang dijemput pihak keluarga, sekalian kalau ada keluhan bisa dirawat,” katanya.

Eko menuturkan, penjemputan itu bukan yang terakhir. Dia mengaku sudah mendapat pesan dari Lanudal Juanda untuk selalu siaga. Sebab, Hercules akan kembali membawa para korban. ”Besok rencananya ada lagi, cuma jamnya belum pasti. Menunggu panggilan saja,” ujarnya.

Mengenai satu penumpang lain yang memiliki masalah kesehatan, Eko mengatakan bahwa gula darah yang bersangkutan naik. Namun, tidak parah. Jadi, bisa dibawa keluarga pulang.

Di tempat yang sama, Siswandi, suami Nurwulan, mengaku lega. Dia bisa mengantar istri dan kedua anaknya ke rumah mertua. Mereka sebelumnya sempat kebingungan lantaran kebutuhan sehari-hari di Palu susah didapat. ”Listrik tidak ada. Makanan juga minim,” ungkapnya.

Wandi ingat betul detik-detik musibah yang terjadi. Waktu itu dia sedang nongkrong di pinggir jalan. Dekat rumah. Mendadak tanah terguncang keras. Naik turun. ”Jarak rumah dengan laut sekitar 2 kilometer,” paparnya.

Dia spontan berlari ke rumah. Istrinya di dalam menggendong anak bungsu yang masih berusia 3 tahun. Nurwulan susah berjalan keluar karena kakinya sakit. Dia harus dibopong keluar rumah.

Beberapa saat kemudian, dia mendapat kabar mencengangkan. Terjadi tsunami. Bahkan, ketinggian air mencapai 6 meter. Wandi sedikit beruntung lantaran air tidak sampai menyapu rumahnya. Meski begitu, tempat tinggalnya tetap rusak karena gempa. ”Setelah kejadian itu, tidur di depan rumah,” paparnya.

Dua hari setelah kejadian, dia mendapat kabar aparat memfasilitasi warga yang mau meninggalkan Palu. Wandi mendaftarkan keluarganya. Mereka akhirnya diberangkatkan kemarin. ”Transit di Balikpapan. Ganti pesawat, sama-sama Hercules,” terangnya.

Wandi dan keluarga akhirnya dijemput pihak keluarga di rumah sakit pukul 21.00. Mereka mengaku mau ke rumah saudara dulu di Porong. Baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Malang. (edi/c10/agm/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

Idrus Bantu Eni Minta Uang dari Kotjo
Idrus Bantu Eni Minta Uang dari Kotjo

Berita Sejenis

Sejumlah Orang Jadi Korban Buntut Penyerangan Polsek Ciracas

Sejumlah Orang Jadi Korban Buntut Penyerangan Polsek Ciracas

Polisi masih terus menyelidiki kasus perusakan dan penyerangan Mapolsek Ciracas pada Rabu dinihari (12/12).


Empat Pekerja Masih Belum Ditemukan

Empat Pekerja Masih Belum Ditemukan

Petugas gabungan TNI–Polri berhasil mengevakuasi satu jenazah korban aksi Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) dari Distrik Yigi ke Wamena.


Listrik Mati Dua Kali, Penumpang Lion Air JT 568 Minta Turun

Listrik Mati Dua Kali, Penumpang Lion Air JT 568 Minta Turun

Penumpang pesawat Lion Air penerbangan JT 568 rute Jakarta-Jogjakarta mengalami masalah kelistrikan saat akan berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta.


TNI Ultimatum KKSB Segera Menyerah

TNI Ultimatum KKSB Segera Menyerah

Upaya petugas gabungan TNI dan Polri mencari lima korban aksi Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) berbuah hasil.


TNI-Polri Kejar KKSB Hidup atau Mati

TNI-Polri Kejar KKSB Hidup atau Mati

Evakuasi 16 jenazah korban aksi Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) dari Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua selesai.


KKSB Brutal, 16 Korban Ditembak di Bagian yang Mematikan

KKSB Brutal, 16 Korban Ditembak di Bagian yang Mematikan

Pencarian korban meninggal maupun selamat di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, berlanjut kemarin (6/12).


Santunan Korban Lion Air Mulai Diberikan

Santunan Korban Lion Air Mulai Diberikan

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengeluarkan laporan penyelidikan awal kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP 29 Oktober lalu.


Baiq Nuril Resmi Dilindungi LPSK

Baiq Nuril Resmi Dilindungi LPSK

Perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual harus berani buka suara.


Pemerintah Bikin Buoy dan Tambah Sensor Gempa

Pemerintah Bikin Buoy dan Tambah Sensor Gempa

Pemerintah berencana melakukan penguatan sistem Indonesia Tsunami Early Warning Systems (INA-TEWs) dalam waktu 3 tahun mendatang (2019-2021).


Pesawat Lion Nyenggol Tiang Lampu, 143 Penumpang Terlambat Berangkat

Pesawat Lion Nyenggol Tiang Lampu, 143 Penumpang Terlambat Berangkat

Pesawat Lion Air kembali mengalami musibah. Pesawat dengan nomor layanan JT-633 dari menabrak tiang lampu Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu, kemarin (7/11).



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!