Nasional
Share this on:

Nilai Turun tapi Asli

  • Nilai Turun tapi Asli
  • Nilai Turun tapi Asli

JAKARTA - Nilai ujian nasional (Unas) SMA/SMK selalu turun dalam tiga tahun. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menuturkan jika tahun ini 40 persen siswa SMA/SMK memiliki kemampuan lebih rendah dari standar Unas.

Menurut data yang dimiliki Kemendikbud, sekolah dengan indeks integritas rendah (kurang dari 50 persen, Red) rata-rata mengalami penurunan nilai sebesar 39 poin. Bahkan ada beberapa sekolah yang turun hingga 50 poin.

”Secara umum terjadi penurunan rerata nilai UN, terutama untuk mapel matematika, fisika, dan kimia,” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemendikbud, Totok Suprayitno kemarin (8/5).

Untuk SMA negeri maupun swasta rata-rata mengalami penurunan 0,93 poin. Terbesar di Matematika yang turun 3 poin. Selanjutnya Bahasa Inggris terjadi peningkatan 0,24 poin. ”SMA terjadi penurunan relatif lebih besar dibanding SMK,” katanya.

Peserta Unas yang berbasis komputer (UNBK) juga meningkat. Yang dulunya hanya 63 persen sekolah di Indonesia yang mengikuti UNBK, pada tahun ini meningkat menjadi 98 persen. Tahun ini ada 1.394.870 SMA, 417.032 MA, dan 1.460.965 SMK yang mengikuti UNBK.

Menurut Totok, perpindahan model ujian dari berbasis kertas ke berbasis komputer ini menjadi biangnya. Diduga pada saat ujian berbasis kertas banyak kecurangan. ”Dulu tinggi tapi palsu,” katanya.

Sedangkan dengan UNBK, kebocoran soal dan kecurangan berkurang. Sehingga menunjukkan hasil belajar siswa yang sebenarnya. Totok melihat jika sekolah yang sejak semula UNBK, hanya sedikit sekali yang mengalami penurunan nilai.

Sementara untuk soal dengan tingkat kesulitan tinggi atau higher order thinking skills (HOTS) dinilainya tidak terlalu berpengaruh. Sebab soal dengan pendekatan HOTS memang sudah dilakukan sebelumnya. Kemendikbud pada tahun ini memang menambah kesulitan soal HOTS.

Namun, menurut Totok, sejumlah 5,7 ribu lebih siswa mampu mengerjakan soal HOTS. ”Bahkan ada yang mampu melampaui itu (target HOTS, Red),” ungkap Totok.

”Unas berbasis kurikulum atau materi Unas adalah yang seharusnya diajarkan. Bukan yang sudah diajarkan,” tuturnya.

Soal dengan tipe HOTS menurutnya sudah ada dalam kurikulum hingga buku pegangan. Menurut Totok jika sekolah mengajarkan sesuai dengan kurikulum dan ditangkap dengan baik, maka ini seharusnya siswa mampu mengerjakan soal tersebut.

Yang terjadi di lapangan, menurut evaluasi dari Kemendikbud, 40 persen siswa memiliki kemampuan yang lebih rendah dari standar Unas yang sudah ditetapkan. ”Kalau tidak ada Unas, kita tidak tahu ada kesulitan tersebut,” ujarnya.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi saat ditemui dalam kesempatan yang sama menambahkan ketika Unas tidak menjadi penentu kelulusan, maka akan menjadi peta pembelajaran. Sehingga akan memotret kondisi real pendidikan di Indonesia.

Balitbang Kemendikbud sedang menyusun diagnosa kekurangan masing-masing sekolah dan mata pelajaran dari hasil Unas ini. ” Kebijakan ini (Unas dengan pendekatan HOTS, Red) akan diteruskan, diimbangi dengan pelatihan guru,” tutur Bambang.

Pernyataan Bambang diiyakan Plt. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Hamid Muhammad. Bahkan pelatihan guru untuk melakukan pendidikan dengan pendekatan penalaran sesuai dengan konsep HOTS sudah dilakukan dua tahun terakhir.

”Direktur SMA ini bahkan sudah melatih guru untuk menulis soal yang menerapkan aplikasi dan penalaran,” kata Hamid.

Hamid pun berharap jika permasalahan pendidikan bukan hanya dibebankan kepada Kemendibud. Pemda setempat diharapkan lebih proaktif. Alasannya, pemda lebih memahami bagaimana kondisi di lapangan.

”Hasil Unas dikirim ke kepala dinas agar pemda melakukan sesuatu. Pemda harus proaktif dalam memperbaiki pendidikan,” ungkapnya.

Dia menekankan bahwa hal terpenting yang perlu dilakukan dalam proses asesmen adalah menindaklanjuti hasil diagnosisnya. Dia berjanji akan tetap menjadikan hasil diagnosis ini sebagai salah satu acuan dalam pembuatan kebijakan peningkatan proses pembelajaran. (lyn/jpg)

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Rupiah Loyo, Sudah Sentuh Rp14.300 per Dolar

Rupiah Loyo, Sudah Sentuh Rp14.300 per Dolar

Beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan. Kemarin (28/6), rupiah bahkan menembus kisaran lebih dari Rp14.300 per dolar AS.


Pelamar CPNS 2018 Diprediksi Tembus 10 Juta

Pelamar CPNS 2018 Diprediksi Tembus 10 Juta

Tahun ini pemerintah berencana kembali membuka rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) baru. Tapi hingga saat ini jadwal dan formasinya belum dilansir.


Merapi Cukup Aktif, tapi Masih Aman

Merapi Cukup Aktif, tapi Masih Aman

Aktivitas Gunung Merapi masih cukup terasa dalam seminggu terakhir.


Pemudik Roda Dua dan Pribadi Turun

Pemudik Roda Dua dan Pribadi Turun

Puncak arus mudik pertama yang diperkirakan Kementerian Perhubungan bisa dianggap lancar. Jumlah pemudik dengan kendaraan roda dua pun berkurang.


Rupiah Melemah, Biaya Haji Bengkak Rp550 Miliar

Rupiah Melemah, Biaya Haji Bengkak Rp550 Miliar

Pelamahan nilai rupiah terhadap dolar (USD) dan riyal (SAR) berdampak pada biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) 2018.


Satwa di Lereng Merapi Mulai Turun Gunung

Satwa di Lereng Merapi Mulai Turun Gunung

Selain letusan magmatik, turunnya satwa dari lereng Merapi menunjukkan bahwa gunung tersebut akan memasuki fase letusan besar.


Kemendikbud Kaji Unas Kembali Jadi Penentu Kelulusan

Kemendikbud Kaji Unas Kembali Jadi Penentu Kelulusan

Di balik berturut merosotnya rata-rata nilai unas, tahun ini dan tahun lalu, Kemendikbud melakukan sejumlah evaluasi.


Siap-siap Nilai Penyebar Soal UN Dibatalkan

Siap-siap Nilai Penyebar Soal UN Dibatalkan

Aksi membocorkan soal ujian nasional berbasis komputer (UNBK) ditanggapi serius oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.


Penolakan UU MD3 Diteken 205 Ribu Orang

Penolakan UU MD3 Diteken 205 Ribu Orang

Penolakan terhadap UU MD3 terus menggema. Bukan hanya aksi demonstrasi damai tapi juga melalui petisi online di Change.org.


Tito–Syafruddin Turun Langsung

Tito–Syafruddin Turun Langsung

Insiden penyerangan terhadap sejumlah tokoh agama dan tempat ibadah menyita perhatian Polri.



Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!