Nasional
Share this on:

Pemerintah Bikin Buoy dan Tambah Sensor Gempa

  • Pemerintah Bikin Buoy dan Tambah Sensor Gempa
  • Pemerintah Bikin Buoy dan Tambah Sensor Gempa

JAKARTA - Pemerintah berencana melakukan penguatan sistem Indonesia Tsunami Early Warning Systems (INA-TEWs) dalam waktu 3 tahun mendatang (2019-2021). Beberapa bentuk penguatan diantaranya adalah penambahan sensor gempa, dan pelampung pendeteksi tsunami (tsunami buoy).

Penguatan akan dilakukan mulai hulu hingga hilir. Melibatkan beberapa kementerian dan lembaga (K/L). Untuk sistem hulu akan dikerjakan oleh BMKG, Badan Geologi, Badan Informasi Geospasial (BIG), serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sementara untuk hilir seperti disseminasi informasi akan ditangani oleh Kominfo, BNPB, BPBD, serta Pemerintah Daerah setempat untuk mematangkan prosedur tanggap darurat.

Bouy tsunami akan ditugaskan pada BPPT. Direktur Pusat Teknologi Reduksi Resiko Bencana (PTRRB) BPPT Eko Widi Santoso menuturkan BPPT memutuskan untuk membuat sendiri memutuskan untuk membuat sendiri buoy tsunami yang dibutuhkan. Total ada delapan buoy karya dalam negeri yang dipersiapkan. Eko mengatakan proyek pembuatan delapan unit buoy dalam negeri itu berlangsung dalam beberapa tahun.

Eko menegaskan BPPT tidak ada rencana untuk membeli buoy. Tetapi melakukan riset dan rekayasa sendiri untuk membuat buoy dalam negeri.’’Rencananya mulai 2019 hingga 2021,’’ katanya kemarin (11/11).

Eko menuturkan rekayasa buoy dalam negeri rencananya baru dimulai tahun depan. Dia menargetkan tahun depan ada dua unit buoy karya BPPT yang sudah bisa digunakan. Kemudian untuk 2020 dibuat kembali tiga unit buoy. Lalu pada 2021 diupayakan lagi dihasilkan tiga unit buoy.

’’Itupun (proyek membuat buoy sendiri, Red) kalau anggarannya disetujui,’’ jelasnya. Ada banyak keunggulan jika bisa menghasilkan buoy sendiri. Diantaranya adalah untuk operasional dan perawatannya tidak bergantung dengan teknologi luar negeri. Selain itu diperkirakan biaya pembuatan buoy dalam negeri juga relatif lebih murah. Namun sampai saat ini BPPT belum bisa menyebutkan besaran ongkos membuat bouy per unitnya.

Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa perangkat buoy bantuan dari asing sudah tidak berfungsi sejak 2012 lalu. Sebagai gantinya peringatan dini tsunami menggunakan sistem pemodelan. Jadi menggabungkan antara kekuatan gempa, titik lokasi gempa, kedalam, dan parameter lainnya. Yang membuat pemodelan ini adalah BMKG.

Selain alat deteksi dini tsunami berbasis buoy atau pelampung, BPPT juga memiliki teknologi serupa berbasis kabel. Teknologi ini bernama cable base tsunami meter. Secara sederhana perangkat ini mengandalkan kabel yang ditenggelamkan ke laut.

Kemudian di ujung kabel tersebut diberikan sensor yang mampu mendeteksi adanya potensi gelombang tsunami. Jika ada potensi tsunami, sinyal akan dikirim ke stasiun pemantau yang ada di darat. Teknologi cable base tsunami meter ini sudah banyak digunakan di Jepang. Teknologi ini juga lebih awet dibandingkan dengan buoy yang mengapung-apung di perairan. Perangkat buoy rawan rusak atau menjadi korban fandalisme manusia.

Sementara itu, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengungkapkan bahwa BMKG akan segera mengusulkan untuk penambahan jaringan sensor gempa bumi. Saat ini, kata Triyono, Indonesia hanya memiliki 170 sensor gempa.

Jumlah ini sangat jomplang dibandingkan dengan Jepang yang memiliki 1.500 sensor gempa. “Padahal, indonesia memiliki luas tiga kali dari luas wilayah Jepang,” katanya.

Penambahan akan dilakukan mulai tahun depan, dan akan berlangsung bertahap selama 3 tahun. Paling tidak, akan adan penambahan hingga jumlah sensor mencapai 275 buah sensor. “Dengan semakin rapat sensornya, semakin cepat informasi dan data yang dikirimkan,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah rencananya akan menginstal sistem Earthquake Early Warning System (EEWS) pada INA-TEWs. EEWS nantinya mampu mendeteksi getaran gempa lebih dini. Rahmat mengatakan bahwa ada 2 macam getaran yang bergerak merambat. Yakni getaran primer (P) dan getaran sekunder (S).

Getara P berasal dari hiposenter gempa di bawah tanah sementara getaran S berpusat di episenter gempa di permukaan. “Jadi sebelum getaran S yang merusak ini sampai, kita sudah bisa mendeteksi,” katanya.

Meskipun hanya memberi waktu beberapa detik saja, Rahmat mengatakan peringatan semacam ini penting untuk beberapa sistem. Misalnya sistem kereta cepat. Ketika getaran terdeteksi, sistem secara otomatis mengirimkan perintah untuk mematikan listrik dan sinyal kereta cepat tersebut. “Dalam gempa, kereta cepat lebih beresiko. Kalau anjlok saat kecepatan tinggi bahaya,” jelasnya.

Sistem ini, kata Rahmat sudah digunakan secara luas di Jepang. Misalnya untuk mematikan reaktor nuklir agar tidak terjadi kebocoran. Menurut rencana, Alatnya akan dibeli dari Jepang yang dinilai sudah sangat berpengalaman. Namun, Rahmat mengatakan tidak menutup kemungkinan dibeli dari negara lain seperti China dan Taiwan. (wan/tau/jpg)

Berita Berikutnya

Ibu-ibu Dominasi Penyebaran Hoax
Ibu-ibu Dominasi Penyebaran Hoax

Berita Sejenis

Langit Jakarta Dihiasi Pesawat Tanpa Awak

Langit Jakarta Dihiasi Pesawat Tanpa Awak

Laporan dan data seketika tentang perkembangan situasi keamanan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, kemarin (20/10), terpantau lewat udara.


Ini Pepatah Bugis Tanda Terima Kasih Jokowi untuk JK

Ini Pepatah Bugis Tanda Terima Kasih Jokowi untuk JK

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pepatah adat Bugis diakhir pidatonya usai acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024 di gedung


94 Guru Dikirim ke Perbatasan Malaysia

94 Guru Dikirim ke Perbatasan Malaysia

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengirim sebanyak 94 guru untuk mengajar di sejumlah Community Learning Center (CLC) yang berbatasan langsun


Masalah DPT Pemilu Tak Pernah Tuntas

Masalah DPT Pemilu Tak Pernah Tuntas

Pengawasan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan politik uang pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak pada 2020 mendatang masih jadi sorotan Badan Pengawas Pem


Pelibatan Anak dan Terorisme Tindakan Keji

Pelibatan Anak dan Terorisme Tindakan Keji

Polisi menemukan fakta baru dalam kasus penikaman Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten.


Lima Kandidat Berpeluang Jadi Jaksa Agung

Lima Kandidat Berpeluang Jadi Jaksa Agung

Kasak kusuk calon menteri dan pejabat tinggi lainnya ramai diperbincangkan. Salah satunya untuk posisis Jaksa Agung.


Peluang Gerindra dan Demokrat di Tangan Jokowi

Peluang Gerindra dan Demokrat di Tangan Jokowi

Presiden terpilih Joko Widodo memastikan jumlah menteri di kabinet periode 2019-2024 tetap sama. Yakni 34 orang.


KPU Usul Tata Kelola Pemilu Diubah

KPU Usul Tata Kelola Pemilu Diubah

Jika pemilihan presiden dan legislatif baik DPRD maupun DPR RI dirasa berat, perlu ada desain ulang penyelenggaraan pemilu 2024 mendatang.


Guru Honorer Akan Digaji Setara UMR

Guru Honorer Akan Digaji Setara UMR

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan penetapan gaji guru honorer kedepannya bakal disetarakan minimal dengan Upah Minimum Regional (UM


Oposisi Lemah, Kekuasaan Absolut Dikuatirkan Korup

Oposisi Lemah, Kekuasaan Absolut Dikuatirkan Korup

Sejumlah partai oposisi diprediksi merapat ke pemerintah. Sampai saat ini, hanya PKS yang sudah menegaskan tetap menjadi oposisi.



Berita Hari Ini

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!