Nasional
Share this on:

Pimen Kiye, Empat dari 10 Anak Indonesia Kerdil

  • Pimen Kiye, Empat dari 10 Anak Indonesia Kerdil
  • Pimen Kiye, Empat dari 10 Anak Indonesia Kerdil

Ilustrasi.

JAKARTA - Kemarin (16/9) pemerintah menyerukan dimulainya Kampanye Nasional Pencegahan Stunting secara nasional. Deklarasi tersebut menjadi titik awal penyadaran masyarakat mengenai bahaya stunting dan bagaimana upaya pencegahannya. Melalui upaya ini, diharapkan prevalensi stunting bisa diturunkan dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 28 persen pada 2019.

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek menuturkan bahwa stunting merupakan nama lain dari kerdil. Kerdil badan karena kekurangan gizi kronis mengakibatkan kemampuan otak tidak maksimal. ”Artinya anak-anak itu jadi kurang pandai,” ujar Nila.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyatakan bahwa empat dari 10 anak atau 37,2 persen mengalami stunting. Hal ini tentu mengkhawatirkan bagi kualitas bangsa.

Nila menegaskan bahwa Indonesia harus bebas dari generasi stunting, maka pencegahan stunting itu menjadi upaya yang sangat penting. ”Indonesia itu tanahnya subur, maka generasinya harus sehat, jangan stunting,” ucapnya.

Nila juga berpesan kepada para orang tua dan remaja agar memahami bagaimana cara mencegah stunting. Caranya dengan memperbaiki pola makan, pola pengasuhan, dan juga perhatikan kebersihan. Remaja juga harus diberi pengetahuan mengenai penanggulangan stunting, sebab mereka adalah calon orang tua.

Secara khusus Nila berpesan bagi para ibu hamil, agar senantiasa menjaga kehamilannya. Caranya dengan mencukupi kebutuhan gizi janin hingga usia 2 tahun. ”Sejak janin tumbuh dalam kandungan hingga usia 2 tahun kehidupan harus diberikan ASI Eksklusif. Selain itu didukung dengan makanan pendamping ASI,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan untuk senantiasa menerapkan hidup sehat. Dia mengajak agar masyarakat rajin berolahraga, perbanyak makan sayur dan buah, serta cek kesehatan secara berkala.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memimpin Kampanye Nasional Pencegahan Stunting. Dia mengatakan, pencegahan stunting penting dilakukan karena BPS mencatat satu dari tiga anak bawah lima tahun (balita) Indonesia masih mengalami stunting (2013). Jumlahnya mencapai sembilan juta balita.

“Stunting tidak hanya terjadi pada anak dari keluarga miskin. Stunting juga terjadi pada anak keluarga kaya, di kota maupun di desa,” kata Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan.

Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, investasi apapun yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM menjadi tidak optimal. “Karena apapun yang kita beri, guru, laboratorium, kurikulum, atau pelatihan menjadi kurang optimal karena kemampuan otak anak-anak kita dalam menyerap ilmu pengetahuan terbatas,” jelasnya.

Pada usia produktifnya, anak stunting berpenghasilan 20% lebih rendah daripada anak yang tumbuh optimal. Stunting bisa menurunkan Produk Domestik Bruto negara sebesar 3%. Bagi Indonesia, kerugian akibat stunting mencapai sebesar Rp 300 triliun per tahun.

Kampanye Nasional Pencegahan Stunting ini sekaligus implementasi dari Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo 16 Agustus 2018 lalu yang menegaskan bahwa pembangunan SDM diawali sejak dari kandungan.

“Kalau kita cegah stunting dari sekarang, pada tahun 2040 nanti, ketika anak-anak ini berusia 22 tahun, mereka akan jauh lebih hebat daripada generasi sebelumnya. Ini investasi jangka panjang kita sebagai bangsa,” tegas Moeldoko.

Dia menambahkan, Pemerintah menyiapkan berbagai program dan aktivitas untuk mencegah stunting. Antara lain revitalisasi pos pelayanan terpadu (Posyandu) bagi sarana pendidikan gizi dan pemantauan tumbuh kembang balita, serta melatih para petugas kesehatan dan kader agar mampu mendidik masyarakat.

Juga, pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil serta vitamin A, obat cacing, dan imunisasi untuk balita. (lyn/far/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

TKW Dijual Online
TKW Dijual Online

Berita Sejenis

KPAI Terima 19 Aduan PPDB

KPAI Terima 19 Aduan PPDB

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima beragam keluhan orang tua siswa terkait pelaksanaan PPDB.


PPDB DKI Jakarta Tak Ikuti Aturan Mendikbud

PPDB DKI Jakarta Tak Ikuti Aturan Mendikbud

Ombudsman mengatakan Pemprov DKI menentukan kuota zonasi lebih kecil dari ketentuan.


Sehari, Indonesia Diguncang 53 Kali Gempa

Sehari, Indonesia Diguncang 53 Kali Gempa

Sepanjang, Senin (24/6) kemarin, wilayah Laut Banda diguncang beberapa gempa tektonik. Satu diantaranya ber magnitude besar, yakni 7,4 Skala Richter (SR).


Siap-siap, Diprediksi Tak Ada Hujan dalam Jangka Panjang

Siap-siap, Diprediksi Tak Ada Hujan dalam Jangka Panjang

Pastigana BNPB memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi tak akan ada hujan dalam jangka panjang.


Kompromi Zonasi PPDB Seharusnya Jangan Setengah-setengah

Kompromi Zonasi PPDB Seharusnya Jangan Setengah-setengah

Kemendikbud mengubah kuota jalur prestasi dari 5 persen dari daya tampung sekolah, menjadi 15 persen.


Bantuan Parpol 2020 Tembus Rp126 Miliar

Bantuan Parpol 2020 Tembus Rp126 Miliar

Anggaran bantuan untuk partai politik (parpol) pada 2020 diperkirakan menyedot APBN lebih dari Rp126 miliar.


KPU Protes Disebut Bagian dari Tim 01

KPU Protes Disebut Bagian dari Tim 01

Sejumlah saksi dan ahli yang dihadirkan tim kuasa hukum pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin membantah keterangan ahli 02.


Kesaksian Ahli 01 Banyak Istilah Hukum

Kesaksian Ahli 01 Banyak Istilah Hukum

Sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK) menghadirkan saksi dan ahli dari pihak terkait.


2025 Setifikasi Tanah Rampung

2025 Setifikasi Tanah Rampung

Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis pada 2025 mendatang proses sertifikasi tanah di seluruh Indonesia akan rampung.


Calon Jamaah Haji Bisa Berangkat Lebih Awal

Calon Jamaah Haji Bisa Berangkat Lebih Awal

Penambahan kuota jemaah haji Indonesia sebanyak 10 ribu ternyata berefek pada jadwal pemberangkatan.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!