Nasional
Share this on:

Polisi Miliki Data 145 Model-Artis Terlibat Prostitusi Online

  • Polisi Miliki Data 145 Model-Artis Terlibat Prostitusi Online
  • Polisi Miliki Data 145 Model-Artis Terlibat Prostitusi Online

Kasus prostitusi yang melibatkan artis papan atas terus bergulir.(Zaim Armies/Jawa Pos)

SURABAYA - Kasus prostitusi yang melibatkan artis papan atas terus bergulir. Data di kepolisian menyebutkan, ada 100 model majalah dewasa dan 45 artis lainnya yang terlibat dalam jejaring prostitusi online itu.

Selain Endang Suhartini dan Tantri (mucikari Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila yang sudah ditetapkan sebagai tersangka), polisi mengejar dua mucikari lainnya yang saat ini belum diketahui keberadaannya. Dua mucikari tersebut memiliki tugas yang sama, yakni menjalin komunikasi dengan pria hidung belang dan melakukan transaksi. Keduanya juga berasal dari Jakarta. Polisi masih melacak keberadaan mereka.

Salah seorang anggota Ditreskrimsus Polda Jatim menjelaskan bagaimana keduanya luput dari penangkapan polisi. Saat dihubungi Tantri, handphone dua perempuan yang masuk daftar pencarian orang (DPO) polisi itu tidak aktif. Pesan yang dikirim pun tidak masuk ke handphone dua pelaku tersebut.

”Jadi, dua DPO (baca: buron, Red) ini masih kolega dengan tersangka yang kami tangkap, tapi kemungkinan masih di Jakarta saat ini,” jelas polisi yang tak mau namanya disebutkan itu.

Endang, Tantri, dan dua mucikari buron tersebut aktif menjajakan perempuan dari kalangan selebriti. Masing-masing memiliki koneksi ke pelanggan. Dalam beberapa kesempatan, mereka juga menggunakan jasa makelar untuk mencarikan pelanggan.

Promosi dilakukan secara eksklusif. Dengan demikian, hanya beberapa orang yang memiliki katalog perempuan yang dijual para makelar itu. ”Tidak ada grupnya. Mereka cuma memberi tahu antar kenalan. Jadi mulut ke mulut,” lanjut polisi tersebut.

Kemarin (7/1) Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan juga memberikan pernyataan resmi terkait kasus itu. Bukan hanya Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila artis yang terlibat dalam prostitusi via daring (online) tersebut.

Masih ada sekitar 100 model majalah dewasa dan 45 artis lainnya yang terlibat. Daftar itu sudah berada di genggaman polisi. Rencananya, polisi memanggil satu per satu seluruh korban untuk dimintai keterangan. ”Jadi, 100 model ini berasal dari majalah Popular dan FHM. Tapi, keterangan dari dua korban ini saja sebenarnya sudah cukup untuk memenjarakan kedua tersangka (Endang dan Tantri),” ucapnya.

Luki juga membenarkan, transaksi yang dilakukan Endang dan Tantri dilakukan secara online. Termasuk proses promosi ke pelanggan para hidung belang. Dalam transaksi, pelanggan wajib membayar uang muka 30 persen di awal. Tarif yang dikenakan Endang dan Tantri cukup fantastis. Mulai Rp25 juta, Rp50 juta, Rp80 juta, hingga Rp100 juta untuk sekali kencan.

”Bedanya soal ketenaran. Semakin terkenal, semakin mahal pula tarifnya,” kata jenderal dua bintang itu.

Menurut Luki, tarif tersebut merupakan tarif bersih yang diberikan. Pelanggan tak perlu pusing biaya hotel. Sebab, Endang dan Tantri akan menentukan di mana mereka berkencan. Dalam kasus Vanessa dan Avriellia, kedua mucikari memilih hotel di Surabaya Barat sebagai lokasi kencan. Vanessa di kamar 2721, sedangkan Avriellia di kamar 2720.

”Jadi, pelanggannya bebas mau menentukan kencan di mana di seluruh Indonesia, bahkan kalau mau ke luar negeri ya bisa,” bebernya.

Luki menjelaskan, dua mucikari tersebut memegang teguh privasi pelanggannya. Sebab, mayoritas pelanggan adalah kalangan pengusaha. Bahkan, mereka kadang meminta Endang dan Tantri menyediakan jasanya di luar negeri. Berbagai tempat pernah menjadi jujukan mereka, misalnya Singapura dan Hongkong. Tarif yang ditetapkan pun menyesuaikan dengan ketenaran model atau artis dan fasilitas untuk bercinta.

Dari penangkapan Endang dan Tantri, berbagai barang bukti telah disita polisi. Meliputi handphone milik para korban dan tersangka. Selain itu, ada seprai putih, kotak alat kontrasepsi, kacamata, dan celana dalam berwarna ungu.

Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi menambahkan, dari transaksi Rp80 juta, Vanessa tidak menikmati seluruh uang tersebut. Dia hanya dijanjikan Rp35 juta. Sisanya masuk ke kantong Endang yang bertindak sebagai perantara. Uang Rp45 juta dibagi dengan Tantri dan biaya hotel serta lainnya.

”Ketika kami tangkap, pihak pembeli jasa ini kan baru transfer 30 persen, jadi belum dibayar semua. Uang itu kini juga kami sita,” jelasnya.

Harissandi juga belum bisa menentukan penghasilan para mucikari tersebut dalam sebulan. Sebab, pesanan yang masuk kadang tak tentu. Dalam seminggu saja mereka pernah tidak mendapatkan pesanan sama sekali. Meskipun dalam beberapa kesempatan mereka juga kebanjiran order.

Harissandi juga memberikan penjelasan tentang pria hidung belang yang memesan jasa dari Endang dan Tantri. Dia merupakan seorang pria berumur 45 tahun bernama Rian, keturunan Tionghoa, dan berdomisili di Jakarta. Rian atau menurut nama di KTP bernama Rudi Hastanto merupakan seorang pengusaha.

”Salah satu usahanya berada di Lumajang,” ucapnya.

Itu merupakan kali pertama Rian memesan prostitusi via daring. Setidaknya itulah yang dia katakan kepada Korps Bhayangkara ketika dimintai keterangan. Sebagai pengusaha, dia ingin mencoba prostitusi yang melibatkan artis kenamaan. Karena itulah, Sabtu (5/1), dia mencoba memesan jasa Vanessa melalui Endang.

”Dia pilih di Surabaya karena kan yang paling deket, daripada ke Jakarta kan?” kata Harissandi.

Sementara itu, di kalangan pengusaha tambang pasir Lumajang, nama Rian sering terlibat dalam bisnis tambang ilegal. Sumber Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, bila bepergian ke Lumajang, Rian sering mengendarai Mitsubishi Pajero putih. Dia singgah dulu ke salah satu rumahnya di kawasan Sidoarjo setiap kali menuju Lumajang.

Sumber tersebut mengaku pernah mendatangi rumah Rian di Sidoarjo. ”Tapi, kalau urusan stockpile, dia pemain top. Stockpile ada di Lempeni, Tempeh. Sampai sekarang stockpile-nya masih aktif,” katanya.

Pemain tambang pasir yang juga aktivis Nanang Hanafi mengungkapkan bahwa Rian bukan penambang pasir yang terdaftar izin tambangnya di Pemkab Lumajang. Dia berani menyebut Rian sebagai penambang ilegal. Rian acap kali mengatasnamakan jenderal dan petinggi kepolisian.

”Itu sering dilakukan untuk menakut-nakuti aparat,” katanya.

Nanang menguraikan, Rian pernah menambang di Tumpeng pada 2018 tanpa mengantongi izin. Dia sempat ketahuan warga, lalu diprotes karena tidak berizin menambang. Habis itu berpindah ke kawasan Sampit, Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh. Area tambang ilegalnya di kawasan Kalipancing.

Menurut Nanang, kalau ke Lumajang, Rian biasanya bermalam di hotel. Sebab, dia memang tidak punya rumah di Lumajang. ”Jarang muncul kalau di Lumajang. Anak buahnya pun kalau bertemu ya di hotel. Pernah (dia) makelaran jalan tol juga,” katanya.

Sementara itu, Bupati Lumajang Thoriqul Haq meragukan Rian adalah pengusaha tambang pasir di kabupaten yang dipimpinnya. ”Nanti saya cek ke daftar izin tambang,” ucapnya. ”Tapi, kiro-kiro lek (kira-kira kalau) Rp80 juta sampek pirang rit yo rek (sampai berapa rit ya)?” candanya.

Setelah dicek beberapa jam kemudian, bupati yang akrab disapa Cak Thoriq itu menegaskan bahwa tidak ada nama Rian. ”Inisial R atau Rian itu tidak ada. Sudah saya cek di semua izin yang keluar. Ternyata klir, tidak ada,” tegasnya.

Namun, ada kemungkinan lain bahwa izin usaha tambang pasir milik Rian diurus orang lain. Sebab, urusannya tidak pada satu pihak yang punya izin tambang pasir. Ada yang pemilik stockpile. Ada yang berjejaring dengan investasi lain atau konstruksi dengan pembangunan yang berkebutuhan dengan pasir Lumajang.

”Yang bisa jadi salah satunya ada inisial R atau Rian itu tadi,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengatakan, kasus Vanessa telah menjadi perhatian jajarannya. Dia menilai kasus tersebut tidak hanya dipandnag sebagai prostitusi, tapi juga mengandung unsur eksploitasi terhadap perempuan.

Yohana menyatakan, salah satu hal yang akan menjadi fokusnya adalah bagaimana ke depan objek pidana tidak hanya menyasar perempuan ataupun mucikarinya. Tapi juga bisa ikut menjerat laki-laki hidung belang yang bertindak sebagai penyewa.

”Pelakunya harus dikenai hukuman dong. Tidak boleh ada diskriminasi, eksploitasi terhadap perempuan,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, kemarin.

Menurut Yohana, menjadi tidak adil jika pria hidung belang sebagai pelaku eksploitasi tidak mendapatkan konsekuensi hukum yang sama. Terkait payung hukumnya, Yohana menilai ketentuan tersebut bisa masuk melalui Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Kebetulan, RUU tersebut menjadi perhatian pihaknya bersama DPR. ”Saya dari pihak pemerintah mendukung supaya secepatnya,” imbuh dia.

Selain RUU PKS, penjeratan terhadap pria hidung belang juga diupayakan melalui revisi KUHP. Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, pihaknya sudah lama mengusulkan pasal tersebut dalam revisi KUHP. Hanya, pembahasannya di DPR masih mandek.

”Kita akan coba segerakanlah bicara dengan teman-teman DPR,” ujarnya. Namun, politikus PDIP itu belum bisa menjanjikan kapan segera dituntaskan.

Sementara itu, manajemen Hotel TS Suites membantah hotel tersebut menjadi lokasi penangkapan Vanessa. Public Relation Executive and Secretary TS Suites Surabaya Christine Melati Puteri Patty menegaskan bahwa kasus Vanessa tidak memiliki kaitan dengan hotel itu. Dia sudah mengecek daftar nama tamu yang masuk buku catatan.

”Tidak ada nama mereka, termasuk adanya proses penangkapan,” tandasnya. (bin/fid/far/c9/agm/jpg)

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Vanessa Angel Hanya Saksi dan Korban, Polisi Tersangkakan Dua Mucikari

Vanessa Angel Hanya Saksi dan Korban, Polisi Tersangkakan Dua Mucikari

Vanessa Angel bisa sedikit bernapas lega. Kemarin (6/1) dia resmi menyudahi pemeriksaan melelahkan selama lebih dari 24 jam.


Polisi Kejar Aktor Produsen Hoax Surat Suara

Polisi Kejar Aktor Produsen Hoax Surat Suara

Proses hukum kasus hoax surat suara tercoblos berjalan cepat.


Sebelum Jadi Mitra BPJS Kesehatan, Rumah Sakit harus Terakreditasi

Sebelum Jadi Mitra BPJS Kesehatan, Rumah Sakit harus Terakreditasi

Mulai bulan ini, bagi rumah sakit yang akan bergabung menjadi mitra BPJS Kesehatan harus miliki terakreditasi.


Lima Tersangka Pengeroyokan Anggota TNI Diamankan

Lima Tersangka Pengeroyokan Anggota TNI Diamankan

Polisi bergerak cepat mengamankan lima pelaku pengeroyokan dua anggota TNI Kapten-AL Komarudin dengan Pratu Rivo Nanda yang diketahui sebagai anggota Paspampres


Tiga Pengeroyok Ditangkap, Polisi Belum Bersedia Sebut Pelaku Perusakan Mapolsek

Tiga Pengeroyok Ditangkap, Polisi Belum Bersedia Sebut Pelaku Perusakan Mapolsek

Polisi fokus mengejar pengeroyok anggota TNI-AL Kapten Komaruddin dengan anggota Paspampres Pratu Rivo Nanda di Jakarta Timur.


Sejumlah Orang Jadi Korban Buntut Penyerangan Polsek Ciracas

Sejumlah Orang Jadi Korban Buntut Penyerangan Polsek Ciracas

Polisi masih terus menyelidiki kasus perusakan dan penyerangan Mapolsek Ciracas pada Rabu dinihari (12/12).


Polisi Tangkap 44 Orang Papua

Polisi Tangkap 44 Orang Papua

Masyarakat Papua tampaknya masih terkecoh dengan upaya untuk memecah belah dengan merayakan 1 Desember sebagai hari kemerdekaan.


Dendam karena Dipecat dari Polisi

Dendam karena Dipecat dari Polisi

Fakta demi fakta terkait penyerangan anggota kepolisian di Pos Polisi Wisata Bahari Lamongan (WBL), Jawa Timur, mulai terkuak.


Dituding Terlibat Pembunuhan Khashoggi, Adik Pangeran Protes CIA

Dituding Terlibat Pembunuhan Khashoggi, Adik Pangeran Protes CIA

Pangeran Khalid bin Salman berang. Dia tak terima dituding terlibat dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.


Sudah Diatur Perdirjen, Tarif Taksi Online Rp3.500-6.000 Per Kilometer

Sudah Diatur Perdirjen, Tarif Taksi Online Rp3.500-6.000 Per Kilometer

Kementerian Perhubungan telah selesai membuat aturan mengenai taksi daring.



Berita Hari Ini

Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!