Nasional
Share this on:

Polisi Tangkap 44 Orang Papua

  • Polisi Tangkap 44 Orang Papua
  • Polisi Tangkap 44 Orang Papua

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo

JAKARTA - Masyarakat Papua tampaknya masih terkecoh dengan upaya untuk memecah belah dengan merayakan 1 Desember sebagai hari kemerdekaan. Kemarin (2/12) Polri mengamankan 44 orang yang mencoba untuk mengajak masyarakat Papua merayakan 1 Desember.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, penangkapan 44 orang itu dilakukan di tiga tempat berbeda, yakni Abepura, Lapangan Trikora, dan Japut. Mereka berupaya untuk mempengaruhi masyarakat. ”Maka, kami melakukan penangkapan,” ujarnya.

Setelah menangkap dan memeriksa, Polri tidak melakukan penahanan terhadap mereka. Ke-44 orang tersebut lalu dibebaskan dan diserahkan ke kuasa hukum mereka. ”Yang pasti, kami berupaya membuat situasi di Papua kondusif,” jelasnya.

Dia mengatakan bahwa memang ada penangkapan terhadap sejumlah massa lain di beberapa kota. Namun, jumlahnya sedang diinventarisir. ”Yang pasti kami berupaya untuk melakukan pengamanan,” tuturnya.

Sementara itu, mantan anggota Komnas HAM Natalius Pigai menjelaskan bahwa pendekatan terhadap masyarakat Papua selama ini kurang tepat. Pemerintah saat ini mengklaim telah membangun dan menyejahterakan.

”Namun, kenyataannya pembangunan lebih banyak dilakukan pemerintahan sebelumnya,” terangnya.

Padahal, yang dibutuhkan masyarakat sekarang adalah meratakan pembangunan antara Papua dengan daerah lainnya. Intinya, bagaimana membuat kesejahteraan rakyat Papua sama. ”Bukan dengan represi dan sebagainya,” tuturnya.

Apalagi, lanjut dia, selama ini Papua memiliki sejarah kelam persoalan hak asasi manusia (HAM). Dia menjelaskan, pemerintah dulu berjanji untuk menyelesaikannya. Namun, hingga kini persoalan HAM di Papua terpinggirkan. ”Ini masaahnya,” ujarnya.

Dia meminta agar pemerintah menyelesaikan pada inti persoalan. Bukan pendekatan keamanan yang kurang tepat. ”Perlu penyelesaian menyeluruh,” terangnya.

Perlu diketahui 1 Desember dianggap merupakan hari kemerdekaan Papua Barat. Hingga saat ini masih ada kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) yang masih berupaya menggoyang keutuhan NKRI. (idr/agm/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

Kembali Aktif, Tapi Masih Aman
Kembali Aktif, Tapi Masih Aman

Berita Sejenis

KPAI Terima 19 Aduan PPDB

KPAI Terima 19 Aduan PPDB

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima beragam keluhan orang tua siswa terkait pelaksanaan PPDB.


Capim KPK Tak Harus Polisi

Capim KPK Tak Harus Polisi

Latar belakang para calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) patut menjadi perhatian serius.


Batasi Saksi Hanya 17 Orang, Kebijakan MK Disoal

Batasi Saksi Hanya 17 Orang, Kebijakan MK Disoal

Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan membatasi jumlah saksi dan ahli pada sidang sengketa PHPU pilpres dari masing-masing pihak berperkara.


Presisen Jokowi: Berikan Waktu kepada Polisi

Presisen Jokowi: Berikan Waktu kepada Polisi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta semua pihak untuk memberikan waktu terlebih dahulu kepada pihak kepolisian.


Tim Investigasi Tak Perlu Dibentuk

Tim Investigasi Tak Perlu Dibentuk

Dorongan membentuk tim investigasi independen untuk mengungkap kasus kericuhan 21-22 Mei yang mengakibatkan 9 orang meninggal dunia dinilai terlalu prematur.


Jaga Keselamatan, Hakim MK akan Dikawal Polisi

Jaga Keselamatan, Hakim MK akan Dikawal Polisi

Polri berencana akan melakukan pengawalan terhadap Hakim Mahkamah Konstitusi (MK).


Polri Larang Gelar Aksi di Depan Gedung MK

Polri Larang Gelar Aksi di Depan Gedung MK

Polisi melarang kegiatan menyampaikan pendapat (demo) di depan Gedung MK, Jumat (14/6) hari ini.


Mantan Komandan Tim Mawar Segera Laporkan Majalah Tempo

Mantan Komandan Tim Mawar Segera Laporkan Majalah Tempo

Mantan Komandan Tim Mawar Kopassus Mayjen TNI (Purn) Chairawan Nusyirwan akan melaporkan Majalah Tempo ke polisi, Rabu (12/6) hari ini.


AS Hikam Sebut Perusuh Orang-Orang yang Sangat Profesional

AS Hikam Sebut Perusuh Orang-Orang yang Sangat Profesional

Aksi massa 22 Mei kembali rusuh. Massa yang melakukan aksi anarkis bukan peserta aksi massa damai yang telah membubarkan diri.


Tujuh Jurnalis Terluka di Aksi 22 Mei

Tujuh Jurnalis Terluka di Aksi 22 Mei

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengatakan tujuh jurnalis menjadi korban kekerasan, intimidasi, dan persekusi oleh polisi dan massa.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!