Nasional
Share this on:

Prihatin Kasusnya Belum Tuntas, Kiai NU Dukung Novel

  • Prihatin Kasusnya Belum Tuntas, Kiai NU Dukung Novel
  • Prihatin Kasusnya Belum Tuntas, Kiai NU Dukung Novel

JAKARTA - Rasa simpati atas insiden penyiraman air keras yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan terus mengalir.

Bukan hanya dari koalisi masyarakat sipil antikorupsi, dukungan moril itu juga datang dari para ulama Nahdlatul Ulama (NU). Mereka prihatin kasus yang terjadi 6 bulan lalu itu tak kunjung terungkap sampai sekarang.

”Kami mendorong kepolisian dan seluruh aparat untuk menemukan dan menghukum pelaku kekerasan ini,” kata Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) Pengurus Besar NU (PBNU) Marzuki Wahid di gedung KPK kemarin (12/10).

Total ada 34 ulama NU yang menyuarakan dukungan tersebut. Mereka mewakili beberapa pengurus wilayah NU (PWNU) dan pesantren-pesantren di daerah. Di antaranya, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Utara. Mereka membawa sejumlah poster berisi tulisan dukungan untuk Novel dan KPK.

Sebelumnya, bertepatan dengan 6 bulan pasca teror Novel 11 Oktober, koalisi masyarakat sipil antikorupsi juga menyampaikan dukungan untuk Novel. Mereka juga mendesak Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk mengungkap kasus Novel. Desakan itu disampaikan di gedung KPK.

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak yang menjadi bagian koalisi itu mengajak semua pihak untuk mengingat kembali kasus Novel yang hingga kini belum terungkap. Pihaknya juga mendesak presiden segera mengambil langkah tegas.

”Kami tekankan, sebenarnya ini kasus (penyerangan Novel) mudah,” ujarnya.

Dahnil juga mengajak seluruh karyawan KPK untuk bersatu menghadapi teror terhadap Novel. Dengan demikian, kedepan tidak ada lagi ancaman serupa yang menimpa pegawai-pegawai lembaga antirasuah. ”KPK ini tempat para pejuang, kalau tidak berani berjuang dan berhadapan dengan bandit-bandit sudah berhenti saja jadi karyawan KPK,” tuturnya.

Disisi lain, Dahnil menambahkan sejauh ini perkembangan kesehatan dan proses penyembuhan mata Novel menunjukkan tren positif. Setelah operasi tahap pertama pada mata sebelah kiri pada 17 Agustus lalu, Novel akan kembali menjalani operasi tahap kedua akhir bulan ini.

”InsyaaAllah Novel sudah bisa kembali ke tanah air dan bertugas di KPK pada awal atau pertengahan November,” ucapnya.

Di sela aksi kemarin, Novel sempat menyapa para pegawai dan awak media yang berkumpul di depan lobi gedung KPK melalui sambungan video call. Novel mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang mendukungnya selama ini. Dia pun berharap segera kembali ke tanah air dan bertugas di KPK.

”Terimakasih atas dukungannya,” tutur mantan Kasat Reskrim Polres Bengkulu itu.

Sementara itu, kasus penyiraman air keras kepada Novel juga menjadi pembahasan dalam rapat dengar pendapat antara Komisi III dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian kemarin. Anggota Komisi III Arsul Sani mengatakan, kasus Novel dan Aris Budiman, direktur penyidikan KPK harus mendapatkan penanganan yang sama.

“Kasus Novel sudah enam bulan,” ungkap dia.

Tapi, sampai sekarang belum ada pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka. Dia berharap, agar kasus itu segera diselesaikan, sehingga bisa terang siapa yang melakukan kejahatan itu. Begitu juga kasus yang dihadapi Aris yang merasa menjadi korban pencemaran nama baik. Jangan sampai ada kesan polri berat sebelah dalam penanganan kasus yang sama-sama menjadi sorotan publik itu.

Kapolri Tito mengatakan, pihaknya sudah berupaya menangani kedua perkara itu. Terkait kasus Novel, penyidik sudah memeriksa 50 saksi. Ada lima orang yang diamankan. Namun, kata dia, belum ditemukan cukup bukti untuk menjerat mereka, sehingga mereka pun dilepaskan. Menurut dia, tidak semua kasus bisa diselesaikan dengan mudah.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu mengatakan, kasus hit and run seperti yang dialami Novel hanya meninggalkan sedikit jejak, sehingga tidak mudah diungkap. Berbeda dengan kasus yang meninggalkan banyak jejak. Polisi tentu akan mudah mengungkapnya.

“Seperti kasus bom Bali yang meninggalkan banyak jejak,” paparnya.

Tito mengatakan, dalam menangani kasus Novel, pihaknya juga melakukan joint investigation dengan KPK. Namun, komisi antirasuah belum juga mengirim personel untuk bergabung. Polri, lanjut dia, akan berupaya mengungkat kasus tersebut. Sedangkan terkait dengan perkara Aris Budiman, polisi masih terus melakukan pendalaman. (tyo/lum/jpnn)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Kesepakatan Belum Mengikat

Kesepakatan Belum Mengikat

Kementerian BUMN memastikan transaksi jual beli 51 persen saham divestasi PT Freeport Indonesia (PTFI) bakal selesai pada September 2018.


Polisi Terus Buru Perakit Bom Bangil

Polisi Terus Buru Perakit Bom Bangil

Terduga teroris Bangil, Kabupaten Bangil, Anwari alias Abdullah belum juga tertangkap.


Koordinasi Aturan Transportasi Belum Maksimal

Koordinasi Aturan Transportasi Belum Maksimal

Pasca kecelakaan kapal dalam sebulan terakhir, Kementerian Perhubungan memberikan perhatian lebih pada dunia pelayaran.


Wow... Ada Dugaan Permainan “Garansi” di Kasus Setnov

Wow... Ada Dugaan Permainan “Garansi” di Kasus Setnov

Janji Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut indikasi tindak pidana pencucian uang (TPPU) Setya Novanto (Setnov) belum terwujud sampai sekarang.


KPU Belum Putuskan Pilkada Ulang

KPU Belum Putuskan Pilkada Ulang

KPU mengeklaim persoalan dugaan kecuragaan di Pilwalkot Makassar sudah selesai.


Pemudik Sudah Kembali Semua ke Jakarta

Pemudik Sudah Kembali Semua ke Jakarta

Arus balik sudah tuntas seratus persen. Ratusan ribu kendaraan yang pergi meninggalkan Jakarta telah kembali seluruhnya.


Pencarian Nihil, Kemenhub Datangkan Rohaniwan

Pencarian Nihil, Kemenhub Datangkan Rohaniwan

Pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba belum menggembirakan.


Pelamar CPNS 2018 Diprediksi Tembus 10 Juta

Pelamar CPNS 2018 Diprediksi Tembus 10 Juta

Tahun ini pemerintah berencana kembali membuka rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) baru. Tapi hingga saat ini jadwal dan formasinya belum dilansir.


Kapal Equanimity Disita Ulang

Kapal Equanimity Disita Ulang

Bareskrim masih belum menyerah terkait kasus penyitaan kapal Equanimity senilai USD 250 juta.


Solusi Pengangkatan Honorer Belum Jelas

Solusi Pengangkatan Honorer Belum Jelas

Untuk kesekian kalinya, pembahasan revisi Undang-Undang 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) diperpanjang, kemarin.



Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!