Nasional
Share this on:

Rektor Unnes Diduga Melakukan Plagiat

JAKARTA - Kasus kejahatan intelektuan berupa plagiat sedang ditujukan kepada Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Fathur Rokhman. Dia diduga melakukan plagiat terhadap artikel milik Anif Rida, guru di SMPN 6 Salatiga. Hasil kajian dari anggota tim evaluasi kinerja akademik (EKA) Kemenristekdikti menyebutkan bahwa Fathur telah melakukan plagiat.

Anggota tim EKA Prof Budi Santoso mengatakan sudah memperlajari artikel yang atasnama Fathur maupun Anif Rida. Artikel atas nama Anif Rida diterbitkan dalam Konferensi Linguistik Tahunan Universistas Atma Jaya Jakarta pada 17-18 Februari 2003. Dengan judul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia; Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas.

Sedangkan artikel atas nama Fathur Rokhman terbit dalam jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Litera Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2004. Artikel atas nama Fathur berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri; Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas.

Guru besar ITS ahli data mining itu mengatakan sudah melakukan perbandingan antara artikel atas nama Fathur Rokhman dan Anif Rida. Dia menjelaskan isi pendahuluannya ini 100 persen sama. Kemudian metodologi penelitiannya juga 100 persen sama. Bahkan hasil penelitian dan daftar pusatakanya juga memiliki kesamaan 100 persen alias identik. ’’Ini plagiat,’’ katanya saat dihubugi tadi malam (6/7).

Budi menegaskan hasil evaluasinya menyebutkan bahwa yang dilakukan oleh Fathur adalah sebuah praktik plagiat. Namun dia mengatakan tim EKA belum menyampaikan keputusan rekomendasi terkait temuan kasus plagiat ini. Jadi nantinya tim EKA bakal merekomendasikan sanksi apa, sampai kemarin belum ada keputusannya.

Pihan rektorat Unnes berkilah bahwa yang terjadi itu adalah similaritas. Bukan sebuah plagiat. Namun Budi mematahkannya. Similaritas itu bisa disebut sebagai sebuah kebetulan sama. Tetapi dengan tingkat kesamaan yang seratus persen itu, Budi mengatakan sulit menyebutnya sebagai sebuah kebetulan sama atau similarity.

Dia juga mengomentari kaitan antara Fathur dan Anif ketika penelitian itu dibuat. Saat itu Fathur sebagai pembimbing, sementara Anif sebagai mahasiswa yang dibimbing. Budi mengatakan seorang pembimbing tetap harus izin jika ingin menerbitkan karya penelitian dari mahasiswa bimbingannya. ’’Meskipun yang punya ide adalah pembimbing, tetapi yang menyusun dan melakukan penelitian adalah mahasiswa pembimbing,’’ jelasnya.

Etika yang benar adalah pembimbing lebih dahulu minta izin. Bahkan jika perlu di dalam artikelnya juga dicantumkan nama mahasiswa yang melakukan penelitian. Perkara urutan nama siapa yang ditulis terlebih dahulu, bisa dibahas antara kedua pihak. Budi enggan menyampaikan saran bagaimana supaya para akademisi menghindari praktik plagiat. ’’Sebab semua sudah tahu ketentuannya,’’ pungkasnya.

Sementara itu Rektor Unnes Fathur Rokhman bersama Senat Unnes kemarin melakukan audiensi dengan jajaran Kemenristdikti. Kepala UPT Humas Unnes Hendi Pratama mengatakan audiensi itu diterima langsung oleh Menristekdikti Mohamad Nasir. ’’Adapun untuk isu plagiasi akan kami jawab maksimal hari Selasa minggu depan,’’ kata Hendi.

Hendi mengatakan dari dokumen-dokumen yang telah menyebar, menimbulkan asumsi-asumsi. Dia berharap masyarakat bersabar. Sebab rektorat dan senat Unnes bakal mengkaji semua datanya. ’’Apakah ada plagiasi atau tidak. Similaritas itu tidak otomatis plagiasi. Nanti akan diklarifikasi,’’ pungkasnya.

Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti (SDID) Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan mereka membentuk tim terkait kasus dugaan plagiat itu. Dia mengatakan sudah mendapatkan laporan dari Senat Unnes, bahwa tidak benar telah terjadi plagiat oleh Rektor Unnes Fathur Rokhman.

Ghuron menceritakan sudah biasa Kemenristekdikti menawarkan proyek penelitian, lalu ada dosen mengajukan proposal. Kemudian untuk mendidik, dosen yang mengajukan proposan itu menugaskan mahasiswanya untuk menjalankan penelitian. Menurut dia nantinya hasil kajian tim Ditjen SDID Kemenristekdikti bisa saja berbeda dengan keputusan Senat Unnes. ’’Bisa (beda, Red) meski kemungkinan kecil,’’ pungkasnya. (wan/jpg)

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!