Nasional
Share this on:

Satu Korban Teridentifikasi, Sisanya Tunggu Tes DNA

  • Satu Korban Teridentifikasi, Sisanya Tunggu Tes DNA
  • Satu Korban Teridentifikasi, Sisanya Tunggu Tes DNA

JAKARTA - Istighotsah itu sengaja diadakan keluarga untuk mendoakan Jannatun Cintya Dewi. Agar salah seorang korban jatuhnya pesawat Lion Air tersebut dapat segera ditemukan. Dalam kondisi hidup atau sudah meninggal.

Dan, tadi malam, sekitar pukul 20.00 WIB, 15 menit setelah istighotsah yang dihelat sejak, Selasa lalu (30/10) itu berakhir, kepastian akhirnya datang. Cintya jadi korban pertama jatuhnya Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang jenazahnya bisa diidentifikasi.

”Jenazah dibawa ke rumah duka besok (hari ini, Red). Berangkat dari Jakarta pukul 05.00,” tutur Kapolsek Sukodono, Sidoarjo, AKP Sumono kepada Jawa Pos.

Keluarga staf Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) itu langsung menyiapkan keperluan pemakaman. Jenazah perempuan 24 tahun tersebut rencananya dimakamkan di kampung halaman di Dusun Prumpon Desa Suruh Kecamatan Sukodono Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Hingga tadi malam tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri memang menghadapi tantangan berat dalam mengidentifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat Lion Air. Pencocokan posmortem dari 87 bagian tubuh korban dengan antemortem berupa tanda-tanda medis dari keluarga hanya berhasil mengidentifikasikan Cintya.

Akhirnya, DVI hanya bergantung pada tes DNA untuk menentukan identitas korban lain. Yang ditargetkan bisa diketahui hasilnya dalam delapan hari.

Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Kombespol Musyafak menuturkan, sampai kemarin (31/10), data antemortem atau data identitas korban dari keluarga yang telah masuk sebanyak 191 data. Satu keluarga bisa memasukkan lebih dari satu data antemortem.

”Namun, untuk data antemortem berupa tanda medis seperti struktur gigi, sidik jari, dan sebagainya, kami mohon keluarga melengkapi,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Data antemortem berupa tanda medis tersebut coba dicocokkan dengan posmortem atau data yang diambil dari jenazah korban. Hasilnya berupa pengidentifikasian Cintya.

”Jenazah dapat diidentifikasi karena ditemukan bagian tubuh yang masih baik,” tuturnya.

Sementara itu, Kapusinafis Polri Brigjen Hudi Suryanto menjelaskan bahwa jenazah korban mampu diidentifikasi, karena ditemukan tangan bagian kanan yang masih menyambung dengan bagian dada hingga perut. Lalu, kondisi sidik jari yang masih baik.

”Maka, kami scan sidik jari bagian telunjuk yang relatif baik hingga keluar identitasnya,” jelasnya.

Bagaimana dengan identifikasi korban lainnya? Kapudokkes Polri Brigjen Arthur Tampi menjelaskan bahwa data antemortem para korban lain kurang kuat. Karena itu, tim DVI memutuskan menunda menyimpulkan identitas mereka.

”Dalam proses pencocokan atau rekonsiliasi ini terjadi pembicaraan yang ketat,” paparnya.

Salah satu contohnya, terdapat data berupa tato dari pihak keluarga. Namun, tidak bisa dicocokkan dengan jenazah korban. Bahkan, untuk menentukan identitas korban yang masih anak dan bayi juga kurang meyakinkan.

Sebab, ada sebagian tim DVI yang tidak setuju dalam menentukan usia korban berdasar rontgen untuk mengetahui pertumbuhan tulang. ”Untuk itu, kami putuskan menunggu hasil tes DNA,” ujarnya.

Dari 189 keluarga penumpang dan kru pesawat, baru diambil 147 sampel DNA. Artinya, setidaknya masih kurang 41 sampal DNA dari keluarga. Bahkan, bisa lebih karena untuk satu korban bisa jadi membutuhkan beberapa sampel. Atau malah yang melapor dari keluarga ada lebih dari satu.

”Kami mohon agar secepatnya dilengkapi,” terangnya.

Apakah kondisi jenazah yang rusak itu bisa menentukan penyebab kematian? Dia menjelaskan bahwa Polri akan memberikan masukan kepada KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dari hasil identifikasi jenazah korban. Dengan begitu, investigasi untuk mengetahui proses kecelakaan bisa lebih cepat. ”Tapi, bukan kami yang berwenang menjelaskan soal kecelakaan,” ujarnya.

Polri tidak hanya mengerahkan tim DVI, tapi juga tim psikologi. Mereka bertugas menyembuhkan trauma keluarga korban. Dari upaya tersebut, keluhan paling menonjol dari keluarga soal identitas korban.

Arthur menjelaskan, keluarga korban merasakan kesedihan yang makin dalam akibat munculnya nama, bahkan kartu identitas korban kecelakaan pesawat, di media sosial dan media massa. ”Keluarga minta foto KTP jangan diulang-ulang ditayangkan, bikin sakit hati. Kami minta semua memahaminya,” tuturnya.

Kemarin Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan ikut memberikan semangat kepada keluarga korban kecelakaan pesawat di ruang trauma healing RS Polri. Setidaknya 128 warga Bangka Belitung menjadi korban dalam kejadiaan nahas tersebut.

”Kami menerima keluhan yang sama, bagian tubuh korban, barang-barang KTP, foto, jangan dimunculkan terus. Ini sangat berpengaruh,” tuturnya saat ditemui di RS Polri kemarin.

Sementara itu, penyerahan jenazah Jannatun dilakukan kemarin malam. Ayah Jannatun, Bambang Supriadi, menerima langsung dokumen serah terima tersebut. Dengan terisak, dia menerima amplop merah yang diserahkan tim Lion Air dan DVI Polri. Tak ada sepatah kata pun yang diucapkannya. Dia langsung menuju kamar jenazah untuk melihat jenazah sang putri.

Tim DVI Brigjen Sumirat Dwiyanto mengatakan bahwa jenazah akan diterbangkan ke Sidoarjo hari ini. ”Kami tidak mau berandai-andai bagaimana jika ada potongan tubuh lain dari Jannatun,” jawabnya ketika ditanya kenapa tidak menunggu temuan tubuh Jannatun secara lengkap. (idr/lyn/edi/c10/ttg/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Uang di Laci Meja Menag Teridentifikasi

Uang di Laci Meja Menag Teridentifikasi

Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil mengungkap besaran uang yang mereka sita dari ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.


PPPK Akhir Pekan Mulai Tes

PPPK Akhir Pekan Mulai Tes

Pendaftaran pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) resmi ditutup Senin (17/2) pukul 24.00 WIB.


Pematalan Remisi Susrama, Tinggal Tunggu Keputusan Presiden

Pematalan Remisi Susrama, Tinggal Tunggu Keputusan Presiden

Gelombang dorongan yang tidak henti meminta pemerintah mencabut remisi untuk I Nyoman Susrama berbuah manis.


Awasi Pejabat, Dua Pegawai KPK Dipukuli

Awasi Pejabat, Dua Pegawai KPK Dipukuli

Ancaman terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali berulang. Kali ini, dua pegawai KPK menjadi korban kekerasan sekolompok orang.


Urun Biaya Peserta BPJS Kesehatan Tunggu Usulan

Urun Biaya Peserta BPJS Kesehatan Tunggu Usulan

Peserta BPJS Kesehatan belum dikenai urun biaya yang masuk dalam program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).


Jelang Debat Capres, Paslon Sepakat Lontarkan Pertanyaan Substantif

Jelang Debat Capres, Paslon Sepakat Lontarkan Pertanyaan Substantif

Pengamanan menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan debat paslon presiden dan wakil presiden yang akan berlangsung besok (17/1).


Tarif Pesawat Diturunkan

Tarif Pesawat Diturunkan

Tarif pesawat yang melambung, satu persatu akan turun harga. Targetnya 20 persen hingga 60 persen dari harga semula.


Honorer Ingin Semua Diakomodasi

Honorer Ingin Semua Diakomodasi

Tawaran pemerintah untuk mengundang 159 ribu guru honorer K2 mengikuti tes calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK) belum mendapat respon positi


Alhamdulillah, 159 ribu Guru Honorer K2 Bisa Jadi PPPK

Alhamdulillah, 159 ribu Guru Honorer K2 Bisa Jadi PPPK

Jumlah guru honorer K2 yang akan mengikuti tes Calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK) sudah selesai dipetakan.


Vanessa Angel Hanya Saksi dan Korban, Polisi Tersangkakan Dua Mucikari

Vanessa Angel Hanya Saksi dan Korban, Polisi Tersangkakan Dua Mucikari

Vanessa Angel bisa sedikit bernapas lega. Kemarin (6/1) dia resmi menyudahi pemeriksaan melelahkan selama lebih dari 24 jam.



Berita Hari Ini

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!