Nasional
Share this on:

Soal Pencucian Uang, Kejar Keterlibatan Petugas Lapas

  • Soal Pencucian Uang, Kejar Keterlibatan Petugas Lapas
  • Soal Pencucian Uang, Kejar Keterlibatan Petugas Lapas

JAKARTA - Kasus pencucian uang (money laundering) sindikat bandar narkoba kelas kakap yang baru diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN) menjadi pintu masuk untuk mengejar keterlibatan petugas lembaga pemasyarakatan (lapas). Itu setelah adanya indikasi bahwa upaya mengaburkan uang tersebut difasilitasi oleh petugas lapas.

Indikasi itu menguat karena para napi narkoba diketahui bebas menggunakan alat komunikasi (handphone) di dalam lapas. Misal, napi Juvictor Indraguna yang kini mendekam di Lapas Bulak Kapal, Bekasi. Victor (sapaan Juvictor Indraguna) mengendalikan aliran uang hasil bisnis narkoba dari balik jeruji hanya melalui handphone.

Sebagian uang itu yang kemudian mengalir ke Surabaya. Ke jasa penukaran uang (money changer) yang dikelola Adiwijaya alias Adi alias Kwang. Skenario pencucian uang semacam itu sulit terdeteksi oleh Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) karena melibatkan lebih dari satu debitur dan satu kreditur. Lazimnya transaksi hanya dilakukan satu debitur dan satu kreditur.

Kepala Bagian Humas BNN Kombes Sulistiandriatmoko menyatakan, pihaknya memang tengah mendalami peran petugas lapas dalam kasus pencucian uang itu. Hanya, dia belum mau membeberkan sejauh mana pendalaman yang dilakukan. ”Masih perlu pendalaman,” kata Sulistiandriatmoko saat dihubungi Jawa Pos, kemarin (2/8).

Sulis-sapaan Sulistiandriatmoko- menjelaskan, keterlibatan petugas lapas dalam kasus pencucian uang itu sebelumnya pernah diungkap BNN pada medio Januari lalu. Saat itu, BNN menyeret Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II Purworejo, Jawa Tengah Cahyono Adhi Satriyanto dalam kasus money laundering seorang napi narkoba bernama Kristian Jaya Kusuma.

Petugas pemasyarakatan itu diduga menerima uang ratusan juta rupiah dari Kristian. Uang-uang yang diserahkan melalui transfer antarbank itu sudah diterima Cahyono sejak menjabat sebagai Kepala Pengamanan Lapas Narkotika Nusakambangan. Cahyono memberikan kemudahan kepada Kristian agar bisa mengendalikan bisnis narkoba dari balik jeruji besi.

Nah, oknum petugas lapas Bulak Kapal, Bekasi yang nantinya diketahui memberikan kemudahan kepada napi narkoba bakal diterapkan hal yang sama oleh BNN. Hanya, untuk mengungkap hal itu butuh proses. ”Perlu pendalaman,” tegas Sulis.

Selain soal keterlibatan petugas lapas, Sulis juga terus berupaya mengungkap bisnis narkoba lain yang dilakukan di dalam penjara. Sejauh ini, dari informasi yang dikumpulkan BNN, sekitar 70-80 persen bisnis narkoba dikendalikan di dalam lapas atau rutan. Posisi bandar-bandar itu tengah menjalani masa pidana kejahatan narkoba.

”Jadi peredaran gelap, terutama masuknya narkoba dari luar negeri, 70-80 persen dikendalikan para master mind yang posisinya sedang menjalani pidana atau ada di dalam lapas,” terangnya.

Disisi lain, Juru Bicara Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Ade Kusmanto mengatakan, peredaran narkoba yang terjadi di lapas menjadi motivasi bagi pihaknya untuk memperbaiki sistem pemasyarakatan menjadi lebih baik. Hanya, terkait dugaan keterlibatan petugas lapas, dia belum bisa memberi komentar.

”Itu semua menjadikan motivasi dan momen yang baik untuk membuat pemasyarakatan lebih baik,” ujarnya. (tyo/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

PKS Diminta Tak Memaksa Prabowo
PKS Diminta Tak Memaksa Prabowo

Berita Sejenis

1,8 Juta Peserta SKD CPNS Hanya 8 % yang Lulus

1,8 Juta Peserta SKD CPNS Hanya 8 % yang Lulus

Di tengah polemik nilai ambang batas tes CPNS terlalu tinggi atau soal sangat sulit, pada kenyataannya yang lulus sedikit.


Nelayan Sempat Dengar Suara Ledakan

Nelayan Sempat Dengar Suara Ledakan

Di Pantai Tanjung Pakis Karawang sejak pagi hingga malam ratusan petugas dari SAR, BPBD Karawang, PMI, TNI, dan polisi berjaga.


Kubu Prabowo Laporkan Situs yang Bikin Hoax Soal Sandi

Kubu Prabowo Laporkan Situs yang Bikin Hoax Soal Sandi

Drama kasus kebohongan Ratna Sarumpaet seperti tak berujung.


Kebohongan Ratna Bisa Jadi Tutupi Soal Rekening

Kebohongan Ratna Bisa Jadi Tutupi Soal Rekening

Kasus kebohongan Ratna Sarumpaet dinilai tidak berdiri sendiri. Ada kemungkinan, kasus kebohongan itu digunakan untuk menutupi sesuatu.


Idrus Bantu Eni Minta Uang dari Kotjo

Idrus Bantu Eni Minta Uang dari Kotjo

Sidang perdana perkara dugaan korupsi pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau 1 memang hanya untuk Johanes Budisutrisno Kotjo sebagai terdakwa.


KPK Umbar Penyelidikan Newmont

KPK Umbar Penyelidikan Newmont

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) buka-bukaan soal penyelidikan dugaan korupsi penjualan saham PT Newmont Nusa Tenggara kepada PT Amman Mineral Internasional.


Masih Ada Sel Mewah di Sukamiskin, Menkumham Didesak Mundur

Masih Ada Sel Mewah di Sukamiskin, Menkumham Didesak Mundur

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) kembali “kebobolan” soal buruknya pengelolaan Lapas Kelas 1 Sukamiskin, Bandung.


Data NIK Tidak Muncul, Segera Lapor Dinas Dukcapil

Data NIK Tidak Muncul, Segera Lapor Dinas Dukcapil

Pendaftaran CPNS baru tahun lalu, diwarnai keluhan soal input NIK (nomor induk kependudukan).


Dua Mahasiswa Curi 4 Ribu Data kartu Kredit

Dua Mahasiswa Curi 4 Ribu Data kartu Kredit

Tersangka pencurian data kartu kredit DSC dan AR masih bisa tersenyum saat difoto polisi pasca ditangkap petugas.


Setnov Tahu Proyek PLTU Riau

Setnov Tahu Proyek PLTU Riau

Dugaan keterlibatan mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dalam kasus korupsi proyek PLTU Riau 1 coba diurai oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!