Nasional
Share this on:

Tambah Dua Menteri Akan Tambahi Beban APBN

  • Tambah Dua Menteri Akan Tambahi Beban APBN
  • Tambah Dua Menteri Akan Tambahi Beban APBN

JAKARTA - Keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menambah dua menteri baru agar bisa mendorong ekspor dan investasi, tidaklah mudah. Belum tentu kedua menteri baru nantinya bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Atau bahkan, akan menambah masalah baru. Ini karena pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 diprediksi di kisaran 5,1-5,2 persen, alias tidak jauh berbeda di tahun lalu di angka 5,17 persen.

Jokowi sebelumnya mewacanakan pengangkatan dua menteri dengan nomenklatur baru, yaitu menteri investasi dan menteri ekspor. Hal itu dilontarkan pada forum rapat kabinet beberapa waktu lalu.

Mantan Gubernur DKI itu meyakini dengan bertambahnya dua menteri baru khusus, maka bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jokowi mencontohkan di negara Uni Eropa, dan negara lain, ada menteri khusus invetasi dan ekspor.

"Dari sisi kelembagaan kita perlu dia menteri (ekspor dan invetasi) itu," kata Jokowi pada rakornas Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Selasa (12/3) lalu.

Mengenai wacana tersebut, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro angkat suara, bahwa keinginan tersebut tercetus karena ingin mengangkat pertumbuhan ekonomi. Karena pertumbuhan ekonomi sulit bergerak hanya di kisaran 5,1 hingga 5,2 persen saja.

"Presiden Jokowi ingin sesuatu yang berhubungan global market ditangani oleh suatu institusi yang solid. Selama ini pertumbuhan ekonomi kan sekitrar 5,1-5,2 persen, dan penyebabnya karena pertumbuhan ekspor yang relatif lemah serta pertumbuhan invetasi yang tidak jelek tapi mungkin ingin lebih cepat lagi," kata Bambang di Jakarta, Rabu (13/3).

Namun keinginan Jokowi tidak serta merta harus langsung disetujui, karena harus dilakukan kajian terlebih dahulu untuk melihat sejauh mana pengaruh besar dari dua menteri baru nantinya.

"Itu tinggal menunggu waktu. Kita lihat dulu tentunya, diperhatikan juga struktur kementerian yang ada sekarang," ucap Bambang.

Terpisah pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira menilai, pemerintah harus melihat efektivitas dari kedua menteri baru tersebut.

"Harus diukur efektivitas kerja, koordinasi dan anggaran dari rencana kementerian baru itu," kata Bhima kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (13/3) kemarin.

Karena menurut Bhima, untuk urusan invetasi selama ini ditangani oleh BKPM. Dan, lembaga itu seharusnya lebih didorong lagi untuk bekerja dengan baik.

"Tapi selama ini ada ego sektoral antar kementerian lembaga. Izin investasi misalnya sering bersinggungan dengan kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta pemerintah daerah. jadi membuat kementerian baru belum tentu selesaikan permasalahan itu," tutur Bhima.

Selain itu, kata Bhima, dana yang akan dikucurkan untuk mendirikan dua kementerian baru pun tidak murah. Karena setiap tahun untuk Kementerian perdagangan misalnya membutuhkan dana Rp3,5 triliun.

"Kalau buat dua kementerian baru minimum Rp3,5 triliun, dikali dua menjadi Rp7 triliun. Belum biaya gedung, SDM diawal dan sebabagainya. Tentu akan sangat mahal. Jangan sampai menambah beban APBN di tengah kenaikan utang negara," ucap Bhima.

Saran Bhima, usul Jokowi dikaji dahulu dengan matang baru dilempar ke publik. "Tidak smua masalah investasi dan ekspor selesai dengan buat institusi baru. Yang ada nanti makin birokratis dan sulitkan investor," pungkas Bhima. (din/fin/zul)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Soal Uang Sitaaan, Menag Lukman Memilih Bungkam

Soal Uang Sitaaan, Menag Lukman Memilih Bungkam

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin hemat bicara dan terkesan menghindar, ketika disinggung terkait uang yang disita penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK


Uang di Laci Meja Menag Teridentifikasi

Uang di Laci Meja Menag Teridentifikasi

Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil mengungkap besaran uang yang mereka sita dari ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.


Menteri Agama Lukman Hakim Dalam Bidikan KPK

Menteri Agama Lukman Hakim Dalam Bidikan KPK

Jantung Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin pasti sedang berdetak keras.


Sandiga Uno Latih Gesture, Ma'ruf Belajar Durasi

Sandiga Uno Latih Gesture, Ma'ruf Belajar Durasi

Dua calon wakil presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno melakukan persiapan untuk menghadapi debat ketiga pada hari ini.


Debat Ketiga Harus Konstruktif dan Manfaatkan Jawaban

Debat Ketiga Harus Konstruktif dan Manfaatkan Jawaban

Debat ketiga calon wakil presiden (Cawapres) harus konstruktif, sehingga dua kandidat yakni Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno diminta untuk memaksimalkan j


Ditantang Sumpah Pocong, Kivlan Zen Ajak Adu Debat Wiranto

Ditantang Sumpah Pocong, Kivlan Zen Ajak Adu Debat Wiranto

Tantangan sumpah pocong Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto langsung ditanggapi Mayor Jenderal Purnawirawan TNI Kivlan Zen.


Debat Ketiga Kurangi Kursi Timses, Tambah Undangan Stakeholder

Debat Ketiga Kurangi Kursi Timses, Tambah Undangan Stakeholder

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai bersiap menyelenggarakan debat putaran ketiga Pilpres 2019. Rencananya, rapat persiapan pertama dilaksanakan besok (26/2).


Joko Driyono Akan Diperiksa Pekan depan

Joko Driyono Akan Diperiksa Pekan depan

Setelah melakukan pemeriksaan yang kedua selama 22 jam, kemarin, Polisi memutuskan tidak menahan Ketua Umum PSSI Joko Driyono.


Dicoret dari Fornas, Dua Obat Kanker Tak Ditanggung BPJS Kesehatan Lagi

Dicoret dari Fornas, Dua Obat Kanker Tak Ditanggung BPJS Kesehatan Lagi

Kemenkes telah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/707/2018 yang mengeluarkan obat kanker Bevacizumab dan Cetuximab.


Diberi Keleluasaan, Debat Capres Bakal Lebih Seru

Diberi Keleluasaan, Debat Capres Bakal Lebih Seru

Minggu lusa dua calon presiden (capres), Joko Widodo dan Prabowo Subianto, kembali head-to-head di forum debat.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!