Nasional
Share this on:

Video Kekerasan Siswa Masih Diselidiki

  • Video Kekerasan Siswa Masih Diselidiki
  • Video Kekerasan Siswa Masih Diselidiki

JAKARTA - Pemukulan di sekolah yang terekam video dan tersebar menambah daftar panjang kasus kekerasan pada anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dalam tiga tahun terakhir ada 1.245 laporan kekerasan anak di sekolah.

Kasus kekerasan pada siswa itu juga menjadi atensi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat bertemu KPAI, kemarin. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengungkapkan, JK sudah melihat video yang tersebar lewat berbagai aplikasi media sosial itu.

Pada video itu terlihat ada seorang anak sekolah yang sedang dipukuli berkali-kali oleh seorang lelaki. Belum diketahui pasti pemukul itu guru atau bukan.

Ada informasi yang sampai ke KPAI, bahwa lelaki itu adalah orang tua siswa yang diduga putrinya dicabuli murid lelaki. Tapi informasi itupun masih ditelusuri.

”Tadi Pak Wapres bilang saya udah lihat videonya, tapi kalau sadis seperti itu memang enggak layak,” kata Retno. ”Ini sangat parah dan sadis,” imbuh Retno menirukan JK.

Tren kekerasan anak di dunia pendidikan dalam tiga tahun terakhir sebenarnya cenderung turun. Pada 2015, KPAI menerima 538 laporan, turun pada 2016 menjadi 427 laporan. Sedangkan pada tahun ini hingga awal September tercatat 280 pengaduan.

”Empat bulan terakhir 34 persen seluruh kasus pendidikan adalah kekerasan di sekolah,” ujar mantan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) itu. Pelaku kekerasan itu mulai dari murid, antarsiswa, hinga kasus tawuran.

Terkait video kekerasan di sekolah yang tersebar di dunia maya itu, dia berharap ada bantuan dari Kemenkominfo dan kepolisian untuk melacak video tersebut. Sebab, hingga kemarin lokasi kekerasan pada video tersebut belum diketahui pasti.

”Tapi dipastikan itu di Indonesia. Sekolah swasta,” imbuh dia.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad mengklarifikasi bahwa video kekerasan di kelas yang menjadi viral beberapa hari belakangan bukan kejadian yang ada di SMPN 10 Pangkal Pinang.

"Kejadian di Pangkal Pinang itu kejadian lain yang terjadi sebulan lalu. Tidak merujuk pada video yang viral di mana-mana. Ada indikasi video yang viral kejadian di Kota Pontianak," katanya saat ditemui di kantor Kemendikbud, kemarin.

Hamid menjelaskan, terkait dengan video viral itu, pihaknya sudah menugaskan Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di Kalimantan Barat untuk berkoordinasi dengan dinas setelempat untuk mencari tahu lokasi kejadian tersebut.

"Kami masih mencari sekolahnya di mana," ucap Hamid.

Dia menambahkan, berdasarkan informasi awal, diketahui bahwa pelakunya bukan seorang guru seperti yang diberitakan. Melainkan orang tua yang putrinya dicabuli oleh korban pemukulan. "Tapi, informasi awal ini masih perlu dikonfirmasi. Kami terus melakukan koordinasi untuk mendapatkan konfirmasi mengenai hal tersebut," terang dia.

Menanggapi beredarnya video tersebut, Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Martinus Sitompul menjelaskan bahwa Polri menilai tindakan yang dilakukan oleh tenaga pendidik itu patut dibawa ke ranah hukum. ”Bagi Polri, perbuatan seperti itu ya harus dipidana,” ungkap dia ketika diwawancarai di kantor Divhumas Polri kemarin.

Tujuannya agar hal serupa tidak terulang. Juga sebagai salah satu langkah untuk menimbulkan efek jera terhadap tenaga pendidik yang masih berani main tangan. Sebab, itu tidak dibenarkan dalam aturan.

”Itu kan mencoreng dunia belajar mengajar,” tegas pria yang akrab dipanggil Martin itu. Dia menilai, proses belajar mengajar tidak seharusnya dilakukan dengan kekerasan.

Karena itu, Martin tegas menyampaikan bahwa tenaga pengajar dalam video tersebut layak dipidana. Dia memastikan, proses hukum pasti ditindajlanjuti oleh Polri. Namun demikian, mereka tidak ingin melangkahi instansi lain yang punya peran lebih mengurus persoalan tersebut. ”Yang lebih berperan penting di sini adalah Kemendikbud,” imbuhnya.

Yang pasti, Polri menilai tindakan tenaga pengajar tersebut sudah melanggar ketentuan. ”Kalau dilihat dari polisi, penyidik itu bertanya bukan sebabnya apa. Namun, yang dilihat adalah apa akibat yang ditumbulkan,” terang mantan kabid humas Polda Metro Jaya itu.

Akibat yang dia maksud di antaranya luka ringan, luka berat, atau luka lain yang bisa berakibat fatal. ”Perbuatan itulah yang dipidana,” tegasnya. (and/syn/jun/jpnn)


Berita Sebelumnya

Ekonomi Indonesia Jalan di Tempat
Ekonomi Indonesia Jalan di Tempat

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Puti Paling Sedikit, Harta Gus Ipul Naik

Puti Paling Sedikit, Harta Gus Ipul Naik

Pemilihan gubernur (pilgub) Jatim masih memasuki tahap perbaikan berkas pasangan calon (paslon).


Soal KTP Penghayat Kepercayaan, MUI Hormati Putusan MK

Soal KTP Penghayat Kepercayaan, MUI Hormati Putusan MK

Dewan Pimpinan MUI masih menyesalkan putusan MK Nomor Perkara 97/PPU-XIV/2016 berkaitan dengan pencantuman kolom penghayat kepercayaan dalam e-KTP.


Majelis Hakim Sidang Cerai Ahok Terbentuk

Majelis Hakim Sidang Cerai Ahok Terbentuk

Pemicu gugatan cerai Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terhadap istrinya, Veronica Tan, masih menjadi misteri.


Poros Ketiga Masih Tunggu Gus Ipul

Poros Ketiga Masih Tunggu Gus Ipul

Koalisi poros ketiga yang diberi nama Jatim Emas juga belum memastikan pasangan cagub maupun cawagub yang akan mereka usung.


2017, PHK Capai 50 Ribu Orang

2017, PHK Capai 50 Ribu Orang

Serikat Buruh menilai tahun 2017 pemerintah masih gagal mewujudkan janji untuk mensejahterakan kaum buruh.


112 Orang Terinfeksi Difteri

112 Orang Terinfeksi Difteri

Laju penyebaran virus difteri belum melambat. Hingga berita ini diturunkan, pasien terindikasi difteri masih terus bertambah.


Produktivitas Indonesia Kalah Empat Kali Lipat dari Jepang

Produktivitas Indonesia Kalah Empat Kali Lipat dari Jepang

Balai latihan kerja (BLK) yang diambil pemerintah daerah dinilai masih belum bisa meningkatan produktivitas para pekerja.


Kelangkaan Gas Melon Mulai Diselidiki Polisi

Kelangkaan Gas Melon Mulai Diselidiki Polisi

Kelangkaan elpiji 3 kilogram (kg) di sejumlah daerah membuat Bareskrim turun tangan.


Stop Dulu Kirim Mahasiswa ke Mesir

Stop Dulu Kirim Mahasiswa ke Mesir

Kondisi keamanan Mesir masih belum kondusif. Sejak ditetapkannya state of emergency di Mesir pada April 2017.


Geger Pesawat TNI AU Angkut Miras

Geger Pesawat TNI AU Angkut Miras

Penemuan 797 botol miras jenis Vodka di pesawat angkut TNI-AU C-130 Hercules, Rabu (29/11) lalu, kini tengah diselidiki oleh Polisi Militer.



Berita Hari Ini

Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!