Nasional
Share this on:

Vigit Waluyo Disanksi Seumur Hidup

  • Vigit Waluyo Disanksi Seumur Hidup
  • Vigit Waluyo Disanksi Seumur Hidup

JAKARTA - Gerak langkah Vigit Waluyo (VW) di kancah persepakbolaan tanah air bakal tidak seleluasa sebelumnya. Makin terisolasi. Bahkan bisa jadi tamat.

Sebelum Satgas Antimafia Bola memeriksanya, kemarin (8/1) Komdis PSSI menjatuhkan sanksi tidak boleh aktif dan berkecimpung di dunia sepak bola Indonesia seumur hidup untuk mantan manajer Deltras Sidoarjo itu. ”Jadi, yang sudah ditunggu-tunggu, VW (Vigit Waluyo) kami sanksi seumur hidup,” ujar Ketua Komdis PSSI Asep Edwin di Jakarta kemarin.

Berbeda dengan Johar Lin Eng, Dwi Irianto, Priyanto, dan Anik Yuni Artika Sari, hukuman untuk VW tidak melibatkan kasus Persibara. Juga tidak perlu memandang apakah VW adalah family football atau bukan. Yang jelas, VW secara fisik selalu hadir di setiap pertandingan ”yang sudah diatur”. Misalnya di setiap pertandingan PS Mojokerto Putra (PSMP).

”Dia bisa masuk ke lorong pemain. Ke area yang sebetulnya tidak bisa dimasuki semua orang. Ini tidak satu dua bukti saja karena ada banyak foto yang menyebutkan itu,” papar Asep. ”Dan PSMP sendiri sudah terbukti melakukan match fixing. Dari situ kami yakin akhirnya menghukum yang bersangkutan seumur hidup,” sambungnya.

Di sisi lain, Polri menyatakan sedang meminta izin untuk memeriksa Vigit ke Ditjen Pemasyarakatan. Namun sayang, hingga saat ini Ditjen Pemasyarakatan belum menerima permintaan untuk memeriksa Vigit.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, pemeriksaan Vigit masih proses ke lapas. Tim telah dikirim beberapa hari lalu, tapi Vigit memang belum bisa diperiksa. ”Sempat ada hambatan, tapi saat ini minta waktu dan tempat,” paparnya.

Kasus yang menjerat VW, lanjut Dedi, saat ini masih masuk tahap penyelidikan. Berbeda halnya dengan kasus Dwi Irianto alias Mbah Putih yang telah sampai penyidikan. ”Saat ini VW masih terlapor,” ujar mantan Karo SDM Polda Kalteng tersebut.

Namun, mengingat pendalaman yang telah dilakukan, sangat mungkin status kasus VW naik dari penyelidikan ke penyidikan. ”Tapi menunggu pengumpulan bukti untuk peningkatan status ini,” jelasnya.

Hingga saat ini belum jelas Vigit diduga terlibat dalam match fixing dalam pertandingan yang mana. Dedi menjelaskan, yang pasti ada juga hubungan dengan Mbah Putih. ”Detailnya belum,” ucap mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu.

Berkaitan dengan pemeriksaan VW oleh Satgas Antimafia Bola, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Ditjenpas Kemenkum ham) menyampaikan bahwa pihaknya belum menerima permintaan pemeriksaan tersebut. Saat ini VW berstatus narapidana di Lapas Sidoarjo.

”Untuk peminjaman (bon) narapidana ke Ditjenpas atas nama yang bersangkutan belum ada sampai saat ini (kemarin),” terang Kasubbag Publikasi Humas Ditjenpas Kemenkum ham Rika Aprianti kepada Jawa Pos.

Rika juga menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pihak berwenang di Lapas Sidoarjo. ”Belum pernah ada konfirmasi apa pun untuk melakukan pemeriksaan (VW) dari tim satgas,” ucapnya.

Menurut Rika, pemeriksaan tanpa peminjaman napi bisa dilakukan di lapas. Mekanismenya, bisa difasilitasi langsung oleh pihak lapas. ”Tapi, sampai saat ini belum ada konfirmasi dan permintaan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan,” tambah dia.

Sementara itu, belum selesai kasus yang menyeret beberapa oknum pejabat teras PSSI melalui laporan dari mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryanti, kasus baru kembali muncul ke permukaan. Kasus yang baru itu kembali menyeret nama salah seorang petinggi PSSI.

Kemarin Satgas Antimafia Bola kedatangan mantan Manajer Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fattah. Imron melaporkan nama petinggi PSSI berinisial IB dalam kasus penipuan dan pemerasan sejumlah uang pada 2009. Tepatnya pada Piala Soeratin yang diselenggarakan November 2009.

Saat itu Imron yang jadi manajer ditawari timnya jadi tuan rumah babak delapan besar. Syaratnya harus menyetor uang Rp140 juta. ”Ya, dia telepon harus menyetor uang kalau mau jadi tuan rumah. Saya lalu disuruh telepon ke H,” ungkapnya.

Ingin mencari solusi, Imron lantas menelepon H. Tapi, apa yang didapat? H justru setuju dengan IB, yakni agar Imron menyetor sejumlah uang tersebut supaya mulus jadi tuan rumah. ”H menyarankan saya begitu, menyetor kekurangan kepada IB,” ucapnya.

Uang setoran itu memang berbuah manis. Perseba memang jadi tuan rumah dengan menggunakan Stadion Gelora Delta, Sidoarjo. Bahkan, Perseba jadi juara Piala Soeratin 2009 saat itu.

Imron mengaku baru tahu bahwa menjadi tuan rumah itu tidak perlu membayar akhir-akhir ini. Karena itulah, dia merasa ditipu IB ataupun H. ”Kebetulan juga sudah ada Satgas Antimafia Bola, saya akhirnya melapor,” terangnya.

Kehadiran Satgas Antimafia Bola, kata Imron, sangatlah bagus. Bagi dia, satgas itu adalah oase yang sangat dinanti pelaku sepak bola Indonesia yang selama ini diperas para oknum jahat PSSI. ”Selama ini seakan tidak ada harapan untuk memperbaiki sepak bola negeri ini. Jadi, adanya satgas ini bagus. Demi sepak bola yang lebih baik,” harapnya.

Terpisah, Kepala Staf Ketua Umum PSSI Iwan Budianto yang diduga inisial namanya disebut Imron ketika dikonfirmasi koran ini menampik isu yang dialamatkan kepadanya itu. ”Kejadian yang disampaikan itu sudah terlalu lama. Pasti bukanlah hal yang mudah bagi saya untuk mengingatnya,” sebut dia. Iwan mengaku tidak ingat dengan Imron yang melaporkan dirinya kepada Satgas Antimafia Bola.

Sepak terjang Iwan Budianto cukup panjang di jagat sepak bola nasional. Iwan pernah menjadi manajer dua tim asal Jawa Timur, Arema Malang dan Persik Kediri. Bersama dua tim tersebut, Iwan mempersembahkan sejumlah gelar.

Salah satu yang fenomenal adalah membawa Persik dua kali juara Ligina, yakni pada 2003 dan 2006. Selain itu, Iwan sempat berada di balik layar Persisam Samarinda pada 2009.

Tak cukup sampai di situ, di level nasional, Iwan merupakan sosok asisten manajer timnas Indonesia yang menembus babak final AFF Cup 2010. Sayang, saat itu Indonesia harus merelakan gelar juara direbut Malaysia.

Dia juga sempat terlibat di kompetisi amatir tanah air dengan menjabat ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI). Pada 2017, dengan pengalamannya, dia juga sempat ditahbiskan sebagai CEO PT Liga Indonesia Baru sebagai operator baru Liga 1. (rid/nap/idr/syn/c9/ali/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Ganti Rugi Rp. 18 Triliun, Masuk Rp. 32 Miliar

Ganti Rugi Rp. 18 Triliun, Masuk Rp. 32 Miliar

Dalam debat calon presiden kemarin malam (17/2), Calon Presiden nomor urut 01 Jokowi menyebut bahwa penegakan hukum terhadap perusaan perusak lingkungan hidup.


Minta Penganiaya Ditangkap, Pegawai KPK Bikin Pagar Hidup

Minta Penganiaya Ditangkap, Pegawai KPK Bikin Pagar Hidup

Ratusan pegawai komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berduyun-duyun keluar gedung kemarin.


Wabup Trenggalek ”Menghilang”, Bisa Disanksi Pemberhentian Sementara

Wabup Trenggalek ”Menghilang”, Bisa Disanksi Pemberhentian Sementara

Wakil Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin alias Ipin kini menjadi sorotan.


TNI-Polri Kejar KKSB Hidup atau Mati

TNI-Polri Kejar KKSB Hidup atau Mati

Evakuasi 16 jenazah korban aksi Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) dari Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua selesai.


Tumpahan Minyak Mulai Cemari Tanah

Tumpahan Minyak Mulai Cemari Tanah

Selain mencemari perairan, tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan kontaminasi minyak mentah (crude oil) dari pipa pertamina.


Ternyata Rita Gemar Koleksi Logam Mulia

Ternyata Rita Gemar Koleksi Logam Mulia

Gaya hidup Bupati (nonaktif) Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari menjadi perhatian penyidik KPK.


KY Usul 58 Hakim Disanksi

KY Usul 58 Hakim Disanksi

Komisi Yudisial (KY) mengusulkan agar Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan sanksi terhadap 58 hakim.


Satu Kontainer Limbah dan 32 Truk Angkut Tanah yang Terkontaminasi

Satu Kontainer Limbah dan 32 Truk Angkut Tanah yang Terkontaminasi

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerjunkan tim untuk menangani timbunan limbah diantara tumpukan sampah liar di desa Panguragan Wetan, Kabupaten Cir


Drama 44 Menit Pelarian Pembelot Korut ke Korsel

Drama 44 Menit Pelarian Pembelot Korut ke Korsel

Senin (13/11) merupakan pertaruhan hidup dan mati bagi Oh, tentara Korea Utara (Korut) yang membelot ke Korsel.


Penggunaan Merkuri Akan Dibatasi

Penggunaan Merkuri Akan Dibatasi

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan segera membatasi penggunaan logam berat (merkuri) dalam berbagai fasilitas industri.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!