Sepakbola
Share this on:

Alasan Tunggu FIFA. Makin Gelap

  • Alasan Tunggu FIFA. Makin Gelap
  • Alasan Tunggu FIFA. Makin Gelap

JAKARTA - Jika melihat statuta FIFA, agenda Kongres Luar Biasa yang akan dijalankan oleh PSSI tampaknya bisa langsung jalan secepatnya. Tidak perlu harus lapor terlebih dulu kepada federasi sepak bola nasional itu. seperti yang selama ini jadi alasan PSSI.

Hal tersebut memang diakui oleh Anggota Exco PSSI Gusti Randa. Pria yang juga saat ini mengemban amanah menjalankan tugas harian ketua umum PSSI itu menuturkan tidak ada kewajiban mutlak PSSI untuk lapor FIFA dulu dalam melakukan KLB. Bisa langsung saja tanpa perlu diketahui oleh FIFA.

Lantas kenapa permintaan rekomendasi ke FIFA jadi alasan PSSI untuk memperlama KLB selama ini? Gusti menuturkan PSSI dianggap FIFA adalah anak yang nakal. Anak yang selama ini paling sering menggelar KLB dibandingkan member FIFA lainnya.

"Kami nakal lagi sekarang, FIFA bahkan pernah mengeluarkan statement capek dengan urusan KLB di PSSI. benar ini ranah kami sendiri tidak perlu lapor FIFA," terangnya kemarin (7/4).

Karena dicap anak nakal, PSSI punya hak untuk meminta rekomendasi. Meminta apa yang sebaiknya dilakukan agar ke depannya tidak ada KLB lagi di PSSI. Tidak ada perseteruan lagi yang menyebabkan pengurus bisa berganti dengan mudah. "Sudah ada surat yang kami kirim ke FIFA untuk menanyakan. Kami saat ini menunggu direct letter-nya, sudah dua minggu lalu dikirim," terangnya.

Rekomendasi itu dijelaskan Gusti bukan sekedar meminta saran bagaimana KLB yang baik seharusnya. Melainkan juga terkait Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Anggota Exco yang terpilih itu bagaimana nantinya. Sebab, masa jabatan untuk kepengurusan yang baru jika melihat statuta hanya satu tahun saja. artinya, tahun depan, akan berganti kepengurusan lagi.

"Apakah KLB ini mencari Ketua Umum dan exco yang kosong? Durasi sampai kapan? Apakah sampai kepemimpinan Edy Rahmayadi atau semua diganti dengan durasinya empat tahun ke depan. Jangan tebak-tebakan masalah ini, karena itu kami meminta rekomendasi," tegasnya.

Pria yang juga berprofesi sebagai pengacara itu menuturkan KLB kemungkinan besar diselenggarakan pada Agustus mendatang. Penenuan waktu itu juga tidak sesuai denga statuta PSSI sendir, Gusti mengakui itu. Sebab, jika melihat statuta, setidaknya KLB digelar tiga bulan setelahnya. Artinya, jika diusulkan pada 20 Februari, paling lambar KLB harusnya dilaksanakan pada 20 Mei.

Dia ingin menjelaskan duduk perkaranya terlebih dahulu kenapa muncul Agustus sebagai waktu yang tepat adanya KLB. Gusti menerangkan adanya Pemilihan Presiden pada 17 April mendatang jadi salah satu faktor yang ikut membuat KLB PSSI mundur. Selain itu, keterbatasan dana alias kas PSSI yang kosong jadi hal terpenting lain kenapa KLB dilaksanakan Agustus.

Gusti mengungkapkan keterbatasan dana itulah yang membuat pembentukan Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan baru bisa dibentuk paling lambat awal Mei mendatang. Usai pembentukan, Komite pemilihan juga butuh waktu untuk membuka pendaftaran. Paling tidak dua pekan setelah dibuka.

"Setelah pendaftaran, yang kami sebut notifikasi harus verifikasi. Dilihat berhak atau tidaknya. Dua minggu dikasih, sudah paling cepat. Sekitar Juni, artinya delapan minggu setelahnya baru oke KLB, artinya Agustus. Repot kalau ada yang mau cepat-cepat," katanya.

Dia berharap masyarakat agar tenang. Pihaknya sedang mempersiapkan KLB dengan baik agar nantinya kepengurusan yang baru benar-benar bisa memberikan perubahan di kubu PSSI. "Ikuti tahapannya, nanti kepengurusan yang baru jangan digoyang lagi. Ya semoga," harapnya.

PSSI saat ini dalam posisi tejepit. PSSI berutang miliaran rupiah untuk mengikutkan tim nasional U-22 Indonesia ke Piala AFF U-22 2019 yang berlangsung di Kamboja bulan Februari lalu. "Mengutang itu saya kira bukan hal yang tabu. Kalau besarannya kurang lebih miliaran rupiah, sekitar Rp4,5 miliar-lah," ujar Gusti.

Menurut dia, ada pihak yang diutangi PSSI agar timnas bisa terlibat di Piala AFF U-22 tersebut. Gusti menyebutnya sebagai Hamba Allah. Hamba Allah inilah yang mengeluarkan uang hingga timnas U-22 bisa berlaga di Kamboja dan pada akhirnya menjadi juara di turnamen tersebut setelah menaklukkan Thailand di partai final."Hamba Allah memberikan talangan dana. Bahasa resmi talangan itu, ya, kami berutang," kata Gusti.

Fakta ini menunjukkan bahwa pada tahun 2019, PSSI sudah dua kali kekurangan anggaran untuk memberangkatkan timnas ke turnamen internasional. Selain timnas U-22, PSSI juga tidak memiliki uang yang cukup untuk memberangkatkan timnas U-15 putri ke Piala AFF Putri U-15 2019 yang berlangsung 9-21 Mei 2019 di Thailand.

Bedanya, jika timnas U-22 tetap berangkat karena kemurahan hati pihak lain, timnas U-15 harus ditarik keikutsertaannya dari turnamen AFF tersebut. Terpisah pengamat sepakbola, Supriyono berpendapat KLB menjadi penting untuk digelar agar induk organisasi sepak bola Indonesia tersebut tidak terlalu lama berjalan tanpa pemimpin.

"Apalagi masyarakat menanti terobosan untuk sepak bola Indonesia lebih maju di lima sampai 10 tahun mendatang. Ketua Umum PSSI berikutnya harus punya integritas, punya wawasan, tahu sepak bola dan punya duit. Karena tanpa duit, repot," kata Supriyono.

Supriyono tak bisa memberikan gambaran seberapa besar uang yang diperlukan untuk seseorang menjadi Ketum PSSI. Yang jelas, ia menilai sulit bagi mantan pemain nasional untuk menjadi orang nomor satu di sepak bola Indonesia. "Belum berani (mantan pemain nasional jadi Ketua Umum PSSI, red). Terutama ya tadi. Ya duit. Perlu duit yang tebal untuk pimpin sebuah organisasi di Indonesia," ucap mantan pemain Timnas Indonesia era Primavera tersebut.

"Selain itu, perlu relasi yang kuat untuk bisa mendapatkan duit agar bisa memutar sebuah kompetisi yang berjenjang dan berkesinambungan," ucapnya menambahkan.

Kali terakhir pucuk kekuasaan PSSI dipimpin mantan pemain nasional di era Djohar Arifin Husin pada 2011-2015. Semasa bermain Djohar pernah memperkuat PSL Langkat dan PSMS Medan.

Akan tetapi banyak kontroversi yang terjadi di kepemimpinan Djohar yang menggantikan Nurdin Halid itu. Mulai dari mengubah nama kompetisi menjadi Liga Primer Indonesia, hingga liga itu yang tidak berakhir dengan tuntas. Selain itu muncul juga dualisme kepengurusan induk sepak bola, versi Djohar dan La Nyalla Mattalitti.

Lebih lanjut, Supriyono juga memberikan pandangan mengenai nama-nama yang beredar untuk menjadi Ketua Umum PSSI sebagai pengganti Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi sebagai Ketua seperti Brigjen Pol Krishna Murti, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan, dan Komjen Pol (Purnawirawan) Budi Waseso.

"Dari sisi ketegasan, beliau-beliau pantas. Tapi apakah link dan relasi mumpuni juga? Sudah saja ambil Erick Thohir [Ketua Komite Olimpiade Indonesia] tapi dia harus keluar dari organisasi yang lain," ujar Supriyono. (ngi/dbs/ful/zul/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

The Blues Muda Makin Trengginas

The Blues Muda Makin Trengginas

Usia Tammy Abraham baru 21 tahun 347 hari saatt menciptakan hattrick ke gawang Wolverhampton Wanderers di Stadion Molineux, Sabtu (14/9) sore.


Belum Move On, Alasan Sanchez Tinggalkan Manchester United

Belum Move On, Alasan Sanchez Tinggalkan Manchester United

Alexis Sanchez sudah resmi bergabung dengan klub raksasa Serie A Italia, Inter Milan.


Indonesia Mulai Siapkan Lima Stadion untuk Piala Dunia U-20

Indonesia Mulai Siapkan Lima Stadion untuk Piala Dunia U-20

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) meyakini Indonesia akan terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 FIFA 2021 mendatang.


Sanksi Manchester City Lebih Ringan Ketimbang Chelsea

Sanksi Manchester City Lebih Ringan Ketimbang Chelsea

Manchester City akhirnya membayar denda 370 ribu franc Swiss sekitar Rp5,3 miliar, setelah FIFA memberi sanksi atas pelanggaran kontrak anak di bawah umur.


Fans Arsenal Tak Sabar Tunggu Debut Nicolas Pepe

Fans Arsenal Tak Sabar Tunggu Debut Nicolas Pepe

Belum ada nama Nicolas Pepe dalam pertandingan pra musim yang dijalani Arsenal.


Bale Tolak Gaji Rp21 Miliar dari Klub Tiongkok

Bale Tolak Gaji Rp21 Miliar dari Klub Tiongkok

Masa depan Gareth Bale di Real Madrid makin tak menentu. Dia bukan pilihan Zinedine Zidane.


Indonesia Buta Kekuatan Vanuatu

Indonesia Buta Kekuatan Vanuatu

Timnas Indonesia bakal melakoni laga persahabatan FIFA A Match menghadapi timnas Vanuatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu (15/6) malam ini.


Siap Akhiri Tren Negatif

Siap Akhiri Tren Negatif

Tim Nasional (Timnas) Indonesia bakal melakoni laga uji coba Internasional (FIFA Matchday) menghadapi Timnas Yordania, Selasa (11/6) malam ini.


Juventus Gagal? Tunggu Dulu...

Juventus Gagal? Tunggu Dulu...

Winger Juventus Juan Cuadrado menegaskan, si Nyonya Tua tidak layak untuk dicap sebagai tim gagal hanya gara-gara gagal memenangi Liga Champions musim ini.


Nasib Bale Makin Tak Menentu

Nasib Bale Makin Tak Menentu

Real Madrid tidak punya niatan untuk memperpanjang kontrak mereka dengan Gareth Bale.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!