Sepakbola
Share this on:

Kuda Hitam yang Dirindukan

  • Kuda Hitam yang Dirindukan
  • Kuda Hitam yang Dirindukan

PIRAEUS - Davor Suker belum pernah mendapati Kroasia seperti pada eranya dulu. Melaju ke Piala Dunia hanya dari jalur playoff, generasi emas Kroasia bersama Suker jadi kuda hitam saat mampu melaju sampai ke semifinal, sebelum terhenti di posisi ketiga setelah dikalahkan Prancis yang di akhir turnamen jadi juaranya.

Capaian kuda hitam terbaik yang cuma bisa diikuti Turki ketika Piala Dunia 2002, finish di posisi ketiga. Sejak menggunakan sistem playoff pada edisi 1998, sampai sekarang ini belum ada negara yang lolos dengan tiket playoff berhasil manyamai, atau melebihi Kroasia dan Turki. Bahkan Kroasia, negara Suker sendiri.

Senin dini hari kemarin WIB (13/11) untuk yang ketiga kalinya Vatreni lolos Piala Dunia bermodalkan tiket playoff. Di Karaiskakis Stadium, Piraeus, Luka Modric dkk meredam ambisi revans Yunani dengan bermain imbang tanpa gol saat leg kedua playoff Kualifikasi Piala Dunia. Kemenangan 4-1 di Zagreb jadi kuncinya.

Jika Suker, Zvonimir Boban, Robert Prosinecki, Slaven Bilic, dan Dario Simic berada di balik kejutan Kroasia dua dekade silam, maka kali ini ada Modric, Ivan Rakitic, ataupun Mario Mandzukic di belakang generasi usia emas Kroasia sekarang.

''Mereka belum ada apa-apanya,'' sebut Suker ketika diwawancarai media Yunani Kingsport di Karaiskakis.

Ya, itulah tantangan Suker untuk Kroasia. Karena faktanya, setelah kejutan Kroasia pada era Suker itu tak sekalipun mereka bisa mengulanginya dalam tiga turnamen mayor setelahnya. Di Piala Dunia, tiga tahun lalu Kroasia hanya terhenti di peringkat ketiga fase grup. Begitu pun di Euro.

Dua kali Kroasia lolos Euro lewat jalur playoff. Sama seperti nasibnya di Piala Dunia, di Euro pun asa Kroasia masih saja terbatas di fase grup. Entah saat edisi 2004 atau 2012, capaian Kroasia selalu berakhir di peringkat ketiga fase grup. Beda cerita jika mereka lolos dengan tiket lolos langsung.

''Karena atmosfer di Piala Dunia selalu berbeda,'' sebut Presiden Federasi Sepak Bola Kroasia (HNS) itu.

Nah tantangan Suker itulah yang siap dijawab pelatih Kroasia Zlatko Dalic. ''Tak penting bagi kami siapa lawan di playoff ini, karena kami selalu tekankan bahwa melawan tim manapun kami harus memenanginya. Begitu juga di Rusia nanti,'' ungkap Dalic, dikutip Reuters. Apalagi Kroasia punya potensi masuk di pot kedua. Bukan pot keempat seperti pada Piala Dunia 2014.

Artinya, Kroasia minimal masih boleh berharap mampu lepas dari kutukan fase grupnya. ''Kami ini tim bagus dengan pemain-pemain hebat, dan kegagalan di Piala Dunia bukanlah opsi kami,'' sebut Dalic. Bukan hanya Kroasia yang lebih dari satu kali lolos Piala Dunia lewat jalur playoff.

Begitu pula dengan Swiss. Tahun ini, La Nati berhasil merasakan Piala Dunia ke-11-nya dengan melalui jalur playoff. Sama seperti Kroasia, pada leg kedua playoff ini Swiss cuma bisa bermain imbang saat menjamu Irlandia Utara di St Jakob-Park, Basel. Swiss pernah melangkah ke Piala Dunia dengan tiket playoff pada edisi 2006.

Bedanya, Swiss tidak sial ketika lolos dengan jalur playoff. Mereka masih mampu tampil sebagai kuda hitam. Di Jerman 2006, Swiss lolos sampai 16 Besar sebagai juara grup meskipun segrup dengan Prancis dan Korsel yang pada era itu punya reputasi bagus di Piala Dunia. Bagai deja vu, itu juga berulang di Brasil meski mereka berada di bawah Prancis.

Dikutip 20Minuten, pelatih Swiss Vladimir Petkovic mengklaim timnya akan kembali ke Piala Dunia untuk menggoyang negara-negara langganan fase knockout. Terutama negara yang mewakili Eropa seperti Jerman, Prancis, Portugal, Spanyol atau Italia.

''Karena kami kini sudah bukan negara kecil lagi,'' koar Petkovic yang baru kali ini bakal merasakan atmosfer persaingan di Piala Dunia itu. Catat, 16 Besar jadi capaian terbaik Swiss di Piala Dunia. Bisakah kebiasaan itu diakhiri di Rusia? (ren/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

PSMS Melaju, Persis Tersingkir
PSMS Melaju, Persis Tersingkir

Berita Sejenis

Misi Antara Dua Messi

Misi Antara Dua Messi

Lionel Messi punya banyak “kembaran”. Ya, banyak pemain yang mendapat julukan “Messi” di negaranya masing-masing.


Bek Kelima yang Raih Penghargaan

Bek Kelima yang Raih Penghargaan

Pengakuan yang terbaik untuk Virgil van Dijk akhirnya datang juga.


Lebih Solid, Lebih Pede

Lebih Solid, Lebih Pede

Tottenham Hotspur dan Mauricio Pochettino memiliki makna yang spesial buat Juergen Klopp.


Belum Ada yang Sesukses Eriksson

Belum Ada yang Sesukses Eriksson

Langkah Freddie Ljungberg sebagai pelatih Arsenal U-23 menghidupkan lagi asa Swedia punya pelatih dengan rekam jejak jempolan.


Nomor 10 Hanya buat Messi

Nomor 10 Hanya buat Messi

Selama Lionel Messi belum memutuskan pensiun, maka tidak akan ada pemain timnas Argentina yang mengenakan nomor 10.


Habisi Dominasi Wakil Bianconeri

Habisi Dominasi Wakil Bianconeri

Sebelum Gianluigi Buffon pensiun, minimal satu penggawa Juventus yang dimainkan pada laga-laga timnas Italia.


Seedorf Puas Meski Seri

Seedorf Puas Meski Seri

Ketika menjadi pemain Clarence Seedorf mungkin salah satu pemain dengan gelar yang komplit.


Pendapatan Terbesar dalam 18 Tahun

Pendapatan Terbesar dalam 18 Tahun

Real Madrid bak mendapat dua keuntungan musim ini. Yang pertama adalah tim tetap stabil meski sudah tidak lagi diperkuat Cristiano Ronaldo.


Kepa Juga Layak Dicoba

Kepa Juga Layak Dicoba

De Gea, Kepa, atau Dua-Duanya. Ya, begitu judul yang dituliskan OK Diario dalam ulasan tentang siapa pengisi posisi portero timnas Spanyol-nya Luis Enrique.


Disiplin Baru ala Lucho

Disiplin Baru ala Lucho

Beda pelatih maka beda kebijakan. Luis Enrique yang menjadi entrenador timnas Spanyol mengintensifkan disiplin buat Sergio Ramos dkk.



Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!