Sport
Share this on:

2018, Ducati Bakal Secepat Rivalnya

  • 2018, Ducati Bakal Secepat Rivalnya
  • 2018, Ducati Bakal Secepat Rivalnya

BOLOGNA - Butuh pengorbanan sangat besar bagi Ducati untuk bisa membangun motor kompetitif yang mampu menandingi Honda musim lalu. Saat pengembangan motor di jedah musim dingin sekarang ini skuat Bologna sudah sampai pada fase krusial, yakni memperbaiki performa Desmosedici agar mampu berakselerasi lebih mudah di tengah tikungan alias mid corner.

Bukan perkara instan untuk membangun motor sehebat Desmosedici GP17. Apalagi setelah Ducati kehilangan si jenius Casey Stoner yang hengkang ke Honda pada 2010. Banyak elemen unik, khas Ducati harus dikorbankan demi menjinakkan Desmosedici yang terkenal liar.

Pertama mengganti sistem pengapian dari screamer menjadi big bang. Itu dilakukan ketika Valentino Rossi datang pada musim 2011, setelah hengkang dari Yamaha.

Perubahan ini menjadikan mesin Ducati yang liar dan meledak-ledak, lebih halus. Kedua, chassis dengan bahan karbon fiber juga dibuat sesaat sebelum Rossi memutuskan menyerah dengan Ducati dan pulang ke Yamaha pada 2012.

Setelah Gigi Dall'Igna bergabung dengan Ducati pada 2014, perputaran arah crankshaft juga diubah. Tujuannya untuk memperbaiki steering supaya lebih mudah diajak menikung.

Setelah serangkaian evolusi tersebut dilakukan, tibalah saat Ducati berada pada tahap krusial, di mana mereka harus memperbaiki perfroma Desmosedici di mid corner menjadi lebih mirip dengan Honda atau Yamaha. Bukan berarti Ducati meng-copy paste apa yang dilakukan pabrikan lain.

Namun semuanya memang tidak bisa lepas dari pengaruh ban. Dengan datangnya Michelin menggantikan Bridgestone pada 2016, mau tidak mau semua motor harus beradaptasi. Alhasil, sifat motor MotoGP saat ini menjadi lebih homogen karena harus menyesuaikan dengan karakter Michelin.

Semakin sedikit perbedaan Ducati dengan motor rival, semakin kompetitif pula mereka. Inilah yang membuat Dall'Igna merasa perlu mendatangkan Jorge Lorenzo untuk mendukung pengembangan motor.

Dia mengharapkan, mantan mitranya di Aprilia itu membawa teknologi Yamaha untuk dicangkokkan ke Ducati agar motor lebih mudah dikendarai siapapun. Ingat, Lorenzo sudah delapan musim bersama Yamaha dan tidak pernah membalap dengan motor lain sejak naik ke kelas MotoGP.

"Basis motor ini (Ducati) sudah sangat kuat. Saat ini kami bekerja membangun motor seperti yang diinginkan Jorge, " ungkap Kepala Mekanik Lorenzo Christian Gabbarini. Sebelum ini, Gabbarini sudah pernah bekerja di Ducati sebagai kepala mekanik Casey Stoner.

Dengan fokus pengembangan tersebut, Gabbarini yakin motor 2018 akan semakin pas dengan gaya balap Lorenzo."Komentar dan masukan dia (Lorenzo) sama dengan pendapat rider Ducati lainnya, " tambah Gabbarini.

Namun jika melihat pengembangan motor pasca kedatangan Lorenzo di Ducati justru Dovizioso yang langsung tampil menonjol. Menang enam kali sepanjang 2017. Bandingkan dengan Lorenzo yang belum merasakan kampiun.

Tentu yang pertama lantaran Dovi sudah lima tahun bersama Ducati. Setiap evolusi dikenalnya dengan baik. Sedangkan kedatangan Lorenzo, mengonfirmasi sebagian besar keluhan Dovi sebelumnya.

Selain itu, meski gaya balap Dovi dan Lorenzo berbeda, tapi perbedaannya tidak seperti bumi dan langit. Meski demikian, Ducati tidak keberatan mengembangkan motor dengan menyesuaikan dengan dua rider sekaligus.

''Tentu, membutuhkan upaya lebih dari pabrikan. Tapi hal positifnya adalah kami bisa belajar lebih banyak karena kami mendapatkan banyak hal positif dari dua pembalap sekaligus,'' lanjut Gabbarini.

Dalam perkembangannya, ternyata ketika masukan dari Jorge Lorenzo dituruti oleh pabrikan, dampak positifnya langsung dirasakan oleh pembalap lainnya. ''Memang ada risiko kami kehilangan arah saat mengembangkan motor dengan dua arah sekaligus. Tapi Gigi (Dall'Igna) sangat cerdas dalam memahami sesuatu dan kemudian memutuskan “ya” atau “tidak”,'' paparnya.

Dovizioso sendiri setelah melakukan uji coba post season di Valencia menyatakan tidak menuntut banyak dari motor Ducati 2018 nanti. ''Asal bisa berbelok sedikit lebih baik saja sudah cukup,'' yakinnya. (cak/jpg)


Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

PGN Popsivo Polwan Optimis Juara

PGN Popsivo Polwan Optimis Juara

PGN Popsivo Polwan melakukan seremoni peluncuran tim voli putri Proliga 2018 di Kantor Pusat PT. Perusahaan Gas Negara kemarin.


Livery Pertama Ducati Menakjubkan

Livery Pertama Ducati Menakjubkan

Ducati menjadi kontestan MotoGP pertama yang melakukan launching terkait proyek livery 2018.


Maret Bakal Penuh Darah

Maret Bakal Penuh Darah

Maret 2018 akan menjadi bulan yang penuh darah. Pasalnya, bakal ada dua pertarungan sangat penting untuk tinju kelas berat dunia di bulan tersebut.


Sainz Kudeta Peterhansel

Sainz Kudeta Peterhansel

Bintang Peugeot Carlos Sainz berhasil mengambil alih puncak klasemen umum Reli Dakar 2018.


Jakarta BNI Taplus Optimis Kawinkan Gelar Proliga

Jakarta BNI Taplus Optimis Kawinkan Gelar Proliga

Jakarta BNI Taplus melakukan seremoni peluncuran tim voli putra dan putri Proliga 2018 di Kantor Pusat BNI 46 kemarin.


Kuncinya adalah Uji Coba di Sepang

Kuncinya adalah Uji Coba di Sepang

Musim MotoGP 2018 segera dibuka dengan uji coba resmi perdana di Sepang, Malaysia akhir bulan ini.


Isunya, KTM Siapkan Rp321 Miliar untuk Bajak Marquez

Isunya, KTM Siapkan Rp321 Miliar untuk Bajak Marquez

Satu tim yang diprediksi bakal agresif dalam memburu pembalap-pembalap top tahun ini adalah KTM.


Kerber Masih Sempurna

Kerber Masih Sempurna

Mantan ranking satu dunia asal Jerman, Angelique Kerber, masih sempurna di 2018.


Pastikan SUGBK Jadi Venue Tunggal

Pastikan SUGBK Jadi Venue Tunggal

Teka-teki mengenai venue test event cabor sepak bola Asian Games 2018 akhirnya terjawab.


Tekanan Intens Dari Al-Attiyah

Tekanan Intens Dari Al-Attiyah

Setelah menjadi yang tercepat pada etape pertama, pembalap Toyota Nasser Al-Attiyah meraih podium keduanya etape ketiga ajang Reli Dakar 2018.



Berita Hari Ini

Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!