Brigadir J Tidak Todongkan Pistolnya ke Istri Ferdy Sambo, Ketua Komnas HAM: Tak Ada Saksi yang Melihatnya

JAKARTA - Dari hasil penelusuran Komnas HAM, tidak ada saksi yang melihat Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat menodongkan senjata ke istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Pernyataan itu diungkapkan Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik.

Pernyataan itu sekaligus seolah-olah membantah keterangan Karopemmas Divhumas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan saat konferensi pers beberapa waktu lalu. Saat itu, Ramadhan menyebut Brigadir J menodongkan senjata ke istri Ferdy Sambo.

Selain itu, Ketua Komnas HAM juga mengungkapkan kronologi awal polisi tentang kasus kematian Brigadir J banyak yang tidak klop atau tidak pas. Ahmad Taufan mengungkapkan dari hasil penelusuran Komnas HAM, tidak ada saksi yang melihat Brigadir Joshua menodongkan senjata.

“Bahwa selama ini ada keterangan bahwa Yoshua sedang menodongkan senjata, dalam keterangan mereka ini nggak ada peristiwa itu. Makanya banyak sekali yang tidak klop antara keterangan yang disampaikan di awal dengan yang sesudah kami telusuri,” kata Ahmad Taufan Damanik dalam acara diskusi virtual ‘Menguak Kasus Kematian Brigadir J,” Jumat (5/8)

Selain itu, keterangan polisi soal Irjen Ferdy Sambo yang tengah menjalani tes PCR saat terjadinya peristiwa juga tidak selaras. Dari penelusuran Komnas HAM, Irjen Sambo ternyata sudah tiba di rumah sehari sebelumnya dan sedang tak melakukan tes PCR saat peristiwa itu terjadi.

“Termasuk dulu kita baca berita ketika peristiwa terjadi Pak Sambo sedang PCR di luar. Kan ternyata nggak benar begitu, Pak Sambo sudah datang duluan satu hari sebelumnya,” katanya.

“Jadi cerita ini di awal dengan kemudian berkembang atau sebelum ditelusuri itu banyak yang nggak klop,” ujarnya.

Sementara terkait statement polisi soal dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir Joshua terhadap istri Irjen Ferdy Sambo masih belum bisa diyakini. Taufan mengungkapkan tidak ada saksi yang melihat langsung dugaan pelecehan tersebut.

“Sebagai penyelidik, kami bertanya-tanya, ‘Ada apa ini’, begitu. Tentu saja kami tidak mau menuduh sembarangan, tapi kami menduga, ada yang tidak logis begitu,” katanya.

“Jadi saksi yang menyaksikan penodongan itu tidak ada, makanya kami juga belum bisa meyakini apakah terjadi pelecehan seksual atau tidak,” tuturnya.

Seperti diketahui, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan menyatakan, Brigadir Josua ditembak mati karena diduga melakukan pelecehan seksual dan menodongkan pistol kepada istri Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo.

“Yang jelas begini ya, itu benar melakukan pelecehan dan menodongkan senjata dengan pistol ke kepala istri Kadiv Propam itu benar,” ujar Brigjen Ramadhan saat dikonfirmasi, Senin (11/7).

Brigjen Ramadhan menuturkan bahwa fakta itu diketahui berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi. Dua saksi yang diperiksa di antaranya adalah Istri Kadiv Propam dan Bharada E.

“Berdasarkan keterangan dan barang bukti di lapangan bahwa Brigadir J memasuki kamar pribadi Kadiv Propam dan melecehkan istri Kadiv Propam dengan todongan senjata,” ujar Ramadhan.

Ia menuturkan, istri Kadiv Propam disebut berteriak akibat pelecehan yang diduga dilakukan Brigadir J. Teriakan permintaan tolong tersebut pun didengar oleh Bharada E yang berada di lantai atas rumah.

Menurutnya, kehadiran Bharada E inipun membuat Brigadir Joshua menjadi panik. Saat ditanya insiden itu, Brigadir J malah melepaskan tembakan kepada Bharada E yang berdiri di depan kamar.

“Pertanyaan Bharada E direspon oleh Brigjen J dengan melepaskan tembakan pertama kali ke arah Bharada E,” kata Brigjen Ramadhan saat itu. (poj/zul)

Baca Juga:

  • Ditahan di Tempat Khusus Mako Brimob Kelapa Dua, Ferdy Sambo Bisa Benar-benar Dipecat dan Dipidana.
  • Semua Polisi yang Halangi Penyidikan Tewasnya Brigadir J Bisa Dipidana, Kompolnas: Mohon Sabar.

Berita Terbaru