Disebut Melanggar Kode Etik, Irjen Ferdy Sambo Jadi Tersangka? Kadiv Humas Bilang Begini

JAKARTA - Terkait pembunuhan terhadap Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan pada Jumat, 8 Juli 2022 lalu, Irjen Ferdy Sambo disebut-sebut menjadi tersangka malam ini.

Mabes Polri bergerak cepat. Pada Sabtu, 6 Agustus 2022 hari ini, Tim Khusus telah menetapkan mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo melanggar kode etik.

Informasi yang dihimpun, Ferdy Sambo dibawa keluar dari Gedung Bareskrim sekitar pukul 17.40 WIB.

Sebelumnya, sekitar pukul 13.00 WIB, pasukan Brimob bersenjata lengkap mendatangi gedung Bareskrim Polri.

Tidak hanya pasukan. Brimob juga menyediakan kendaraan taktis.

Ferdy Sambo kabarnya akan ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok selama 20 hari ke depan.

Sebelumnya, Ferdy Sambo disebut-sebut telah diperiksa langsung oleh tim khusus yang diketuai Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono.

Terkait hal itu, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan semua pihak berharap sambil menunggu informasi terbaru dari Timsus Polri.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menerbitkan TR (Telegram) khusus pada Kamis, 4 Agustus 2022 malam.

Ada 15 perwira yang dimutasi dalam Telegram Nomor ST 1628/VIII/KEP/2022 tersebut.

Tidak hanya itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan, Inspektorat khusus (Irsus) Polri memeriksa 25 personel Polri.

Hal itu diungkapkan Kapolri kepada awak media di Mabes Polri, Kamis (04/08).

Puluhan personel Polri itu diperiksa terkait dengan ketidakprofesionalan dalam penanganan TKP dalam kasus kematian Brigadir J di rumah dinas Kadiv Propam Polri nonaktif, Irjen Pol Ferdy Sambo.

Menurut Kapolri, tim Irsus yang dipimpin oleh irwasum telah memeriksa 25 personel.

"Proses masih terus berjalan, di mana 25 personel ini diperiksa terkait dengan ketidakprofesionalan dalam penanganan TKP dan juga beberapa hal yang dianggap itu membuat olah tkp dan juga hambatan dalam hal penanganan TKP dan penyelidikan," jelasnya.

Di lain pihak, usai ditetapkan sebagai tersangka, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E membawa kabar baru. Kali ini terkait dengan pengacaranya yang tiba-tiba mundur.

Tanpa hujan, tanpa angin, pengacara Andreas Nahot Silitonga secara tiba-tiba memutuskan mengundurkan diri sebagai penasihat hukum Bharada E.

Surat pengunduran ini pun telah dikirim ke Bareskrim Polri selaku pihak yang menangani kasus Bharada E.

“Pada hari ini datang ke Bareskrim untuk menyampaikan pengunduran diri kami sebagai penasihat hukum Bharada E,” kata Andreas di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (6/8).

Andreas mengatakan, alasan pengunduran sudah dijelaskan secara gamblang di surat yang dikirim. Namun, dia menolak mengungkapnya kepada publik.

"Kami juga tidak akan membuka kepada publik pada saat ini apa sebenarnya alasan untuk mengundurkan diri karena kami sangat menghargai hak-hak hukum dari setiap pihak yang terlihat dalam perkara ini dan terlebih kami sangat menghargai proses hukum yang sedang diberlakukan Bareskrim Mabes Polri,” jelasnya.

Kendati demikian, surat dari tim penasihat hukum belum diterima oleh pihak Bareskrim Polri. Oleh karena itu, mereka akan kembali lagi pada Senin (8/8) mendatang.

Sebelumnya, Penyidik Bareskrim Polri resmi menetapkan Bharada Richard Eliezer alias Bharada E sebagai tersangka tewasnya Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Dia diketahui sebagai penembak langsung Brigadir J.

“Penyidik sudah melakukan gelar perkara dan pemeriksaan saksi sudah kita anggap cukup untuk menetapkan Bharada E sebagai tersangka,” kata Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (3/8).

Andi menuturkan, Bharada E disangkakan melanggar Pasal 338 Juncto Pasal 55 dan Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam kasus ini penyidik telah memeriksa 42 saksi termasuk beberapa saksi ahli.

Penyidik juga telah melakukan uji balistik, termasuk telah menyita sejumlah barang bukti. Seperti alat komunikasi, CCTV, dan lainnya.

“Dari hasil penyidikan tersebut pada malam ini penyidik sudah melakukan gelar perkara, dan pemeriksaan saksi juga sudah kita anggap cukup,” jelas Andi dikutip dari Jawapos.com. (ima/rtc)

Baca Juga:

  • Terus Bertambah, Polisi yang Diamankan terkait Kasus Brigadir J di Tempat Khusus Jadi 19 Orang, Terperiksanya 63 Personel.
  • Diduga Menyimpang, Inspektorat Temukan Dugaan Penyelewengan Keuangan Desa di Kecamatan Ketanggungan Brebes.

Berita Terkait

Berita Terbaru