Ditolak Masuk Singapura, Ustaz Abdul Somad Disebut Media Asing Penceramah Ekstrem Indonesia

JAKARTA - Peristiwa penolakan Ustaz Abdul Somad (UAS) oleh Imigrasi Singapura untuk masuk ke Negara Singa itu, ternyata tidak hanya heboh di Tanah Air. Tetapi juga menjadi sorotan media asing.

Sejumlah media asing menyebut UAS sebagai Extremist Indonesian Precher atau penceramah ekstrem Indonesia. Dalam foto tangkapan layar pemberitaan media asing tersebut, tampak salah satunya yakni artikel The Times of India yang dalam judul artikelnya menyebut Singapura menolak masuk penceramah ekstrem Indonesia.

“Singapore denies entry to ‘extremist’ Indonesian Preacher (Singapura tolak masuk ‘ekstrimis’ pengkhotbah Indonesia),” tulis https://timesofindia.indiatimes.com dalam judul beritanya seperti dikutip FIN, Kamis (19/5).

Judul pemberitaan serupa juga ditulis media asing lainnya. South China Morning Post https://www.scmp.com juga menulis judul: "Singapore denies entry to ‘extremist’ Indonesian preacher who sought to ‘legitimise suicide bombings’ (Singapura menyangkal masuknya pengkhotbah Indonesia 'ekstremis' yang berusaha untuk 'melegitimasi bom bunuh diri')

Media Channel News Asia https://www.channelnewsasia.com pun menurunkan tulisan yang tidak kalah bombastis.

“Indonesian preacher Abdul Somad Batubara, known for ‘Extremist’ and ‘segregationist’ teachings, denied entry into Singapore: MHA (Pengkhotbah Indonesia Abdul Somad Batubara, yang dikenal dengan ajaran ‘Ekstrimis’ dan ‘segregasi’, ditolak masuk ke Singapura: MHA,” tulis Channel News Asia

Begitu juga dengan media Strait Times https://www.straitstimes.com . Media terkenal Reuters menurunkan tulisan berjudul "Singapore denies entry to Indonesian cleric, cites extremism concerns (Singapura menolak masuknya ulama Indonesia, mengutip kekhawatiran ekstremisme).

Seperti diberitakan Ditjen Imigrasi Kemenkumham menjelaskan kabar yang menyebut Ustaz Abdul Somad (UAS) dideportasi dari Singapura.

Subkoordinator Humas Ditjen Imigrasi, Achmad Noer Saleh menuturkan, petugas dari Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Pelabuhan International Batam Center telah memeriksa kedatangan tujuh orang WNI yang ditolak masuk Singapura oleh otoritas Imigrasi Singapura pada Senin, 16 Mei 2022.

Ketujuh WNI tersebut di antaranya berinisial ASB (Abdul Somad Batubara), SN, Hn, FA, AMA, SQA, SAM.

"Diketahui salah satu dari tujuh orang tersebut adalah pemuka agama di Indonesia beserta keluarganya yang tiba pukul 18.10 WIB dari Pelabuhan Tanah Merah Singapura menggunakan Kapal Majestic Pride," kata Saleh dalam keterangannya, Selasa, 17 Mei 2022.

Ustaz Abdul Somad, kata dia, berserta keluarga diketahui berangkat menggunakan kapal MV Brilliance of Majestic pada Senin pukul 12.50 WIB menuju Singapura dari TPI Batam Center.

Setiba di sana, ICA (Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan Singapura) menolak masuk (denied entry) ketujuh orang tersebut dengan alasan tidak memenuhi syarat untuk berkunjung ke Singapura.

Tujuh orang tersebut langsung kembali ke Indonesia pada kesempatan pertama dan tiba kembali di TPI Batam Center pada pukul 18.10 WIB.

Adapun alasan dan keputusan penolakan ketujuh orang tersebut menjadi wewenang penuh dari otoritas imigrasi Singapura.

"Tidak ada masalah dalam paspor mereka bertujuh, dari Imigrasi Indonesia sudah sesuai ketentuan. Alasan kenapa otoritas imigrasi Singapura menolak mereka itu sepenuhnya kewenangan dari Singapura, yang tidak bisa kita intervensi," jelas Saleh.

Ia menjelaskan, Imigrasi Indonesia tidak menemukan adanya permasalahan dalam dokumen keimigrasian Abdul Somad dan keluarganya.

Namun, lanjutnya, penolakan masuk kepada warga negara asing (WNA) oleh otoritas imigrasi suatu negara merupakan hal yang lazim dilakukan untuk menjaga kedaulatan negara tersebut.

Sebelumnya, melalui akun media sosialnya, UAS menulis dan membenarkan dirinya telah dideportasi oleh Imigrasi Singapura. Sebelum dideportasi, UAS mengaku ditempatkan di sebuah ruangan berukuran 1x2 meter.

Sebagaimana diketahui, kedatangan UAS ke Singapura untuk liburan bersama keluarga dan sahabatnya. (fin/zul)

Baca Juga:

  • Terus Bertambah, Polisi yang Diamankan terkait Kasus Brigadir J di Tempat Khusus Jadi 19 Orang, Terperiksanya 63 Personel.
  • Diduga Menyimpang, Inspektorat Temukan Dugaan Penyelewengan Keuangan Desa di Kecamatan Ketanggungan Brebes.

Berita Terkait

Berita Terbaru