DLHPS Tinjau Pabrik Pengolahan Rajungan di Prapag Lor yang Sempat Diprotes Warga

BREBES - Menanggapi keluhan warga terkait adanya pabrik pengolahan rajungan yang diduga mencemari lingkungan di Desa Prapag Lor Kecamatan Losari, Pemkab Brebes melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) langsung menanggapi keluhan masyarakat yang ada di sekitar pabrik.

Dalam hal ini, DLHPS langsung menerjunkan petugas untuk mengecek lokasi pabrik tersebut, Selasa (19/10).

Kepala DLHPS Budhi Darmawan mengatakan, pihaknya langsung meninjau lokasi pabrik yang berada di Desa Prapag Lor tersebut. Petugas pun mengecek saluran pembuangan yang dituduhkan warga menyebabkan bau busuk. Dari hasil pengecekan itu, petugas belum menemukan adanya pelanggaran.

"Dari hasil pengecekan tadi belum ditemukan pelanggaran. Namun, jika nanti ada temuan pelanggaran nanti akan kita musyawarahkan dengan pihak desa dan kecamatan," ungkapnya.

Selain meninjau lokasi pabrik, DLHPS juga mengecek perizinan pabrik pengolahan rajungan tersebut. Menurut Budhi, pabrik tersebut tergolong home industri (industri rumahan). Pabrik itu pun diketahui sudah memiliki dokumen perizinan, yaitu melalui perizinan online atau Online Single Submission (OSS).

"Izinnya sudah ada, lewat OSS. Yang jelas nanti kita akan tindak lanjuti permasalahan ini dengan musyawarah dari berbagai pihak," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, puluhan warga Desa Prapag Lor Kecamatan Losari mendatangi balai desa setempat, Jumat (15/10). Kedatangan mereka tidak lain untuk menyampaikan keluhan terkait keberadaan pabrik rajungan yang diduga telah mencemari lingkungan di wilayah dekat balai desa.

Sejumlah warga yang menolak keberadaan pabrik pengelolaan rajungan tiba di balai desa setempat untuk melakukan audiensi sekitar pukul 09.30 WIB. Kedatangan mereka diterima langsung oleh Kepala Desa (Kades) Prapag Lor Facrudin Ades Raka.

Dalam audiensi tersebut, tokoh masyarakat setempat Bambang menyampaikan, sejumlah masyarakat yang ada di sekitar pabrik pengolahan rajungan mengeluhkan adanya limbah yang diduga dari pabrik tersebut.

Apalagi, sampai saat ini warga sekitar belum pernah mendapatkan sosialisasi dari pihak pabrik ataupun dari pemerintah desa.

"Setelah beberapa minggu ini kita baru merasakan keberatan. Jadi kita harapkan permasalahan ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan jangan sampai ada konflik saling membenci antarsesama. Harapannya diselesaikan dengan hati yang legowo," ujarnya.

Ditemui usai pertemuan, perwakilan warga yang menolak keberadaan pabrik pengelolaan rajungan, Carsini (50) menolak adanya pabrik pengolahan rajungan tersebut. Pasalnya, sejak adanya pabrik tersebut, dirinya merasa terganggu.

"Gak sukalah, saya minta ditutup. Bau banget, sampai saat mau makan saya pergi ke rumah saudara," ujarnya.

Diakuinya, setiap hari dirinya mencium bau yang menyengat yang diduga bersumber dari pabrik pengolahan rajungan tersebut.

"Gak ada solusi-solusi, saya minta (pabrik) ditutup," ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, Rizki Almunio. Diakuinya, dirinya merasa terganggu dengan adanya pabrik pengolahan rajungan di dekat rumahnya. Pasalnya, bau yang menyengat yang diduga disebabkan oleh pabrik rajungan tersebut membuat orang di rumahnya terganggu.

"Terlebih di rumah saya ada orang tua yang ada gejala sakit. Jadi, kita harapkan bisa segera ditutup," tuturnya.

Sementara itu, kuasa hukum dari pemilik gudang, Adi Gunawan mengatakan, sebagai warga negara yang baik, pihaknya telah memberikan solusi-solusi kepada masyarakat yang terdampak. Kalau yang dipermasalahkan terkait limbah, kata dia, pihaknya mengajak masyarakat untuk ke Dinas Lingkungan Hidup (LH) untuk mengecek limbah yang ada di sekitar pabrik.

"Kalau untuk perizinan insya Allah lengkap. Tapi, jika dari LH kalau kita (pabrik pengolahan rajungan) diminta untuk tutup insya Allah kita siap (menutup)," ujarnya.

"Tetapi jika sebaliknya dari LH memberikan hasil limbah tidak berbahaya dan memberikan solusi penanganan limbah ini harus sama-sama legowo. Prinsipnya dari kami, apapun yang dikeluarkan dari Dinas Ligkungan Hidup akan kita jalankan," lanjutnya.

Diakuinya, adanya pabrik pengolahan rajungan ini diharapkan bisa berdampingan masyarakat setempat. Apalagi, kata dia, ada beberapa pekerja yang diambil dari warga setempat.

"Secepatnya, dalam waktu dekat ini kita minta dijembatani oleh pihak desa dan perwakilan masyarakat bersama-sama ke Lingkungan Hidup untuk mendapatkan solusi yang terbaik. Sehingga tidak ada yang dirugikan," terangnya.

Sementara itu, Kades Prapag Lor Facrudin Ades Raka mengatakan, dalam hal ini, pemdes akan menjembatani apa yang menjadi keluhan masyarakat. Dengan harapan, permasalahan ini bisa segera terselesaikan.

"Tentu dari pemerintah desa akan menjembatani agar permasalahan ini segera selesai. Sehingga, tidak ada lagi warga atau pihak lain yang dirugikan," singkatnya. (ded/ima)

Baca Juga:

  • Kota Tegal Sebentar Lagi Akan Punya Floating Market seperti Bandung di Kali Siwatu.
  • Bubarkan Paksa Massa, Aksi 212 Teriakkan Brimob Zalim!.

Berita Terkait

Berita Terbaru