Edi Hasibuan Soroti Irjen Ferdy Sambo yang Diperiksa dengan PDH Lengkap dan Singgung Intervensi

JAKARTA - Kepala nonaktif Divisi Propam Polri Irjen Ferdy Sambo memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik Bareskrim Polri pada Kamis (4/8) hari ini.

Ferdy Sambo tampak mengenakan pakaian dinas harian (PDH) Polri ketika tiba pukul 09.56 WIB. Dia menggunakan mobil Toyota Kijang Innova berwarna hitam ke markas yang dipimpin oleh Komjen Agus Andrianto itu.

Dia diperiksa sebagai saksi kasus kematian yang menewaskan Brigadir Nofryansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Dari pantauan, eks Koorspripim Kapolri itu mengenakan PDH dengan tanda korps kesatuan Propam Polri di bahu sisi kanan dan sisi kirinya.

Tidak lupa pula, suami Putri Candrawathi itu mengenakan tanda pangkat bintang dua di kedua pundaknya.

"Saya hadir memenuhi panggilan penyidik Bareskrim Polri. Pemeriksaan hari ini adalah pemeriksaan yang keempat. Saya sudah memberikan keterangan kepada penyidik Polres Jaksel, Polda Metro Jaya, dan sekarang yang keempat di Bareskrim Polri," kata Sambo di Bareskrim Polri.

Direktur Eksekutif Lemkapi Edi Hasibuan meyakini kedatangan Irjen Ferdy Sambo menggunakan pakaian dinas harian (PDH) lengkap Polri dengan tanda pangkat jenderal bintang dua tidak akan membuat penyidik gentar.

Menurut Edi, penyidik Bareskrim akan profesional memeriksa kepala nonaktif Divisi Propam Polri itu sebagai saksi kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J itu.

"Ferdy pakai baju apa saja tetap tidak bisa mengintervensi kasus ini," kata Edi, Kamis (4/8).

Edi juga meyakini penyidik di Bareskrim Polri yang notabene pangkatnya lebih rendah tidak akan takut memeriksa suami Putri Candrawathi itu.

Menurut Edi, penyidik Bareskrim juga tidak akan tersandera dengan tanda korps kesatuan Propam Polri di ada di bahu sisi kanan dan sisi kiri Ferdy Sambo.

"Karena seluruh pemeriksaan dipantau dan dilaporkan langsung Kapolri," jelas dia.

Di sisi lain, eks Komisioner Kompolnas itu menilai tidak ada yang salah Ferdy Sambo datang dengan PDH Polri lengkap.

Sebab, Ferdy Sambo merupakan anggota polisi aktif, meski jabatannya dicabut sementara.

"Kami minta penyidik profesional dan memegang teguh asas praduga tak bersalah," tandas dia dikutip dari JPNN.com.

Sementara itu, kuasa hukum Brigadir J, Johnson Pandjaitan mengatakan penetapan tersangka Bharada E menjadi bukti Brigadir J tidak melakukan pelecehan pada Putri Candrawathi, istri Irjen Ferdy Sambo.

"Terjawab sudah bahwa tak ada pelecehan dan pengancaman. Tapi yang ada adalah pembunuhan dan tidak sendiri," katanya, Kamis (4/8).

Selain itu, pihaknya juga mengapresiasi tim khusus yang dibentuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang telah menetapkan Bharada E sebagai tersangka.

Dia menyebut, penetapan tersangka Bharada E akan menepis spekulasi-spekulasi liar yang berkembang di media sosial.

Namun dia meminta agar kasus kematian Brigadir J tetap didalami.

Sebab sebelum peristiwa baku tembak ada ancaman terhadap kliennya.

"Namun perlu didalami lagi karena ada ancaman-ancaman sebelum kejadian. Jadi seharusnya pasal 340 pembunuhan berencana," ungkapnya.

Diketahui, Timsus Polri resmi menetapkan Bharada E atau Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu sebagai tersangka.

Bharada E ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan atas tewasnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

Bharada E dijerat Pasal 338 KUHP (pembunuhan) juncto Pasal 55 KUHP (bersekongkol) dan juncto Pasal 56 KUHP (ikut serta).

Dengan penetapan tersangka pembunuhan tersebut, kuasa hukum keluarga Brigadir J menilai bahwa tidak ada tindak pidana pelecehan seksual seperti yang dituduhkan.

Johnson menuturkan pasal yang diterapkan kepada Bharada E menandakan adanya kemungkinan tersangka lain dalam kasus kematian Brigadir J.

"Kita tunggu saja perkembangan apakah ada tersangka yang lain karena ada pasal 55 dan 56 KUHP," katanya.

Sebelumnya, Kadiv Propam Polri non-aktif Irjen Pol Ferdy Sambo menyampaikan permohonan ke institusi Polri saat memenuhi panggilan Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan, Kamis, 4 Agustus 2022 pukul 10.00 WIB.

“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf pada institusi Polri. Saya selaku ciptaan Tuhan menyampaikan permohonan maaf kepada Polri,” katanya.

Selain itu, Ferdy Sambo juga menyampaikan belasungkawa terhadap keluarga Brigadir J.

Dikatakannya, almarhum Brigadir J telah beberapa waktu terakhir bekerja sebagai ajudannya.

“Saya mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Brigadir Joshua. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Namun, semua itu terlepas dari apa yang dilakukan Brigadir J terhadap istri dan keluarga saya,” sambung dia.

Irjen Ferdy Sambo pun meminta kepada semua pihak agar bersabar dan tidak menyebarkan asumsi liar yang menyebabkan informasi di balik tragedi meninggalnya Brigadir J simpang siur.

Dia juga berharap agar diberi kekuatan dan lekas sembuh dari trauma terkait kejadian tersebut. Khususnya untuk istri dan anak-anaknya.

“Saya berdoa agar istri saya segera sembuh dari trauma dan keluarga serta anak-anak,” katanya.

Dalam kasus kematian Brigadir J, Bharada E telah ditetapkan sebagai tersangka.

Ketua Tim Penyidik Tim Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Andi Rian Djajadi menyebutkan, penembakan yang dilakukan Bharada E terhadap Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir Josua bukan untuk membela diri.

“Tadi kan saya sampaikan Pasal 338 juncto Pasal 55 dan 56 KUHP, jadi bukan bela diri,” katanya, Rabu (3/8).

Ia juga menyebutkan, Bharada E ditersangkakan atas laporan polisi dari keluarga Brigadir Josua.

Tim kuasa hukum keluarga Brigadir Josua melaporkan dugaan pembunuhan berencana dengan dugaan Pasal 340 (pembunuhan berencana) juncto 338, juncto 351 ayat (3) juncto 55 dan 56 KUHP, seperti dikutip dari Fin.co.id. (ima/rtc)

Baca Juga:

  • Terus Bertambah, Polisi yang Diamankan terkait Kasus Brigadir J di Tempat Khusus Jadi 19 Orang, Terperiksanya 63 Personel.
  • Diduga Menyimpang, Inspektorat Temukan Dugaan Penyelewengan Keuangan Desa di Kecamatan Ketanggungan Brebes.

Berita Terkait

Berita Terbaru