Edy Mulyadi Ditahan Tak Sesuai Prosedur, Polri: Penyidik Telah Sesuai Prosedur dan KUHAP

JAKARTA - Protes yang diajukan pihak kuasa hukum Edy Mulyadi, langsung direspons Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan. Protes ini berkaitan dengan penahanan Edy Mulyadi yang dianggap tak sesuai dengan prosedur KUHAP.

Oleh Ramadhan ditegaskan proses hukum terhadap Edy Mulyadi sudah sesuai aturan hukum dan tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. "Penyidik telah menjalankan tahapan penyidikan sesuai dengan prosedur dan aturan perundang-undangan (KUHAP),” kata Ramadhan, Selasa (1/2).

Sebelumnya, kuasa hukum Edy Mulyadi, Damai Hari Lubis mengatakan keberatan atas penahanan kliennya. Karenanya, pihaknya pun akan segera mengajukan permohonan penangguhan penahanan.

Edy Mulyadi sebelumnya telah ditetapkan Bareskrim Polri sebagai tersangka, Senin (31/1) lalu. Wartawan senior itu ditetapkan tersangka terkait ujarannya tentang Kalimantan sebagai tempat jin buang anak.

Dalam kasus ini, Edy dijerat dengan Pasal 45A Ayat 2 Juncto Pasal 28 Ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 Ayat 1 dan 2 dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 156 KUHP.

Penahanan Edy Mulyadi juga mendapat sorotan dan dibandingkan dengan Arteria Dahlan. Padahal, keduanya sama-sama terbelit kasus ujaran kebencian,

Hal ini seperti dikatakan pengamat komunikasi politik, Jamiluddin Ritonga. Dia menilai aparat kepolisian menyikapi kasus Edy Mulyadi dan Arteria Dahlan dengan cara berbeda.

Menurut dia dua kasus tersebut sama-sama dugaan ujaran kebencian bernada suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

"Perbedaan itu terlihat dari respons kepolisian terhadap dua kasus tersebut. Polisi terlihat begitu cepat merespons kasus Edy Mulyadi, sementara kasus Arteria Dahlan terkesan belum ditangani," ujar Jamiluddin, Selasa (1/2).

Dia menyebutkan jika untuk memeriksa anggota DPR memang membutuhkan izin presiden, seharusnya polisi menyampaikannya ke masyarakat agar dapat dipahami lambatnya penanganan proses hukum kasus Arteria Dahlan.

Menurutnya, laporan masyarakat tentang kasus Arteria Dahlan lebih dahulu masuk ke polisi daripada kasus Edy Mulyadi. Akademisi dari Universitas Esa Unggul itu juga menyebutkan respons masyarakat terhadap dua kasus itu relatif sama. (jpnn/zul)

Baca Juga:

  • Brigadir Joshua 2 Kali Bertengkar dengan Bripka RR di Magelang dan Jakarta, Sebelum Akhirnya Ditembak Mati.
  • Pistol Glock 17 untuk Tembak Mati Brigadir J Bukan Milik Bharada E, Tapi Milik Ajudan Istri Ferdy Sambo.

Berita Terkait

Berita Terbaru