Ekonomi Indonesia di Kuartal III/2020 Diprediksi Masih Minus

JAKARTA - Kontraksi minus ekonomi nasional diperkirakan berlanjut hingga kuartal III/2020. Artinya jika nanti benar, maka Indonesia masuk ke dalam jurang resesi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto memprediksi pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal III/2020 berada pada posisi minus 1,0 persen. Diketahui, pada kuartal II/2020 ekonomi Indonesia minus 5,32 persen.

"Ekonomi kita di kuartal I tahun ini menjadi sedikit negara yang masih alami ekonomi positif, kuartal II minus 5,32 persen, mulai negatif. Untuk itu, perlu pompa pertumbuhan di kuartal III," kata Airlangga dalam video daring, kemarin (12/8).

Kendati demikian, dia meyaini ekonomi nasional baru akan bangkit pada kuartal IV, yaitu dengn pertumbuhan sebesasr 1,38 persen. Ya, walaupun secara tahunan jika dirata-rata ekonomi masih minus 0,49 persen.

Tahun depan, mantan Menteri Perindustrian ini ekonomi Indonesia akan mengalami pertumbuhan yang positif. Dia memperkirakan pada kuartal I/2021 pertumbuhan ekonomi nasional positif di level 3,20 persen.

"Berbagai institusi, memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 berada di jalur hijau dan positif," ucapnya.

Terpisah, ekonom INDEF Tauhid Ahmad menilai pertumbuha ekonomi di kuartal II/2020 belum bisa tumbuh positif. Ini karena pandemi Covid-19 semakin meluas di beberapa daerah di Indonesia, bahkan belum ada tanda-tanda penurunan kasus positif baru.

"Jakarta, Jawan Timur, Jawa Barat, sumbangannya 45 persen ke PDB, ketiga daerah tersebut didominasi sektor perdagangan. Sementara sektor ini masih terhambat, maka kondisi ekonomi belum akan membaik," ujarnya.

Di sisi lain, masalah realisasi belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) pada semester I/2020 juga masih sangat rendah. Kendala lainnya, berkaitan dengan data dan informasi soal penerima bantuan sosial (bansos) dan stimulus UMKM masih belum tepat sasaran, sehingga penyaluran menjadi lambat.

Selain itu, penerimaan negara agak seret, serta kebutuhan besar dan harus menambah defisit. "Nah, ini yang memengaruhi belanja. Mungkin juga terjadi kekosongan kas di cash management kita sehingga sedikit terhambat," ujarnya.

Untuk itu, masalah ini harus menjadi perhatian. Bagaimana langkah untuk mempercepat penyerapan anggaran sehingga dapat berkontribusi menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya, regulasi yang menghambat harus dipercepat.

Sementara ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menyebutkan, terdapat tiga negara yang terancam resesi, yaitu Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Menurutnya, Malaysia dan Thailand terancam resesi karena ekonomi negaranya bergantung kepada kondisi global.

Indonesia, menurutnya memang ketergantungan perdagangan internasionalnya kecil, namun konsumsi dalam negerinya yang seharusnya menjadi tumpuan tidak berjalan karena belum bisa mengendalikan Covid-19 yang melanda.

"Perdagangan internasional Indonesia memang ketergantungannya tidak besar, dan konsumsi dalam negerinya besar, ini bisa jadi peredam. Tapi sampai sekarang penanganan virusnya belum terkendali jadi pemulihan ekonominya masih terganggu," ujarnya.

Pada kuartal II, ekonomi Indonesia sudah minus. Bila kondisi tersebut berlanjut maka tak menutup kemungkinan satu kuartal berikutnya minus lagi dan masuk jurang resesi.

"Kemudian paling tidak tiga negara ini juga sudah minus ekonominya di satu kuartal, kuartal berikutnya bisa saja minus lagi dan masuk resesi," pungkasnya. (din/zul/fin)

Baca Juga:

  • Balas Sindiran KPK, ICW: Ada Pihak yang Mengaku Pejuang Padahal Sejatinya Merupakan Musuh.
  • Bukan PKI yang Harus Ditakuti, Ferdinand Sebut Kelompok Intoleran Radikal, HTI dan ISIS yang Perlu Dilawan.

Berita Terkait

Berita Terbaru