Ekonomi Sangat Kritis, Ekonom: Indonesia Tinggal Tunggu Belas Kasihan Asing atau Bangkrut

JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan telah merontokkan nyaris hampir semua sektor bidang di Tanah Air. Kondisi ini sangat berbahaya sebab diperkirakan bisa membuat bangkrut negara Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan dalam diskusi secara virtual, kemarin (29/6). "Banyak yang bilang pandemi terkesan menyelamatkan pemerintah, tetapi sebenarnya mempercepat kebangkrutan Indonesia," ujarnya.

Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dilakukan pemerintah saat ini membutuhkan dana yang cukup besar. Bahkan, pemerintah Indonesia sampai mencari utang dari luar negeri yang tidak sedikit.

Melansir data Bank Indonesia (BI), posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada bulan April 2020 sebesar USD400,2 miliar. Posisi ULN ini tumbuh 2,9 persen secara tahunan atau (year on year/yoy), atau lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ULN pada bulan Maret 2020 yang sebesar 0,6 persen (yoy).

Karenanya, utang yang menumpuk yang dimiliki pemerintah Indonesia akan mengakibatkan ketahanan fiskal menjadi rentan. Sehingga posisi pemerintah saat ini sangat sulit. Apalagi kata dia, penerimaan negara diproyeksi akan anjlok karena pelemahan ekonomi masyarakat.

"Nah, tinggal menunggu waktu saja. Kondisi ekonomi sangat kritis, pemerintah Indonesia tinggal menunggu belas kasihan dari asing atau Indonesia akan collapse (bangkrut)," ucapnya.

Kesempatan yang berbeda, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebutkan, ekonomi nasional akan bisa terus bergerak selama masyarakat bisa memperhatikan protokol kesehatan. Dengan demikian, kegiatan ekonomi tetap produktif saat penerapan new normal diberlakukan.

"Pandemi Covid-19 membuat di seluruh dunia harus mengalami penyesuaian yang luar biasa," katanya, kemarin (30/6).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan, bahwa ada negara yang cepat tanggap dan melakukan penyesuaian dan disiplin, walaupun terdampak namun ekonominya tidak jatuh cukup dalam.

"Kalau kita rakyat Indonesia mau tetap produktif, untuk berbagai kegiatan untuk kesehatan dan perekonomian harus mengikuti protokol kesehatan yang berlaku," ucapnya.

Karenanya, menurutnya dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan, maka Indonesia bisa melakukan pemulihan ekonomi dan kesehatan secara bersamaan.

Sekadar informasi, akibat Covid-19, misalkan Cina mengalami kontraksi minus ekonomi yang luar biasa. Sementara negara maju seperti Amerika Serikat (AS) juga inus hingga 10 persen, Inggris 15 pesen, Jerman 11 persen dan Prancis 17 persen. (din/zul/fin)

Baca Juga:

  • Gali Terowongan untuk Kabur dari Sel, Buronan Asal Cina Dapatkan Alat-alat dari Proyek Pembangunan Dapur.
  • Viral, Foto Saksi Kasus Djoko Tjandra Bersama Wapres Maruf Amin Beredar Luas.

Berita Terkait

Berita Terbaru